Yhwach melangkah maju. Sosok terkuat itupun mulai terusik, tangannya
yang sedari tadi diam mulai memancarkan reishi, reiatsu yang sedari tadi
dia redam mulai meningkat dengan perlahan, mata yang sedari tadi hanya
menyaksikan para anak buahnya kini semakin menyipit tajam memandang para
musuhnya. Namun, mulutnya masih sama seperti sebelumnya, begitu kaku
tak berekspresi dibalik kumis tebalnya.
"Majulah!!!" Teriak Niimaiya mencoba mengancam.
Namun, walaupun dia telah mengikutkan segala keberanian dalam teriakannya. Hatinya tak begitu menyatu dengan ancamannya, sebagian kecil hatinya masih terlihat begitu ragu hingga membuat kakinya sedikit gemetar tak yakin untuk bergerak.
"Apa dia yang bakal maju duluan? atau aku yang bergerak?" Hatinya berbisik. "Aku cuma bisa pelajari jurus-jurusnya dari pertarungannya lawan Genryuusai seribu tahun lalu dan dari pertarungan tiruannya di pertempuran kedua waktu lalu."
"Majulah!!!" Teriak Niimaiya mencoba mengancam.
Namun, walaupun dia telah mengikutkan segala keberanian dalam teriakannya. Hatinya tak begitu menyatu dengan ancamannya, sebagian kecil hatinya masih terlihat begitu ragu hingga membuat kakinya sedikit gemetar tak yakin untuk bergerak.
"Apa dia yang bakal maju duluan? atau aku yang bergerak?" Hatinya berbisik. "Aku cuma bisa pelajari jurus-jurusnya dari pertarungannya lawan Genryuusai seribu tahun lalu dan dari pertarungan tiruannya di pertempuran kedua waktu lalu."
Mata Niimaiya masih fakus pada lawannya, tak membiarkan sedikit
celah baginya untuk di serang. Pandangan matanya sedikit tersita dengan
tangan Yhwach yang memancarkan cahaya redup?semakin terang.
"Gak tahu dia bakal ngapain tapi rasanya dia gak bakal bisa kutebas sekali ayun." Cahaya di tangan Yhwach semakin terang, mata Niimaiya semakin tak beralih dari pandangannya. "Jadi bakal kumulai dari tangannya, baru yang lainnya!"
Kaki Niimaiya mencoba mengumpulkan reishi untuk berpijak, dia berniat untuk bershunpo mendekati pria berkumis itu. Namun, sebelum kakinya beranjak dari lantai kayu dibawahnya, cahaya terang menyilaukan mata Niimaiya, kacamata hitam yang dia pakai seakan tiada guna menghalau silau cahaya putih dari sang raja Quincy.
Tepat di bawah pertempuran itu, ratusan?atau mungkin ribuan kilometer dibawah Reioukyuu, pertempuran yang lain juga masih belum selesai. Sang Gadis(?) Zombie yang sebelumnya melawan Mayuri masih belum menemukan ajalnya. Sebut saja Giselle Gewelle itu bangkit kembali dari kematiannya. Terdengar Bambietta mengerang kesakitan di hadapan Gigi. Kedua gadis ini ternyata masih dapat bertahan dari pasukan mayat hidup Mayuri.
Wajah keduanya babak belur, lebih wajah Banbietta yang sudah sedikit bergeser dari kata cantik. Namun, perlahan wajah Gigi yang terlihat kotor dan lusuh itu berubah menjadi bersih kembali. Mulutnya tak henti-henti mengunyah, menenggak cairan merah.
"Haah Mmh Nnghh Nggh." Geram Gigi tak sabar karena puas, mulutnya tak lepas dari perut Bambietta. Ya, taring perempuan itu sedang menelan langsung darah segar dari tubuh Bambietta.
"Tunggu?"
Ucap Bambietta ketakutan, mulutnya tak berani untuk berteriak.Namun, dia juga tak bisa menahan kesakitannya terus menerus.
"Jangan ambil terlalu banyak darah," Ucap Bambietta ketakutan. "Aku belum mau mati."
"Ngomong apaan sih?!" Jawab Gigi. Tangannya langsung meraih wajah Bambietta, meremas dan membenturkannya ke batu di belakang. "Kau udah mati! Udah kubilang.. udah kubilang berkali-kali!"
Tangan Gigi tak berhenti hanya sekali membenturkan kepala Bambietta.
"Harus berapa kali kuulang?! Berapa kali baru kau ngerti?! Diam dong, dengar!" Teriak Gigi sambil membenturkan kepala Bambietta "Kembalikan darahku!!"
Tak ada jawaban dari Bambietta. Bukan karena perintah dari Gigi, namun bagian belakang kepala perempuan berambut panjang itu telah hancur karena terbentur batu. Melihat Bambietta tak bergerak, Gigi sedikit menyadari kalau dirinya terlalu berlebihan.
"Bambi-chan kamu imuut bangeeet!" Gumam gigi pelan. "Imuut! bahkan walaupun udah mati!"
Tanpa sadar sayap berbentuk tulang di punggung Gigi muncul . Yah, entah alasan apa hingga dia melakukan Volstaendig dalam keadaan seperti ini. Tangan kecilnya meraih tubuh Bambietta memeluknya erat-erat.
"Aku suka kamu!!" Ucap Gigi. "Suka banget, suka, suka!!"
"Ketemu juga." Sebuah suara menyapa mereka. "Sudah kuduga... kamu belum mati, ya."
Liltotto Lamperd memiringkan kepalanya untuk melihat dengan jelas Gigi yang berada dibawah runtuhan batu. Quincy bertubuh anak kecil iru masih dalam mode sisa-sisa Volstaendignya.
"Oh jelas." Jawab Gigi agak sombong. Tangannya melepaskan pelukannya dan keluar menghampiri Lilly. "Tapi kenapa mukamu? Hancur banget, kau kalah?"
"Gara-gara si Pepe." Jawab Lili tak suka.
"Wow, payah banget deh." Ejek Gigi
"Berisik."
"Jadi gimana Pepe?"
"Udah kubunuh."
Lilly menjawabnya seakan sudah hal yang biasa dalam kelompoknya saling membunuh satu sama lain.
"Rasanya menjijikan." Lilly menambahkan, seakan dia baru saja memakan nasi basi sisa tiga hari lalu.
"Minnie dan Candy gimana?" Tanya Gigi kembali.
"Candice kalah." Jawab Lilly. "Dan Minnie dikendalikan Pepe, jadi dia kuhabisi. Harusnya belum mati sih. Sekarang kita masih lebih kuat, tapi tanpa mereka bakal lebih susah."
Namun, sebelum Gigi menanyakan sesuatu yang lain. Sebuah ujung pistol telah menempel di kepala Lilly.
"Ada apa ini, Accutrone?" Tanya Lilly dengan pandangan tak suka.
Robert Accutrone tak langsung menjawab. Pria berkacamata yang sempat membuat mata Kyoraku buta itu hanya memandang sedu Lilly.
"Apa kau sadar Yang Mulia sudah naik ke Reioukyuu?" Tanya Robert pelan.
"Kubilang tadi ada apaan..." Teriak Lilly.
"Beliau tidak membawa kita." Potong Robert.
"Iya ya. Kenapa memangnya?" Gumam Lilly. "Kita bertarung di sini sampai Yang Mulia kembali."
"Kau belum paham...?" Tanya Robert.
"Apa kau gak paham?!??" Kali ini pria tua itu berteriak. "Kita sudah habis?"
"?Kita sudah dianggap "tidak penting" untuk pertempuran mendatang!!"
"Kau... ngomong apa..." Ucap Lilly sedikit ketakutan.
"Orang baru sepertimu tidak bisa paham betapa menakutkannya Yang Mulia!!" Robert kembali berteriak. "Strenritter ada demi Yang Mulia, Yang Mulia benci kebohongan. Jadi Beliau tidak bohong sedikit pun tentang keberadaan kita. Strenritter yang dianggap tidak penting akan jadi umpan bagi Auswaehlen Yang Mulia!!"
Belum selesai dengan semua ucapannya, tiba-tiba cahaya turun menukik menyambar Robert. Seketika pria tua itu langsung lenyap. Tubuhnya hanya tersisa tulang belulang dalam hitungan detik. Cahaya lainnya menyusul, menukik ke arah Lilly dan Gigi. Namun, Gigi sedikit lebih gesit hingga dia dapat menghindar, melompat ke arah bawah reruntuhan bersama dengan Gigi.
Tapi, dia tak dapat selamat seutuhnya?
"Brengsek..." Geram lilly.
Sayap Volstaendignya juga perlahan menghilang dari punggung perempuan kecil itu.
"Sayapku..." Dia masih geram. "Walau gak kena cahaya itu, kemampuan kita masih diambil?!"
"?Apa-apaan... Apa maksudnya ini... Yang Mulia... Apa-apaan..."
Sayangnya, bukan hanya Robert, Gigi dan Lilly yang menerima cahaya penghapusan itu. Nanana, Candice, semua Sternritter sekarang dalam menghapusan, termasuk Bazz-B yang sedang dalam pertarungan dengan Renji.
"?Apa artinya kami bagi Anda?!!" Teria Lilly.
Cahaya-cahaya yang membawa kekuatan semua Sternritter di Soul Society itu kembali melesat ke angkasa. Kembali lagi ke tangan sang pemilik, Yhwach. Tak ada yang berubah dengan penampilan Yhwach memang, tapi lain cerita dengan para Quincy yang berada di sekelilingnya.
Gerard, Pernida, Lille, dan Askin bangkit dari ketidak berdayaannya. Reiatsunya semakin meluap, sayap-sayap dipunggung mereka mengepak perlahan. Ya, mereka bangun dari kematian singkatnya dalam keadaan Volstaendig.
"Sahabat-sahabatku." Gumam Yhwach pelan. "Kita adalah sahabat, kita saling membantu, bangkitlah kembali, majulah."
Matanya jatam membalas tatapan Niimaiya.
"Zerobantai, sekarang mari kita mulai."
"Gak tahu dia bakal ngapain tapi rasanya dia gak bakal bisa kutebas sekali ayun." Cahaya di tangan Yhwach semakin terang, mata Niimaiya semakin tak beralih dari pandangannya. "Jadi bakal kumulai dari tangannya, baru yang lainnya!"
Kaki Niimaiya mencoba mengumpulkan reishi untuk berpijak, dia berniat untuk bershunpo mendekati pria berkumis itu. Namun, sebelum kakinya beranjak dari lantai kayu dibawahnya, cahaya terang menyilaukan mata Niimaiya, kacamata hitam yang dia pakai seakan tiada guna menghalau silau cahaya putih dari sang raja Quincy.
Tepat di bawah pertempuran itu, ratusan?atau mungkin ribuan kilometer dibawah Reioukyuu, pertempuran yang lain juga masih belum selesai. Sang Gadis(?) Zombie yang sebelumnya melawan Mayuri masih belum menemukan ajalnya. Sebut saja Giselle Gewelle itu bangkit kembali dari kematiannya. Terdengar Bambietta mengerang kesakitan di hadapan Gigi. Kedua gadis ini ternyata masih dapat bertahan dari pasukan mayat hidup Mayuri.
Wajah keduanya babak belur, lebih wajah Banbietta yang sudah sedikit bergeser dari kata cantik. Namun, perlahan wajah Gigi yang terlihat kotor dan lusuh itu berubah menjadi bersih kembali. Mulutnya tak henti-henti mengunyah, menenggak cairan merah.
"Haah Mmh Nnghh Nggh." Geram Gigi tak sabar karena puas, mulutnya tak lepas dari perut Bambietta. Ya, taring perempuan itu sedang menelan langsung darah segar dari tubuh Bambietta.
"Tunggu?"
Ucap Bambietta ketakutan, mulutnya tak berani untuk berteriak.Namun, dia juga tak bisa menahan kesakitannya terus menerus.
"Jangan ambil terlalu banyak darah," Ucap Bambietta ketakutan. "Aku belum mau mati."
"Ngomong apaan sih?!" Jawab Gigi. Tangannya langsung meraih wajah Bambietta, meremas dan membenturkannya ke batu di belakang. "Kau udah mati! Udah kubilang.. udah kubilang berkali-kali!"
Tangan Gigi tak berhenti hanya sekali membenturkan kepala Bambietta.
"Harus berapa kali kuulang?! Berapa kali baru kau ngerti?! Diam dong, dengar!" Teriak Gigi sambil membenturkan kepala Bambietta "Kembalikan darahku!!"
Tak ada jawaban dari Bambietta. Bukan karena perintah dari Gigi, namun bagian belakang kepala perempuan berambut panjang itu telah hancur karena terbentur batu. Melihat Bambietta tak bergerak, Gigi sedikit menyadari kalau dirinya terlalu berlebihan.
"Bambi-chan kamu imuut bangeeet!" Gumam gigi pelan. "Imuut! bahkan walaupun udah mati!"
Tanpa sadar sayap berbentuk tulang di punggung Gigi muncul . Yah, entah alasan apa hingga dia melakukan Volstaendig dalam keadaan seperti ini. Tangan kecilnya meraih tubuh Bambietta memeluknya erat-erat.
"Aku suka kamu!!" Ucap Gigi. "Suka banget, suka, suka!!"
"Ketemu juga." Sebuah suara menyapa mereka. "Sudah kuduga... kamu belum mati, ya."
Liltotto Lamperd memiringkan kepalanya untuk melihat dengan jelas Gigi yang berada dibawah runtuhan batu. Quincy bertubuh anak kecil iru masih dalam mode sisa-sisa Volstaendignya.
"Oh jelas." Jawab Gigi agak sombong. Tangannya melepaskan pelukannya dan keluar menghampiri Lilly. "Tapi kenapa mukamu? Hancur banget, kau kalah?"
"Gara-gara si Pepe." Jawab Lili tak suka.
"Wow, payah banget deh." Ejek Gigi
"Berisik."
"Jadi gimana Pepe?"
"Udah kubunuh."
Lilly menjawabnya seakan sudah hal yang biasa dalam kelompoknya saling membunuh satu sama lain.
"Rasanya menjijikan." Lilly menambahkan, seakan dia baru saja memakan nasi basi sisa tiga hari lalu.
"Minnie dan Candy gimana?" Tanya Gigi kembali.
"Candice kalah." Jawab Lilly. "Dan Minnie dikendalikan Pepe, jadi dia kuhabisi. Harusnya belum mati sih. Sekarang kita masih lebih kuat, tapi tanpa mereka bakal lebih susah."
Namun, sebelum Gigi menanyakan sesuatu yang lain. Sebuah ujung pistol telah menempel di kepala Lilly.
"Ada apa ini, Accutrone?" Tanya Lilly dengan pandangan tak suka.
Robert Accutrone tak langsung menjawab. Pria berkacamata yang sempat membuat mata Kyoraku buta itu hanya memandang sedu Lilly.
"Apa kau sadar Yang Mulia sudah naik ke Reioukyuu?" Tanya Robert pelan.
"Kubilang tadi ada apaan..." Teriak Lilly.
"Beliau tidak membawa kita." Potong Robert.
"Iya ya. Kenapa memangnya?" Gumam Lilly. "Kita bertarung di sini sampai Yang Mulia kembali."
"Kau belum paham...?" Tanya Robert.
"Apa kau gak paham?!??" Kali ini pria tua itu berteriak. "Kita sudah habis?"
"?Kita sudah dianggap "tidak penting" untuk pertempuran mendatang!!"
"Kau... ngomong apa..." Ucap Lilly sedikit ketakutan.
"Orang baru sepertimu tidak bisa paham betapa menakutkannya Yang Mulia!!" Robert kembali berteriak. "Strenritter ada demi Yang Mulia, Yang Mulia benci kebohongan. Jadi Beliau tidak bohong sedikit pun tentang keberadaan kita. Strenritter yang dianggap tidak penting akan jadi umpan bagi Auswaehlen Yang Mulia!!"
Belum selesai dengan semua ucapannya, tiba-tiba cahaya turun menukik menyambar Robert. Seketika pria tua itu langsung lenyap. Tubuhnya hanya tersisa tulang belulang dalam hitungan detik. Cahaya lainnya menyusul, menukik ke arah Lilly dan Gigi. Namun, Gigi sedikit lebih gesit hingga dia dapat menghindar, melompat ke arah bawah reruntuhan bersama dengan Gigi.
Tapi, dia tak dapat selamat seutuhnya?
"Brengsek..." Geram lilly.
Sayap Volstaendignya juga perlahan menghilang dari punggung perempuan kecil itu.
"Sayapku..." Dia masih geram. "Walau gak kena cahaya itu, kemampuan kita masih diambil?!"
"?Apa-apaan... Apa maksudnya ini... Yang Mulia... Apa-apaan..."
Sayangnya, bukan hanya Robert, Gigi dan Lilly yang menerima cahaya penghapusan itu. Nanana, Candice, semua Sternritter sekarang dalam menghapusan, termasuk Bazz-B yang sedang dalam pertarungan dengan Renji.
"?Apa artinya kami bagi Anda?!!" Teria Lilly.
Cahaya-cahaya yang membawa kekuatan semua Sternritter di Soul Society itu kembali melesat ke angkasa. Kembali lagi ke tangan sang pemilik, Yhwach. Tak ada yang berubah dengan penampilan Yhwach memang, tapi lain cerita dengan para Quincy yang berada di sekelilingnya.
Gerard, Pernida, Lille, dan Askin bangkit dari ketidak berdayaannya. Reiatsunya semakin meluap, sayap-sayap dipunggung mereka mengepak perlahan. Ya, mereka bangun dari kematian singkatnya dalam keadaan Volstaendig.
"Sahabat-sahabatku." Gumam Yhwach pelan. "Kita adalah sahabat, kita saling membantu, bangkitlah kembali, majulah."
Matanya jatam membalas tatapan Niimaiya.
"Zerobantai, sekarang mari kita mulai."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar