"Kalau berangkat dari sini, kita harus berhenti beberapa kali, tapi tidak sampai lima menit kok.." ucap Doranbolt.

"Apa kau mau bergabung dengan yang lainnya?" tanya Charla.
"Ya.." jawab Wendy. "Tapi bukan hanya itu, aku ingin agar Wallen menggunakan kekuatannya untuk memanggil semua guild yang ada di benua ini. Dengan kekuatan semua guild, mungkin kita bisa melakukan sesuatu terhadap Face.."

"Ayo cepat.." ucap Wendy.
"Baik.." merekapun bergegas.
Fairy Tail Chapter 392 - Kau Pasti Tak Lupa
Penulis : Admin
Penulis : Admin
Di sisi Juvia, pertarungannya dengan Keith masih terus berlanjut. "Aku bisa melihatnya, anak itu akan membuat pilihan yang sama dengan gurunya.." ucap Keith.
"Pilihan yang sama dengan gurunya.. apa Gray-sama akan menggunakan Iced-Shell!?" pikir Juvia.

Di sisi Silver, ia terus-terusan menghajar tubuh Gray. "Ada apa? Kekuatanmu hilang, ya? Apa kau takut?"
"Hahaha!!" Silver menginjak-injak Gray.
"Aku mau wajahmu lebih babak belur lagi!! Rasakanlah ketakutan yang lebih banyak lagi, manusia!! Kau sudah terlalu sombong di hadapan bencana ini!!"

"Apa kau pikir kau punya kesempatan menang!? Apa kau pikir kau bisa mengubah amarahmu menjadi kekuatan!!??"
Silver kembali menusuk tubuh Gray dengan es-es tajam.
"Ingatlah!! Seperti inilah keputusasaan itu!! Manusia tak akan bisa menang melawan iblis!!"
Gray terlempar, seolah benar-benar tak punya kesempatan untuk bahkan sekedar melawan. "Tapi, aku.."
"Aku.."
"Aku harus menang.."

Silver masih sangat yakin dengan kekuatannya. "Es tidak mempan padaku, serangan fisikmu juga bisa aku tangkis. Kau tak akan bisa menang hanya dengan perasaan."
"Tidak.. aku masih punya sesuatu.."
Gray lalu mempersiapkan teknik terakhir yang bisa ia lakukan.
Silver kaget. Apa yang ia khawatirkan benar-benar akan terjadi. Gray akan menggunakannya, "Iced Shell!!!"

Tapi, Silver masih ragu. "Aku tahu kau hanya menggertak.." ucapnya. "Sihir itu akan membekukan musuh untuk selamanya, tapi sebagai gantinya kau harus mengorbankan nyawamu sendiri. Selain itu, es tidak akan mempan padaku.."
"Benarkah? coba ingat lagi.. Sihir yang memenjarakanmu selama sepuluh tahun itu.." ucap Gray.
"Itu kan sebelum aku menggunakan sihir demon slayer!!"
"Kalau begitu, kau pasti berani menerima ini!!"
"Kau tak akan bisa melakukannya!!! Kau akan mati!!!"

"Aku akan membunuhmu, Deliora!!!"
"He-hentikan!!" Silver mulai takut.
Batss!!! Silver serius menyerang tapi Gray yang diserangnya itu ternyata cuma patung es.
"Patung es!?"
"Demi keluargaku.."
Gray terus mempersiapkan sihirnya..
"Dan demi Ull.."
"Sial.."

Sekilas terlintas ingatan saat Natsu menghentikannya dulu. "Waktu itu, aku menghentikanmu karena aku tak ingin kau mati.. apa kau tak dengar suaraku?"
"Gray-sama.." Gray ingat dengan Juvia, teman-temannya, tapi..
"Maaf.." ucap Gray dalam hati.
"Iced Shell!!!"
"Es tidak.. mempan padaku!!" teriak Silver. "Akan kuhancurkan Iced Shell milikmu!!!"
Silver menyerang tapi ternyata lagi-lagi yang diserangnya hanyalah patung es. "Patung es lagi!?"

"Semuanya, maaf.." ucap Gray dalam hati. "Maaf karena aku telah melupakan sesuatu yang penting.."
"Aku tak akan mati.."
Gray yang asli ternyata tak benar-benar mempersiapakan Iced Shell.
"Aku tak ingin melihat teman-temanku menangis.."
Gray tampak menggenggam sebuah bola besi.
"Bola besi!? Darimana kau.."
"Akulah yang telah melelehkan es di desa matahari.." ucap Gray. Dan saat Silver sadar, reruntuhan yang tadi ia bekukan telah dilelehkan kembali oleh Gray.
"Reruntuhannya.."

"Ice Make.." Gray menciptakan lapisan es kuat di tangan kanannya, armor es kuat yang mampu melempar bola besi yang dibawanya dengan kecepatan melebihi peluru. "Vambrace!!!"
Lemparan Gray melepas cepat dan menembus tepat jantung Silver. Begitu cepat dan kuat, tak ada waktu bagi lawan untuk menghindar maupun menangkisnya.

Silver tergeletak dan rebah. Tapi setelah kekalahannya itu, ia malah tersenyum dan berkata, "Selamat.."
"Sial.." ucap Gray.
Gray berkata pada Silver, "Apa menurutmu, aku tidak menyadarinya?"
"Kenapa?"
"Kau bukanlah Deliora.." ucap Gray.
"Kau adalah.. ayahku.." lanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar