DAFTAR ISI

Selasa, Juni 30, 2015

bleach chapter 604

Kita mundur beberapa langkah dari apa yang telah terjadi. Tak perlu terlalu jauh, tak perlu diulang kembali bagaimana awal pertarungan ini, bagaimana pertempuran kedua kelompok ini terjadi. Tentang Yhwach yang kini menginjakkan kakinya di Reioukyuu, semuanya sudah tahu. Yang jelas, keadaan sekarang berada di titik kegentingan, bak dipihak Sternritter yang terbuang, maupun dipihak shinigami yang terkecoh.

Aushwahlen, sebuah fenomena tanpa kejelasan yang pernah terjadi belasan tahun silam kini terjadi kembali. Bukan para Quincy darah campuran yang menjadi target seleksi suci ini, melainkan para Sternritter yang berada di Soul Society. Entah apa yang berada di pikiran Yhwach, namun satu hal yang pasti, Dia telah menggunakan kekuatannya dengan bijak.

Cahaya-cahaya suci yang menghujam para Sternritter dari langit mengambil kekuatan mereka secara paksa. Tiada pandang bulu, cahaya suci itu merampas semua kekuatan sternritter yang berada di Seireitei. Bazz-B, Sternritter H yang juga dalam pertarungan dengan Renji dan Rukia juga tak dapat mengelak dari seleksi suci itu. Cahaya itu berhasil mengenai tubuh sang Sternritter, menghisap segala kekuatan yang dia miliki, terampas begitu saja tanpa sebuah perlawanan.

"Uwoooooooh?" Mulutnya berteriak ketika tubuhnya sudah terjebak dalam pilar cahaya.

"Apa...?!" Teriak Renji yang juga tak mengerti. "Apa yang terjadi, Bazz-B!!"

Agaknya sebuah ikatan selain permusuhan juga tercipta diantara mereka. Renji terlihat begitu kasihan memandang Bazz-B. Bagaimanapun, Renji sudah lebih dulu memahami bagaimana rasa terkhianati.

"Aku? aku juga gak tahu...!!" Teriak Bazz-B menjawab. "Yang Mulia? apa begini cara Anda?"

Wajah Bazz-B menggeram dengan segala kemarahannya. Matanya memandang penuh dendam ke langit Soul Society. Dia tahu betul kepada siapa dia berteriak. Iya, kepada raja yang dia agung-agungkan.

"?aku gak bakal mati di sini!!!"

Melihat Bazz-B, Renji dan Rukia kehilangan minat bertarungnya. Rasa benci dan marah mereka melebur dengan rasa kasihan pada Bazz-B.

Di tempat lain, Gigi dan Lilly berhasil menghindar dari serangan cahaya itu. Walau begitu, tenaga mereka terkuras, kekuatan mereka dipaksa keluar dari tubuh mereka, bahkan Gigi sudah tak dapat mempertahankan lagi Volstaendignya.

"Aku gak bakal mati..." Teriak Gigi sambil berlari ke arah Bambietta yang sudah tinggal mayat. Tangan mungilnya memeluk perempuan tak bernyawa itu.

"Bambi-chan." Teriak Gigi kembali. "Gak bakal."

"Jelas..." Gumam Lilly dengan raut wajah serius, bercampur dengan amarah yang memuncak. "Kita gak bakal mati?"

"?Kita gak bakal mati di sini!!!"

?

Seleksi suci yang dilakukan Yhwach memberikan dampak cukup besar bagi Soul Society. Tak ada lagi yang mengamuk di sana, tak ada lagi lawan tangguh yang tersisa. Para taichou juga merasakan hilangnya reiatsu para musuh yang sempat mereka hadapi.

Pilar-pilar cahaya yang membumbung tinggi ke langit Soul Society menarik perhatian semuanya. Termasuk Byakuya yang telah selesai dengan pertarungannya.

"Terpancar dari Seiretei..." Gumam Byakuya. "Cahaya apa ini?"

Di tempat lain. Kyoraku juga menyaksikan sesuatu yang tak pernah terjadi itu. Matanya memicing walau tak silau memandang pilar-pilar putih itu.

"Menuju langit..." Gumamnya sebelum terdiam.

"Nanao-chan... Okikiba-kun..."Wajah Kyoraku juga berubah menjadi serius. "Mungkin aku harus meninggalkan Divisi Satu?"

Tak ada jawaban jadi kedua Fukutaichou di belakang Kyouraku. Keduanya hanya terdiam dengan wajah tak mengerti.

"Sekarang bukan soal Seireitei..." Ucap Kyouraku kembali. "Reioukyuu sedang dalam bahaya."

?

Cahaya yang meluncur dari Seireite itu melesat ke genggaman Yhwach. Cahaya menyilaukan itu semakin meredup, seiring para Elite Four yang bangkit dari kematiannya. Keempat sosok Quincy terpilih itu bangkit dengan reiatsu yang meluap, dengan sayap yang terbentuk dari cahaya mengepak-ngepak di punggung mereka, menandakan mereka dalam keadaan Volstaendig.

Niimaiya yang sedari tadi bersiapa juga kehilangan gerak gesitnya. Respon pada serangan sang musuh menjadi begitu lamban. Bahu sang Reibantai itu tertembak, dua lubang merobek bahu kirinya.

"Apa-apaan ini..." Gumam Niimaiya.

"Auswahlen." Sahut Jugram yang sedari tadi hanya terdiam. "Kekuatan para Quincy yang dianggap tak berguna dikumpulkan dan disebarkan kepada yang membutuhkan. Penyebaran kekuatan, yang diambil kekuatannya akan musnah. Dan yang menerima kekuatannya akan terlahir kembali jadi jauh lebih kuat?"

"?ini adalah salah satu kemampuan Yang Mulia."

Pemuda berambut pirang itu melirik pada pepohonan yang mengurung mereka. Namun, tak sedikitpun Jugram menunjukkan wajah gelisah. Dia tahu, bila kekuatan Rajanya jauh lebih dari apapun.

"Beliau tidak memindahkan konsentrasi reishi, tapi konsentrasi kekuatan." Jugram melanjutkan ucapannya. "Pohon Kehidupan yang katanya menahan reishi ini pun tak akan bisa menghentikannya."

"Kekuatan baru ya..." Ucap Niimaiya remeh. "Makanya peluru yang tadi gak berguna bisa bikin bolong bahuku..."

"Ada dua kesalahan." Sahut suara yang lain. "Pertama ini bukan "kekuatan baru". Ini kekuatanku yang sebenarnya yang baru bisa kupakai?"

"?Kedua, yang menembus badanmu bukan "peluru"."

Lille membidikkan senapan panjangnya. Menarik pelatuknya begitu saja. Tak seperti sebelumnya, tak ada ledakan yang terjadi, ada momentun saat dia menembak, seakan senapannya itu hanyalah senapan mainan.

Walau begitu, Reibantai bergerak dengan cepat. Kirinji dan Kirio bergerak hampir bersamaan. Kinpika dan centong Kirio berhasil menahan serangan Lille.

"Asal tahu saja, betapa pun tebal temboknya, gak bakal bisa ditangkis." Gumam Lille.

Kirinji dan kirio tersentak.

"Apa...?!" Gumam Kirinji tak percaya ketika melihat Kinpika miliknya dan Centong milik Kirio berlubang ditembus oleh serangan Lille. Di belakang mereka, Niimaiya berdiri tak bergerak dengan dadanya yang berlubang. Ya, serangan Lille kembali menembus tubuhnya.

"Kemampuanku disebut "X-Axis"." Ucap Lille. "Tidak perlu peluru, kemampuanku menembus apa pun yang berada di antara laras senapan dan sasaran."

"Jadi bisa tolong berbaris?" Gumam Lille remeh, mulutnya menyinggung congkak. "Biar bisa kubunuh sekali tembak."

Di samping mereka, Pernida sang Sternritter C melangkah mendekati pepohonan yang mengurung mereka. Mulutnya bergumam tak jelas. Tapi, pohon-pohon di dekatnya tiba-tiba melengkung, hancur begitu saja, pertumbuhan pesat yang dikatakan oleh Kirio sebelumnya sama sekali tak berguna menghadapi kekuatan Pernida.

Yhwach melangkahkan kakinya, Hirenrakyu miliknya begitu cepat. Dalam sekejap peria berkumis tebal itu sudah berada di hadapan Ichibe.

"Bisa kau biarkan aku lewat?" Ancam Yhwach. "Hyousube Ichibei."

Ichibe hanya tersenyum. Berdiri dari duduknya dengan kuas besar masih di genggamannya.

"Jangan terlalu gampang sebut namaku." Ichibe balik mengancam. "Tenggorokanmu nanti bisa kering."

Note:
Agaknya Kubo kembali lupa dengan penutup mata Kyouraku. Dan Kyouraku beneran awet muda macam Unohana, bayangin aja dia manggil Okikiba, fukutaichou dengan sebutan "-kun"

Oh iya, masih perpisahan dengan Naruto. Berikut Komentar Tite Kubo di Authour Comment minggu ini.
"Kishimoto-san, Otsukaresama deshita! Aku yakin pasti sangat sibuk menyelesaikannya. Untuk saat ini, selamat beristirahat"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar