"Tepat saat Yang Mulia melangkah ke tempat ini, Reioukyuu sudah tinggal sejarah."
Lille, sang Sternritter X melempar jubahnya, sesuatu yang mencuat di punggungnya itu adalah sebuah pistol berlaras panjang yang dia gendong. Dia menodongkan ke arah Shuutara, mata kanannya membidik lurus dan dalam sekejap kepala Shuutara sudah tertebak begitu saja, tanpa peringatan dan tanpa suara.
Dara mengucur deras kepala perempuan berparas cantik itu, kepalanya hancur, bukan hanya berlubang. Tembakan tanpa peringatan dari Lille sungguh berakibat fatal. Senjuumaru, sang Royal Guard jatuh tak berdaya tanpa nyawa. Darahnya semakin banyak mengalir dari kepalanya yang hancur.Tak ada yang bersuara, yang tersisa hanya bau mesiu dan jenazah sang Zerobantai.
"Tolol!!" Sebuah teriakan keras tertuju pada Lille. "Kenapa dibunuh di situ?!"
"Itu jalan Yang Mulia!" Teriak kembali Gerard sembari menunjuk pada mayat Senjuumaru yang belum kaku. "Cepat bersihkan!!"
"Tapi?." Lille mencoba membela diri. Tapi diapun mengerti kalau apa yang dikatakan oleh Gerad itu tak ada salahnya. Jalan bagi tuan mereka memang tak pantas bila terkotori, apalagi oleh darah shinigami. Lille-pun hanya menghela nafas pelan. "Bantu aku, Pernida"
Tanpa suara, Pernida hanya menggumankan sesuatu yang hanya dia dengar. Tapi, sedetik kemudian mayat Shuutara bergerak, berguling seakan ada seseorang yang mendorongnya. Tak hanya berguling, namun tubuh tak bernyawa itu menggulungkan dirinya sendiri, melumat tubuhnya sendiri hingga menjadi gumpalan kecil yang pada akhirnya hanya membentuk sebuah onggokan sampah kecil. Tak ada yang mengerti bagaimana Pernida melakukan ini, namun apa yang dilakukannya pada Shuutara tak lebih sama dengan apa yang dilakukannya pada para Prajurit sebelumnya.
"Membosankan." Ucap Gerard tak puas. Dia masih belum percaya kalau lawannya begitu mudah dihadapi. "Jadi ini Zerobantai?"
"Memangnya ada orang yang tidak mati dalam sekejap di hadapan kita?" Jawab Lille.
Sang Sternritter X itupun mengarahkan senapannya pada budaran-bundaran yang terbawang dibawah Istana pusat Reiou. Dalam hitungan detik, kota yang dilindungi oleh setiap Taichou Zerobantai itu langsung luluh lantah. Kekuatan peluru Lille benar-benar mematikan, dalan sekejap kota-kota milik Para Royal Guard itu tak ada ubahnya dengan sebuah rongsokan tak berharga.
"Dengan ini semua yang menghalangi sudah disingkirkan." Gumam Lille. Pemuda berkulit gelap itupun berlutut di hadapan Yhwach, seakan memohon ampun atas kelancangannya telah berbuat sesuatu yang berlebih. "Silakan lewat Yang Mulia."
Mata Yhwach memicing. Bukan, dia tidak marah pada salah satu pasukan elit-nya ini. Namun sesuatu yang tak wajar baru dia rasakan. Sama seperti Sang Tuan. Lille juga tersontak begitu merasakan sesuatu yang salah. Langit di atas mereka tiba-tiba berkibar, seakan langit itu hanyalah sebuah kepalsuan yang terbentuk dari lembaran-lembaran kain?dan memang itulah yang terjadi. Pemandangan berubah, tirai pertunjukanpun akhirnya diangkat.
"Apa-apaan?!" Teriak Lille kebingungan. "Pemandangan Reioukyuu berubah?!"
"Apa yang terjadi?!"Teriak Lille kembali. "Kita di mana?!"
"Ini adalah Reioukyuu palsu untuk menyambut kalian." Sebuah suara tak asing menjawabnya. Iya. Shuutara Senjuumaru berdiri dibalik kibaran kain yang mulai terangkat. Perempuan berparas cantik itu masih berdiri baik-baik saja. Yah, dia adalah Senjuumaru, Sang Zerobantai. Percayalah, kematiannya yang pertama tadi hanyalah sebuah lelucon untuk memberi kesenangan sesaat bagi para Quincy. Namun, tidak untuk kali ini. Matanya menatap tajam pada Lille, seakan menandakan bila dirinya sudah tak main-main lagi.
"Yang asli ada di sana, disembunyikan Oshou." Mata tajam Senjumaru melirik ke langit biru, dimana sebuah tulisan besar perlahan-lahan muncul dari udara. Sebuah tulisan kanji "tersembunyi" akhirnya nampak begitu jelas di depan Reioukyuu yang asli. Terlihat Ichibe duduk di sana, sebuah kuas lukis raksasa berada di punggungnya. Mulutnya tersenyum lebar menyaingi matanya yang sebulat tasbih di lehernya.
"Wah wah masa sudah diberitahu?" Ucap Ichibe sambil tertawa bahak. "Tapi itu artinya "Kurungan"nya sudah dibuat tepat waktu."
Lille mengabaikan mereka?para Zerobantai, agaknya dia kesal karena telah dipermainkan. Matanya mulai membidik dibalik laras panjang senapannya. Sebuah tembakan melesat begitu cepat ke arah Ichibe. Namun, peluru reishi itu membentuk sesuatu sebelum menghantam Ichibe. Sebuah batang potong besar tubuh dengan begitu cepat, menjadi penghalang antara para Quincy dan shinigami. Ah, tidak, lebih tepatnya batang-batang pohon besar itu mengurung para Quincy laiknya sangkar anak burung.
"Ya ya Sudah kubuat." Terdengar suara Kirio dengan sosok gendutnya terselip di batang pohon yang sama bengkak dengan tubuh perempuan berambut ungu itu. "Sudah lama sekali sejak aku terakhir membuat kurungan, repot sekali."
Berbeda dengan Lille yang naik pitam, Askin malah santai-santai saja sembari bersiul-siul. "Apa-apaan ini?"
"Jebakan yang aneh!" Gerard ikut berkomentar.
Lille kembali membidik dengan senapan panjangnya. Satu, dua, tiga, hingga beberapa peluru dia lesatkan untuk menghancurkan kurungan. Namun, sayang sekali tak membuahkan hasil.
"Ditembak di titik yang sama tidak hancur. Kalau ditembak di sela-sela, batangnya mencoba menutupi." Lille memberi tahu.
Gerard spontan tertawa terbahak-bahak. "Memalukan buat orang sepertimu yang katanya bisa menembak menembus apa pun, Rige!"
"Itu tembus kok!" Celetuk Kirio dari atas batang pohon. "Mengolah makanan sama seperti mengolah kehidupan. Aku memasak untuk menciptakan kehidupan dan aku membuat bahan-bahannya dalam tubuhku!"
"Pohon ini berbuah setelah menerima reiatsu-ku." Kirio menunjukkan bagaimana pohon kecil di telapak tangan Kirio tubuh dengan begitu cepat. "Sementara pelurumu terbuat dari konsentrasi reiatsu yang pekat. Pohon kehidupan ini jelas gak bakal mau melewatkan hal selezat itu, makin ditembak, makin cepat tumbuh?"
"?Silakan menggila, kalian gak bakal bisa keluar dari "Jeruji Kehidupan"."
Belum sempat Lille menodongkan senapannya ke arah Kirio. Suara lain menghampiri mereka. Ya, salah seorang Zerobantai yang lain menghampiri mereka, Nimaiya Oetsu.
"Yoooooooo Ai amu nanbaa wan zanpakutou kurieiraa," Teriak Nimaiya.
Laki-laki yang memakai Rompi itu membawa sebuah balok berisi air dan juga sebuah bilah pedang, Zanpakutounya. Para Sternritter teralihkan perhatiannya pada laki-laki tak gemuk itu.
"Juu.. Kyuu.. Hachi.. Nana.. Roku.. Go Mai.." Nimaiya kembali berteriak. "Shi-mai ni San-mai.. Nii-Maiya Oh-Etsu!!"
Ouetsu mengambil zanpakutou yang tenggelam dalam cairan bening pekat itu. Menghunuskan bilah tajam ke arah para Quincy di hadapannya.
Lille, sang Sternritter X melempar jubahnya, sesuatu yang mencuat di punggungnya itu adalah sebuah pistol berlaras panjang yang dia gendong. Dia menodongkan ke arah Shuutara, mata kanannya membidik lurus dan dalam sekejap kepala Shuutara sudah tertebak begitu saja, tanpa peringatan dan tanpa suara.
Dara mengucur deras kepala perempuan berparas cantik itu, kepalanya hancur, bukan hanya berlubang. Tembakan tanpa peringatan dari Lille sungguh berakibat fatal. Senjuumaru, sang Royal Guard jatuh tak berdaya tanpa nyawa. Darahnya semakin banyak mengalir dari kepalanya yang hancur.Tak ada yang bersuara, yang tersisa hanya bau mesiu dan jenazah sang Zerobantai.
"Tolol!!" Sebuah teriakan keras tertuju pada Lille. "Kenapa dibunuh di situ?!"
"Itu jalan Yang Mulia!" Teriak kembali Gerard sembari menunjuk pada mayat Senjuumaru yang belum kaku. "Cepat bersihkan!!"
"Tapi?." Lille mencoba membela diri. Tapi diapun mengerti kalau apa yang dikatakan oleh Gerad itu tak ada salahnya. Jalan bagi tuan mereka memang tak pantas bila terkotori, apalagi oleh darah shinigami. Lille-pun hanya menghela nafas pelan. "Bantu aku, Pernida"
Tanpa suara, Pernida hanya menggumankan sesuatu yang hanya dia dengar. Tapi, sedetik kemudian mayat Shuutara bergerak, berguling seakan ada seseorang yang mendorongnya. Tak hanya berguling, namun tubuh tak bernyawa itu menggulungkan dirinya sendiri, melumat tubuhnya sendiri hingga menjadi gumpalan kecil yang pada akhirnya hanya membentuk sebuah onggokan sampah kecil. Tak ada yang mengerti bagaimana Pernida melakukan ini, namun apa yang dilakukannya pada Shuutara tak lebih sama dengan apa yang dilakukannya pada para Prajurit sebelumnya.
"Membosankan." Ucap Gerard tak puas. Dia masih belum percaya kalau lawannya begitu mudah dihadapi. "Jadi ini Zerobantai?"
"Memangnya ada orang yang tidak mati dalam sekejap di hadapan kita?" Jawab Lille.
Sang Sternritter X itupun mengarahkan senapannya pada budaran-bundaran yang terbawang dibawah Istana pusat Reiou. Dalam hitungan detik, kota yang dilindungi oleh setiap Taichou Zerobantai itu langsung luluh lantah. Kekuatan peluru Lille benar-benar mematikan, dalan sekejap kota-kota milik Para Royal Guard itu tak ada ubahnya dengan sebuah rongsokan tak berharga.
"Dengan ini semua yang menghalangi sudah disingkirkan." Gumam Lille. Pemuda berkulit gelap itupun berlutut di hadapan Yhwach, seakan memohon ampun atas kelancangannya telah berbuat sesuatu yang berlebih. "Silakan lewat Yang Mulia."
Mata Yhwach memicing. Bukan, dia tidak marah pada salah satu pasukan elit-nya ini. Namun sesuatu yang tak wajar baru dia rasakan. Sama seperti Sang Tuan. Lille juga tersontak begitu merasakan sesuatu yang salah. Langit di atas mereka tiba-tiba berkibar, seakan langit itu hanyalah sebuah kepalsuan yang terbentuk dari lembaran-lembaran kain?dan memang itulah yang terjadi. Pemandangan berubah, tirai pertunjukanpun akhirnya diangkat.
"Apa-apaan?!" Teriak Lille kebingungan. "Pemandangan Reioukyuu berubah?!"
"Apa yang terjadi?!"Teriak Lille kembali. "Kita di mana?!"
"Ini adalah Reioukyuu palsu untuk menyambut kalian." Sebuah suara tak asing menjawabnya. Iya. Shuutara Senjuumaru berdiri dibalik kibaran kain yang mulai terangkat. Perempuan berparas cantik itu masih berdiri baik-baik saja. Yah, dia adalah Senjuumaru, Sang Zerobantai. Percayalah, kematiannya yang pertama tadi hanyalah sebuah lelucon untuk memberi kesenangan sesaat bagi para Quincy. Namun, tidak untuk kali ini. Matanya menatap tajam pada Lille, seakan menandakan bila dirinya sudah tak main-main lagi.
"Yang asli ada di sana, disembunyikan Oshou." Mata tajam Senjumaru melirik ke langit biru, dimana sebuah tulisan besar perlahan-lahan muncul dari udara. Sebuah tulisan kanji "tersembunyi" akhirnya nampak begitu jelas di depan Reioukyuu yang asli. Terlihat Ichibe duduk di sana, sebuah kuas lukis raksasa berada di punggungnya. Mulutnya tersenyum lebar menyaingi matanya yang sebulat tasbih di lehernya.
"Wah wah masa sudah diberitahu?" Ucap Ichibe sambil tertawa bahak. "Tapi itu artinya "Kurungan"nya sudah dibuat tepat waktu."
Lille mengabaikan mereka?para Zerobantai, agaknya dia kesal karena telah dipermainkan. Matanya mulai membidik dibalik laras panjang senapannya. Sebuah tembakan melesat begitu cepat ke arah Ichibe. Namun, peluru reishi itu membentuk sesuatu sebelum menghantam Ichibe. Sebuah batang potong besar tubuh dengan begitu cepat, menjadi penghalang antara para Quincy dan shinigami. Ah, tidak, lebih tepatnya batang-batang pohon besar itu mengurung para Quincy laiknya sangkar anak burung.
"Ya ya Sudah kubuat." Terdengar suara Kirio dengan sosok gendutnya terselip di batang pohon yang sama bengkak dengan tubuh perempuan berambut ungu itu. "Sudah lama sekali sejak aku terakhir membuat kurungan, repot sekali."
Berbeda dengan Lille yang naik pitam, Askin malah santai-santai saja sembari bersiul-siul. "Apa-apaan ini?"
"Jebakan yang aneh!" Gerard ikut berkomentar.
Lille kembali membidik dengan senapan panjangnya. Satu, dua, tiga, hingga beberapa peluru dia lesatkan untuk menghancurkan kurungan. Namun, sayang sekali tak membuahkan hasil.
"Ditembak di titik yang sama tidak hancur. Kalau ditembak di sela-sela, batangnya mencoba menutupi." Lille memberi tahu.
Gerard spontan tertawa terbahak-bahak. "Memalukan buat orang sepertimu yang katanya bisa menembak menembus apa pun, Rige!"
"Itu tembus kok!" Celetuk Kirio dari atas batang pohon. "Mengolah makanan sama seperti mengolah kehidupan. Aku memasak untuk menciptakan kehidupan dan aku membuat bahan-bahannya dalam tubuhku!"
"Pohon ini berbuah setelah menerima reiatsu-ku." Kirio menunjukkan bagaimana pohon kecil di telapak tangan Kirio tubuh dengan begitu cepat. "Sementara pelurumu terbuat dari konsentrasi reiatsu yang pekat. Pohon kehidupan ini jelas gak bakal mau melewatkan hal selezat itu, makin ditembak, makin cepat tumbuh?"
"?Silakan menggila, kalian gak bakal bisa keluar dari "Jeruji Kehidupan"."
Belum sempat Lille menodongkan senapannya ke arah Kirio. Suara lain menghampiri mereka. Ya, salah seorang Zerobantai yang lain menghampiri mereka, Nimaiya Oetsu.
"Yoooooooo Ai amu nanbaa wan zanpakutou kurieiraa," Teriak Nimaiya.
Laki-laki yang memakai Rompi itu membawa sebuah balok berisi air dan juga sebuah bilah pedang, Zanpakutounya. Para Sternritter teralihkan perhatiannya pada laki-laki tak gemuk itu.
"Juu.. Kyuu.. Hachi.. Nana.. Roku.. Go Mai.." Nimaiya kembali berteriak. "Shi-mai ni San-mai.. Nii-Maiya Oh-Etsu!!"
Ouetsu mengambil zanpakutou yang tenggelam dalam cairan bening pekat itu. Menghunuskan bilah tajam ke arah para Quincy di hadapannya.
"Kelas teri gak bisa lewat, maju semuanya sekalian, perlawanan Zerobantai baru dimulai." Tantang Nimaiya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar