Jeruji Kehidupan, itulah sebutan yang paling pantas untuk penjara yang
disediakan oleh Kirio untuk para penyusup. Sebuah perlawanan yang pantas
untuk menghentikan langkah para Quincy untuk lebih dekat menginjakkan
kakinya pada Istana ssang Raja para shinigami.
Tak hanya sebuah penjara, namun Nimaiya Ouetsu juga telah turun tangan. Penjara itu kini menjadi arena pertempurannya. Bukanlah sebuah kesombongan bila Niimaiya menantang mereka sekaligus, tentu saja dia tahu takaran kekuatannya memang pantas untuk disandingkan dengan semua Quincy yang ada di sana. Dewa Zanpakutou bukanlah julukan yang turun dari langit begitu saja, semuanya sudah tahu hal itu, tentunya.
?Kelas teri gak bisa lewat, maju semuanya sekalian, perlawanan Zerobantai baru dimulai.? Tantang Nimaiya. Tangannya sudah menghunuskan pedang tempaannyan sendiri ke arah para Sternritter di depannya. Ayolah, tak perlu diulangi kalau Niimaiya memang serius menghadapi mereka sendirian,
Tak hanya sebuah penjara, namun Nimaiya Ouetsu juga telah turun tangan. Penjara itu kini menjadi arena pertempurannya. Bukanlah sebuah kesombongan bila Niimaiya menantang mereka sekaligus, tentu saja dia tahu takaran kekuatannya memang pantas untuk disandingkan dengan semua Quincy yang ada di sana. Dewa Zanpakutou bukanlah julukan yang turun dari langit begitu saja, semuanya sudah tahu hal itu, tentunya.
?Kelas teri gak bisa lewat, maju semuanya sekalian, perlawanan Zerobantai baru dimulai.? Tantang Nimaiya. Tangannya sudah menghunuskan pedang tempaannyan sendiri ke arah para Sternritter di depannya. Ayolah, tak perlu diulangi kalau Niimaiya memang serius menghadapi mereka sendirian,
Bisa ditebak siapa yang akan melesat pertama ke arah Niimaiya. Siapa
lagi bila bukan The Miracle, Gerrard Thorritter. Wataknya yang selalu
meledak-ledak dapat dengan mudah mendidihkan darah kepalanya saat sang
Zerobantai meremehkannya.
?Jangan banyak ngomong, maju semuanya sekalian!?. Niimaiya kembali menyulut emosi mereka.
Gerard yang sudah tak tahan langsung memijakkan kakinya, mengambil kuda-kuda untuk melakukan langkah kilat, dan melesat lurus ke arah Niimaiya dengan ayunan keras.
?Oh?? Gumam Niimaiya, tubuh kurusnya menunduk ke arah belakang. Ayunan pedang Gerard melewati atas tubuhnya begitu saja. Oh, tak ada jaminan bila tubuh Niimaiya akan terbelah bila tak berhasil menghindari serangan itu. Kekuatan Sang ?Keajaiban? itu sunggung luar biasa, pohon-pohon yang berada di belakang Niimaiya langsung remuk saat menerima daya serang pedang Gerard.
?Apa karena udah lama gak dipakai ujungnya jadi nggak stabil.? Gumam Niimaiya saat dia menyadari kalau dirinya kurang bisa mengendalikan bilah pedangnya.
?Boleh juga menghindarnya!? Teriak Gerard terlalu senang mendapatkan lawan yang cukup kuat.
?Wajar kan menghindar dari pelukan bro?? Ucap Niimaiya.
?Oh gitu ya, kalau begitu sekarang...? Gerard menarik pedangnya, mengubah ayunannya ke arah vertikal. Namun, belum selesai dengan semua serangannya, Niimaiya tiba-tiba sudah berada di hadapan Gerard.
?Giliranku, bro.? Gumam Niimaiya pelan.
Seketika itu, pemuda berotot itu langsung terkapar menghantam tanah. Gerakan Niimaiya begitu cepat, sangat cepat bahkan untuk penglihatan para Sternritter. Tak ada yang melihat bagaimana Niimaiya memukul roboh Gerard, tak ada yang melihat bagaimana Niimaiya menebas tubuh Gerard. Yang jelas Sternritter M itu kini mengucurkan darah segar dengan begitu deras.
?Jangan bercanda...? Gumam Askin, sedikit tertekan.
?Kalian gak tau siapa namaku?? Teriak Niimaiya. ??Juu? Kyuu? Hachi? Nana? Roku? Go Mai? Shi-mai ni San-mai? Nii-Maiya Oh-Etsu!!??
??Anggota Zerobantai paling jago.?
Mata Niimaiya menatap serius walaupun tingkah tak menunjukkan begitu.
?Pedangku sekali ayun, sekali bunuh, yo? Ucapan Niimaiya terdengar seperti sebuah ancaman.
?Kau punya teknik yang lumayan aneh.? Ucap Lille, Sang Sternitter X.
?Maksudnya apa, bro??
?Barusan cuma tipuan murahan, siapapun bisa lihat dengan jelas.? Ucap Lille. ?Dengan melumurkan pedangmu dengan cairan kenyal itu, pedangnya akan bergoyang karena tambahan berat, mustahil Gerard tewas hanya dengan tebasan seperti itu.?
Sama seperti sebelumnya, Sternritter X itu langsung meluncurkan sebuah serangan tanpa aba-aba sedikitpun. Peluru reishi yang dia tembakkan melesat lurus ke arah Niimaiya. Ledakan besar terdengar. Namun, ada sesuatu yang aneh. Sang Zerobantai itu masih berdiri tegak dengan pedang masih dalam genggamannya. Suara ledakan tadi terdengar dari pohon di belakang Niimaiya.
?Apa yang... kau lakukan barusan?? Entah sudah berapa kali Lille telah kaget hari ini. Namun, sepertinya ini yang paling parah. Baru kali ini ada seseorang yang dapat menghalau tembakannya.
?Gak ada.? Jawab Niimaiya jujur. ?Tapi kalau pakai kuda-kuda ini eeluru-tepat-sasaran-mu gak mempan, bro??
??bakal terbelah dua sendiri?
?Cih!? Sternritter berkulit hitam itu mengumpat sembari menghujani Niimaiya dengan peluru reishinya. Sayang sekali, pelurunya dapat dengan mudah dibelah begitu saja oleh Niimaiya. Dan seperti saat melawan Gerard, langkah kilat Niimaiya langsung membawanya dihadapan Lille. Sesuai janjinya, sekali ayun sekali bunuh. Tubuh Lille sudah terkapar dengan luka tebas diaginal di dadanya. Darahnya tak kalah banyak dari milik Gerrad yang membanjiri tanah.
Terdiam, semuanya terdiam seakan mulut mereka kaku.
?Ru... Ruaa....? Pernida, sang Sternritter C lebih cepat bangkit dari kebekuannya. Namun, sebelum Sternritter bertudung misterius itu melanjutkan mantra-nya. Pedang Niimaiya sudah menacap di kepalanya. Roboh, sudah tiga Elit Loyal Sternritter yang ditaklukan. Hanya tersisa Askin seorang.
Tapi Niimaiya tak mau membuang waktunya begitu saja. Bahkan sebelum Askin menolehkan kepalanya ke arah Pernida yang sudah roboh, Niimaiya sudah berada di sampingnya, mencabut pedangnya dari wajah Pernida dan menebas leher Askin begitu saja. Askin terlempar ke belakang, Sternritter D ini dapat menghindari jangkauan pedang Niimaiya.
?Lumayan yo!? Gumam Niimaiya sambil tersenyum. ?Gerak ke belakang, ngarep punya harapan, tapi bro harus tahu, gerakku lebih dulu...?
Niimaiya bershunpo tepat di hadapan Askin. Tebasannya tak terhindar, darah kembali membanjiri medan pertempuran. Usai sudah, Niimaiya bagaikan tukang daging yang dengan mudahnya mencincang mereka tanpa perlawanan berarti.
?Sayabuse sebenarnya produk gagal.? Ucap Niimaiya pelan. ?Bilahnya terlalu tajam walau lentur, darah gak membekas karena terlalu licin, pedang begini bikin penempa mana pun bakal bangkrut. Apalagi gak ada sarung pedang yang cocok. Ini gak pantas disebut "pedang" karena gak sesuai standar dan aku tak mungkin menciptakan pedang secaman di Seireite.?
?Tapi syukur deh, karena kalian masuk ke Reiou akhirnya pedang ini bisa mengguncang dunia.? Niimaiya tersenyum. Semuanya karena kau, Yuha!*.
Sebuah pancaran Reiatsu tiba-tiba terasa begitu berat di sekitar Niimaiya. Dia sudah yakin kalau sudah merobohkan semuanya. Namun, kali ini berada diluar dugaannya bila Sternritter yang roboh dapat bangkait dengan reiatsu mengejutkan seperti itu.
?Belum selesai...? Ucap Askin kesakitan. ?Serangan segini saja gak cukup buat membunuhku...?
?Apaan itu, bro?? Niimaiya kembali mendapatkan kendali dirinya.
Darah yang mengucur dari kepala Askin perlahan berhenti. Luka di wajahnya juga menutup, membentuk kembali wajahnya seperti sediakala. Laki-laki itu kembali sembuh.
?Yang Mulia merekrutku karena aku belum mati waktu dia menemukanku...? Ucap Askin. ?Kemampuan yang payah, 'kan. Aku sangat benci, tiap kali kupikirkan rasanya seperti sudah mau dijemput ajal.?a
?Jangan banyak ngomong, maju semuanya sekalian!?. Niimaiya kembali menyulut emosi mereka.
Gerard yang sudah tak tahan langsung memijakkan kakinya, mengambil kuda-kuda untuk melakukan langkah kilat, dan melesat lurus ke arah Niimaiya dengan ayunan keras.
?Oh?? Gumam Niimaiya, tubuh kurusnya menunduk ke arah belakang. Ayunan pedang Gerard melewati atas tubuhnya begitu saja. Oh, tak ada jaminan bila tubuh Niimaiya akan terbelah bila tak berhasil menghindari serangan itu. Kekuatan Sang ?Keajaiban? itu sunggung luar biasa, pohon-pohon yang berada di belakang Niimaiya langsung remuk saat menerima daya serang pedang Gerard.
?Apa karena udah lama gak dipakai ujungnya jadi nggak stabil.? Gumam Niimaiya saat dia menyadari kalau dirinya kurang bisa mengendalikan bilah pedangnya.
?Boleh juga menghindarnya!? Teriak Gerard terlalu senang mendapatkan lawan yang cukup kuat.
?Wajar kan menghindar dari pelukan bro?? Ucap Niimaiya.
?Oh gitu ya, kalau begitu sekarang...? Gerard menarik pedangnya, mengubah ayunannya ke arah vertikal. Namun, belum selesai dengan semua serangannya, Niimaiya tiba-tiba sudah berada di hadapan Gerard.
?Giliranku, bro.? Gumam Niimaiya pelan.
Seketika itu, pemuda berotot itu langsung terkapar menghantam tanah. Gerakan Niimaiya begitu cepat, sangat cepat bahkan untuk penglihatan para Sternritter. Tak ada yang melihat bagaimana Niimaiya memukul roboh Gerard, tak ada yang melihat bagaimana Niimaiya menebas tubuh Gerard. Yang jelas Sternritter M itu kini mengucurkan darah segar dengan begitu deras.
?Jangan bercanda...? Gumam Askin, sedikit tertekan.
?Kalian gak tau siapa namaku?? Teriak Niimaiya. ??Juu? Kyuu? Hachi? Nana? Roku? Go Mai? Shi-mai ni San-mai? Nii-Maiya Oh-Etsu!!??
??Anggota Zerobantai paling jago.?
Mata Niimaiya menatap serius walaupun tingkah tak menunjukkan begitu.
?Pedangku sekali ayun, sekali bunuh, yo? Ucapan Niimaiya terdengar seperti sebuah ancaman.
?Kau punya teknik yang lumayan aneh.? Ucap Lille, Sang Sternitter X.
?Maksudnya apa, bro??
?Barusan cuma tipuan murahan, siapapun bisa lihat dengan jelas.? Ucap Lille. ?Dengan melumurkan pedangmu dengan cairan kenyal itu, pedangnya akan bergoyang karena tambahan berat, mustahil Gerard tewas hanya dengan tebasan seperti itu.?
Sama seperti sebelumnya, Sternritter X itu langsung meluncurkan sebuah serangan tanpa aba-aba sedikitpun. Peluru reishi yang dia tembakkan melesat lurus ke arah Niimaiya. Ledakan besar terdengar. Namun, ada sesuatu yang aneh. Sang Zerobantai itu masih berdiri tegak dengan pedang masih dalam genggamannya. Suara ledakan tadi terdengar dari pohon di belakang Niimaiya.
?Apa yang... kau lakukan barusan?? Entah sudah berapa kali Lille telah kaget hari ini. Namun, sepertinya ini yang paling parah. Baru kali ini ada seseorang yang dapat menghalau tembakannya.
?Gak ada.? Jawab Niimaiya jujur. ?Tapi kalau pakai kuda-kuda ini eeluru-tepat-sasaran-mu gak mempan, bro??
??bakal terbelah dua sendiri?
?Cih!? Sternritter berkulit hitam itu mengumpat sembari menghujani Niimaiya dengan peluru reishinya. Sayang sekali, pelurunya dapat dengan mudah dibelah begitu saja oleh Niimaiya. Dan seperti saat melawan Gerard, langkah kilat Niimaiya langsung membawanya dihadapan Lille. Sesuai janjinya, sekali ayun sekali bunuh. Tubuh Lille sudah terkapar dengan luka tebas diaginal di dadanya. Darahnya tak kalah banyak dari milik Gerrad yang membanjiri tanah.
Terdiam, semuanya terdiam seakan mulut mereka kaku.
?Ru... Ruaa....? Pernida, sang Sternritter C lebih cepat bangkit dari kebekuannya. Namun, sebelum Sternritter bertudung misterius itu melanjutkan mantra-nya. Pedang Niimaiya sudah menacap di kepalanya. Roboh, sudah tiga Elit Loyal Sternritter yang ditaklukan. Hanya tersisa Askin seorang.
Tapi Niimaiya tak mau membuang waktunya begitu saja. Bahkan sebelum Askin menolehkan kepalanya ke arah Pernida yang sudah roboh, Niimaiya sudah berada di sampingnya, mencabut pedangnya dari wajah Pernida dan menebas leher Askin begitu saja. Askin terlempar ke belakang, Sternritter D ini dapat menghindari jangkauan pedang Niimaiya.
?Lumayan yo!? Gumam Niimaiya sambil tersenyum. ?Gerak ke belakang, ngarep punya harapan, tapi bro harus tahu, gerakku lebih dulu...?
Niimaiya bershunpo tepat di hadapan Askin. Tebasannya tak terhindar, darah kembali membanjiri medan pertempuran. Usai sudah, Niimaiya bagaikan tukang daging yang dengan mudahnya mencincang mereka tanpa perlawanan berarti.
?Sayabuse sebenarnya produk gagal.? Ucap Niimaiya pelan. ?Bilahnya terlalu tajam walau lentur, darah gak membekas karena terlalu licin, pedang begini bikin penempa mana pun bakal bangkrut. Apalagi gak ada sarung pedang yang cocok. Ini gak pantas disebut "pedang" karena gak sesuai standar dan aku tak mungkin menciptakan pedang secaman di Seireite.?
?Tapi syukur deh, karena kalian masuk ke Reiou akhirnya pedang ini bisa mengguncang dunia.? Niimaiya tersenyum. Semuanya karena kau, Yuha!*.
Sebuah pancaran Reiatsu tiba-tiba terasa begitu berat di sekitar Niimaiya. Dia sudah yakin kalau sudah merobohkan semuanya. Namun, kali ini berada diluar dugaannya bila Sternritter yang roboh dapat bangkait dengan reiatsu mengejutkan seperti itu.
?Belum selesai...? Ucap Askin kesakitan. ?Serangan segini saja gak cukup buat membunuhku...?
?Apaan itu, bro?? Niimaiya kembali mendapatkan kendali dirinya.
Darah yang mengucur dari kepala Askin perlahan berhenti. Luka di wajahnya juga menutup, membentuk kembali wajahnya seperti sediakala. Laki-laki itu kembali sembuh.
?Yang Mulia merekrutku karena aku belum mati waktu dia menemukanku...? Ucap Askin. ?Kemampuan yang payah, 'kan. Aku sangat benci, tiap kali kupikirkan rasanya seperti sudah mau dijemput ajal.?a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar