DAFTAR ISI

Selasa, Juni 30, 2015

bleach chapter 605

Kita tak perlu menoleh ke belakang untuk melihat apa yang baru saja terjadi, tak ada waktu untuk melakukan hal itu. Waktu masih berjalan terlalu cepat untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Pertempuran sebenarnya telah berdiri di depan mata. Musuh sebenarnya sudah tak segan untuk meningkatkan reiatsunya.
Reibantai telah melakukan pertarungannya secara terpisah. Namun, yang paling mengguncang saat ini adalah pertarungan antara Yhwach dengan Ichibe. Tak bermaksud untuk mengesampingkan pertarungan yang lain, pertarungan keduanya seakan mencari sentral dari segala pertempuran yang ada, setidaknya untuk saat ini.
"Bisa kau biarkan aku lewat?" Ancam Yhwach. "Hyousube Ichibei."
Kaki Yhwach telah menapak papan kayu di hadapan Ichibe, kakinya sama sekali tak gemetar berhadapan dengan sang Biksu tak berambut itu. Ichibe hanya tersenyum. Berdiri dari duduknya dengan kuas besar masih di genggamannya.
"Jangan terlalu gampang sebut namaku." Ichibe balik mengancam. "Tenggorokanmu nanti bisa kering."
Ichibe menorehkan kuasnya pada lantai kayu, menciptakan sebuah garis hitam di bawah kakinya.

"Dari sini!" Sang Biksu itupun melompat mundur, mengambil beberapa jarak dari tempat Yhwach berdiri. Kuasnya kembali menorehkan sebuah garis serupa di tempatnya berdiri sekarang. "Sampai sini?"
"?Di dalam sini kau bakal kukalahkan!" Janji Ichibe.
Yhwach hanya menyunggingkan senyum tipis, sama sekali tak gentar. Bahkan tatapan matanya terkesan meremahkan shinigami yang dihadapinya itu.
"Terlalu panjang..." Gumam Yhwach lirih. "Kau bakal mati tiga langkah sebelumnya, Ichibei Hyousube."
Mata Ichibe membelalak marah. Walaupun dia tahu ancamannya tak akan pernah diindahkan oleh Yhwach, tetap saja amarahnya langsung naik ketika Yhwach terkesan menyebut nama Ichibe sembarangan. Kuas digenggaman Ichibe kembali menorehkan sebuah lukisan. Kali ini Ichibe menulis lingkaran di udara, dan tulisan ?segel? di dalamnya.
"Sudah kubilang jangan terlalu gampang memanggil namaku!" Ichibe memperjelas ancamannya.
Namun, kali ini dia tak hanya mengancam. Cukup sekali ancaman yang keluar dari mulutnya. Tangan Ichibe mencoba mendorong udara di depannya, reiatsu di telapak tangannya berkumpul, semakin pekat dalam waktu sesaat. Kontrol reiatsunya sangat begitu luar biasa hebat. Sebuah telapak tangan raksasa tercipta di depannya, dan satu kali dorongan langsung menghantam tubuh Yhwach.
Yhwach kehabisan respon, satu-satunya yang dia lakukan sebelum terlempar jauh hanyalah membelalakkan matanya. Udara bergema, saat tangan raksasa itu menghantam tubuh kecil Yhwach?yang mencoba bertahan.
Ichibe tak berhenti sampai di situ. Reiatsu di telapak kaki Ichibe meningkat, percikan reishi berkumpul di telapak kakinya, mendorong gerakan Biksu berkalung tasbih itu. Shunpo yang begitu cepat hingga tak butuh waktu sedetik untuk berada di atas Yhwach yang terlempar.
"Senri Tsuutenshou!" Geramnya masih marah.
Telapak tangannya kembali terfokus. Dalam jarak sedekat itu, Ichibe melakukan serangan serupa. Sebuah telapak tangan raksasa kembali menghantam tubuh Yhwach. Bila sebelumnya Raja Quincy ini terlempar secara horizontal, kini tubuh tak berdayanya itu terdorong menukik ke bawah?secara vertikal.
"Semua yang dikoyaknya bakal terlempar sejauh 1000 ri." Imbuh Ichibe.
Yhwach tak menyerah begitu saja, tentu saja. Dalam ke adaan tubuh yang masih terlempar, tangannya mencoba menciptakan sesuatu. Mulut di balik kumis tebalnya mencoba untuk berteriak. Namun sayang, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Ingatannya langsung tertuju pada tulisan ?segel? yang sempat dibuat oleh Ichibe. Agaknya saat itu Ichibe benar-benar telah menyegel tenggorakan raja Quincy ini.
"Kan sudah kubilang, tenggorokanmu bakal kering." Teriak Ichibe. "Turunlah lagi sejauh 1000 ri dan coba introspeksi."
Ichibe kembali menciptakan telapak raksasanya, menghantam tubuh Yhwach yang tanpa pertahanan apapun. Untuk ketiga kalinya, Yhwach harus menerima serangan Ichibe dengan begitu fatal. Tubuh Yhwach menukik jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Tapi, Yhwach adalah seorang raja Quincy, sosok yang memimpin para Quincy untuk menghancurkan shinigami. Raja Quincy yang telah tertidur selama sembilan ratus tahun untuk hari ini. Sang Raja yang telah menghabiskan ratusan tahun untuk peperangan hari ini. Dia tak akan kalah hanya dengan tiga kali serangan, sesuatu yang sangat mustahil.
Dengan begitu tenang, telunjuk tangan Yhwach merobek lehernya, kumpulan reishi berputar di jemari tangannya. Lehernya berpendar tak terang.
"Aku bisa bersuara sendiri!!" Teriak Yhwach pada akhirnya.
Masih dalam keadaan terlempar, tangan Yhwach mengayun ke arah bawah.
"Sankt Bogen!!!" Teriaknya kembali.
Reishi di bawahnya berkumpul dengan begitu cepat, berputar dengan begitu pesat hingga membentuk sebuah busur raksasa padat di bawah Yhwach. Enam anak panah raksasa langsung tercipta sekaligus. Tanpa menunggu lebih lama, anak panah itu langsung melesat dari busurnya. Salah satu anak panah itu menancap di tubuh Yhwach, mendorong tubuh Yhwach yang terlempar kebawah.
Dorongan Busur Suci yang dia ciptakan ternyata melebihi tenaga dorong telapak raksasa milik Ichibe. Tubuh Yhwach melesat ke arah Ichibe dengan anak panah yang masih menancap di tubuhnya. Hingga pada akhirnya Raja Quincy ini berada di titik yang sama dengan Ichibe.
"Gak kusangka kau bakal mementalkan diri dengan memanah diri sendiri" Geram Ichibe. Entah bagaimana Yhwach melakukan serangan dalam waktu sesingkat itu, tapi punggung Ichibe mengeluarkan darah karena tergores benda tajam. "Parah sekali"
Yhwach hanya terdiam, memandang tajam ke arah Ichibe. Panah yang nemancap di tubuhnya bukanlah sebuah masalah besar, dengan satu kali remas panah itu langsung hancur. Yhwach masih baik-baik saja, tentu saja.
"Apa boleh buat." Gumam Ichibe tajam. "Kalau begitu kau perlu kubunuh."
Reiatsu di sekitar sang Biksu itu kembali meningkat. Tak seperti sebelumnya, aura membunuh Ichibe benar-benar terpancar dari tubuh gempalnya. Dia serius, seribu kali lebih serius dari sebelumnya.
?
Berpindah dari pertarungan sengit yang terjadi di tempat nan jauh di atas langit Seireite. Keadaan di Soul Society mulai sedikit redam. Seireite terdengar begitu lebih sepi setelah peperangan yang sudah dianggap usai itu. Tak ada lagi suara dentingan pedang di tanah suci itu. Hanya reruntuhan yang menjadi saksi bisu pertempuran antara kedua kelompok beberapa waktu lalu.
Ini belum berakhir sepenuhnya, ini hanya permulaan di tempat yang jauh lebih suci.
Kyouraku menyadari hal itu, otaknya bukanlah otak yang hanya berisikan nafsu untuk berperang, otaknya juga bukan sesuatu yang hanya memikirkan pekerjaan dengan begitu serius. Namun, otaknya masih dapat denga jeli menangkap segala sesuatu yang terjadi. Dia bukan orang yang berpikir keras, namun dia dapat memikirkan segalanya dengan teliti.
Lupakan segala sifat positif dari sang Soutaichou itu.
Setelah sempat berpamitan untuk meninggalkan markas divisi satu, sang Soutaichou itu berjalan di atas reruntuhan.
"Kalian benar-benar hebat menghancurkan semua yang ada di Seireitei." Gumamnya melihat segala bangunan yang hancur. Sebuah pujian atau sindiran, entahlah. "Apa ini gedungnya musuh?"
Tak ada yang menjawab. Dia pun juga tak membutuhkan sebuah jawaban.
"Aku penasaran apa gedung ini bakal jadi gedung Seireitei lagi kalau mereka sudah kita usir" Gumamnya kembali. "Kalau memang kembali jadi gedung Seireitei lagi, aku juga penasaran apa bakal rusak begini atau nggak. Mudah-mudahan sih nggak. Ya, kan Ukitake?"
Ukitake Taichou telah beridri di depannya, entah sejak kapan dia telah berdiri. Namun, tubuhnya terlihat begitu berbeda. Tubuh Sang Juusanbantai Taichou itu terbalut oleh perban, seakan dia baru saja mengalami pengobatan karena terluka.
"Yah, kalau rusak kan bisa diperbaiki lagi." Jawab Ukitake santai.
"Sudah kuduga." Tebak Kyouraku. "Kelihatannya kita membiarkan mereka menyerbu Reioukyuu, kau sadar?"
Ukitake tak langsung menjawab. Tatapan matanya berubah serius, seakan ini bukanlah hal biasa yang patut mereka bicarakan diantara teman seperjuangan.
"Makanya, "Kamikake"..."
"Benar." Kyoraku langsung memotong ucapan Ukitake.
Keduanya terdiam, cukup lama. Dan, tak hanya penampilan Ukitake saja yang berubah. Laki-laki berambut putih itu juga berdiri di atas seuatu yang tak lazim. Dia berdiri se ujung simbol yang begitu rumit untuk di jelaskan. Simbol hitam yang seakan terbuat dari bayangan. Sebuah lingkaran dengan salah satu bagian sisinya terlukis satu mata yang menatap ke langit Seireite. Entahlah, apapun itu, hanya kedua sahabat ini yang tahu.
"Kelihatannya "Kamikake" berhasil." Gumam Ukitake.
"Kalau begitu kita bisa dorong sedikit." Ucap Kyoraku.
"Omonganmu macam dokter." Ukitake sedikit bercanda.
"Kalau begitu hati-hati." Kyoraku melangkah melewati Ukitake. "Sampai nanti."
"Tunggu." Cegah Ukitake. "Mau ke mana, Kyouraku?"
"Aku ada urusan dengan Central 46." Jawab Kyoraku.
Sang Soutaichou itupun mempercepat langkahnya menuju Seijoutoukyorin, tempat terlarang dimana para Pemerintahan Tertinggi Soul Society berdara. Tempat para Central 46 berada. Entah apa yang ada di pikiran Kyoraku memilih berhadapan dengan para tetua itu di saat seperti. Namun, satu hal yang sangat jelas, salah satu sifat sang Souctaichou ini adalah berani mengambl sebuah resiko, sebesar apapun itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar