?Nee-sama...?
Terdengar dari kejauhan suara anak laki-laki yang belum dewasa. Suaranya sedikit tertutupi oleh pijakan kakinya yang cukup keras menapak puing-puing bangunan Seireite yang hancur.
?Tungguuuu, Nee-sama...?
Walau tak ada jawaban dari teriakannya yang pertama. Dia terus berusaha berteriak, sedikit berharap ada jawaban dari kakak perempuan yang dia maksud. Anak lelaki itu semakin cepat melangkahkan kakinya, melompat setiap sisa kehancuran Seireite, tak menghiraukan beban berat yang dia bawa dengan kedua bahunya itu.
Cukup jauh dari teriakan sang anak lelaki tadi. Keadaan Seireite yang telah hancur lebur nampak begitu sepi. Pertarungan telah menemukan medan lain, seolah Seireite sudah tidak pantas lagi untuk dijadikan pijakan berperang.
Rintik-rintik cahaya masih terlihat jatuh dari langit Seireite. Seakan ingin mengatakan bila langit dunia itu juga ikut sakit. Dari kejauhan, terlihat seseorang dengan payung kertasnya sedang mengorek sesuatu di tanah. Tak akan terlihat begitu jelas siapa sosok misterius itu. Namun, bila kau berjalan beberapa langkah lebih dekat, Topi belangnya, sandal kayunya, dan tongkat kayunya akan memberikan segala pertanyaan yang ada di kepala kalian.
Ya, siapa lagi seorang yang mempunyai penampilan seperti itu, Urahara Kisuke, Sang Geta-boshi, begitulah panggilan akrabnya.
Nampak Urahara sedikit sibuk dengan membuat garis dengan ujung tongkatnya. Entahlah apa yang dia buat. Sebuah simbol? Sebuah mantra? Hah, ayolah siapa yang bisa membaca pikiran Si Jenius satu ini.
?Paan neh? Ngapain kau di luar sini?!? Sebuah suara mengganggu kesibukan sang Urahara. ?Bukannya harusnya siap-siap di dalam??
Terdengar begitu kasar. Aksen kansai-nya juga terdengar begitu kental dari suara perempuan satu ini. Hiyori, siapa lagi yang berani berkata kasar dan arogan seperti ini pada Urahara yang terhormat. Tipe Urahara, dia hanya tersenyum melihat kehadiran tamu undangan lain yang baru saja datang.
?Ngomong apa sih?? Jawab Urahara cengengesan. ?Aku sudah beres siap-siap selama menunggu kalian dari tadi...?
Tak ada jawaban untuk beberapa saat. Hiyori hanya menyipitkan mata pertanda tak suda. Tak ada yang berubah dengan penampilannya, masih dengan rambut kuncir dua, jaket merah, dan topi dengan warna senada. Tangannya menggendong sebuah bungkusan besar, agaknya sebuah paket pesanan Urahara bila saya boleh menebak. Di belakangnya, Lisa juga berekspresi persis seperti Hiyori, hanya saja tangannya menggenggam patung gelap untuk melindungi tubuhnya dari hujan cahaya, pakaiannya masih seperti seorang anak gadis sma. Di sampingnya Rose juga tak banyak berubah, dan tak ada yang berubah agaknya. Kecuali pakaiannya yang terlapisi oleh mantel hujan.
Yang paling terlihat lucuc adalah Hachigen. Bukan penampilannya yang berbah drastis. Tentu saja bukan, penampilannya sama sekali tak ada perubahan. Hanya saha tangan besarnya yang terlihat begitu kesulitan memegang gagang payung yang terlalu kecil. Bahkan, tubuhnyapun tak dapat terlindungi dengan sempurna oleh payung kecil yang dia bawa.
?Haaa?? Ucap Hiyori pura-pura tak dengar. ?Ke mana si Neko-baba??
?Yoruichi-san sudah duluan...? Jawab Urahara santai.
Hiyori cekikikan kecil.
?Ohoho... Kau yang suruh ya?? Tanyanya menebak. ?Kayaknya gak banget kalau tante itu gerak duluan mikir belakangan...?
?Yah...? Jawab Urahara singkat. ?Kalau begitu gimana kalau kita masuk sekarang...?
?Bentar.? Sanggah Hiyori. ?Kenapa Neko-baba dibiarin pergi duluan, bukannya kita harusnya ketemu dulu semua terus pergi bareng??
?Ada perubahan rencana...? Urahara masih cukup santai dengan semua rencananya.
?Terus gimana kalau gara-gara itu mereka mati?? Tanya Hiyori lebih serius. ?Apa menurutmu selama mereka bisa nahan musuh, gak masalah kalau mereka mati??
Tak ada jawaban.
?Gitu kan?! Makanya gak masalah biarin Yoruichi dan Ichigo pergi duluan?!? Teriakan Hiyori semakin kencang.
?Haaaaaaaaaaaaahhh?!?
Sebuah teriakan yang lain menimpal. Bukan suara Urahara, bukan juga suara Lisa, Rose maupun Hachi, apalagi suara Hiyori.
?Nee-sama sudah duluan?!? Teriak suara yang masih sama.
Tampak seorang anak laki-laki berkulit gelap. Wajahnya sama seperti Yoruichi, model rambut yang dia miliki menjadi nilai tambah kesamaan mereka. Namun, satu-satunya yang membedakan keduanya adalah kebringasan mereka. Bila Yoruichi nampak begitu kasar dan beringas, anak laki-laki ini nampak begitu pemalu dan cengeng.
Shihoin Yuushirou, Kepala Keluarga Shihoin yang ke-23. Pengganti kakak perempuannya, Yoruichi sebagai Kepala Keluarga ke-22. Walau terlihat begitu muda dan cengeng, kedudukannya cukup tinggi. Dia pantas disetarakan dengan Kuchiki Byakuya bila dilihat dari tahta yang dia miliki sebagai Kepala Keluarga Bangsawan Tingkat Atas. Tugas yang dia emban sebagai Jagawana Piranti Surgawi, juga lebih berat dari para shinigami pada umumnya. Keberadaannya sangat vital untuk pemerintahan Soul Society. Yah, bagaimanapun kalian menilai seorang Yuushirou, dia adalah salah satu orang tertinggi yang ada di Soul Society.
Yuushirou berpakaian seperti para shinigami, tapi dihiasi oleh oranamen mahal khas para bangsawan. Yah, tak ada jawaban dari teriakannya. Tangan kecilnya langsung menjatuhkan bungkusan besar yang dia bawa. Lututnya langsung tak berdaya mendengar kakaknya sudah pergi lebih dulu. Matanya langsung berkaca-kaca tak kuat menahan rindunya selama ratusan tahun.
?Kenapa begini...? Gumamnya sesegukan. ?Padahal akhirnya ada yang menghubungiku setelah sekian lama, bahkan kupaksakan bawa semua ini supaya bisa berguna buat Nee-sama.?
?Maaf ya...? Urahara mendekatinya, mencoba memberi penjelasan pada Yuushirou. ?Tapi demi Seireitei, aku harus membiarkannya pergi duluan, mohon pengertiannya.?
Yuushirou nampak kembali mendapatkan ketenangannya.
?Baiklah.? Balasnya pelan.
?Yang kau bawa ke sini pasti berguna buat nee-sama.? Ucap Urahara kembali menyakinkannya. ?Jadi yuk masuk.?
?Bikin ingat...? Ucap Hiyori agak keras. ?Demi Seireitei??
??Aku benci banget kalau kau ngomong begitu...? Lanjut Hiyori menurunkan suaranya.
Merekapun melangkah masuk, meninggalkan hujan cahaya yang masih reda dari langit Seireite.
?
Jauh di atas langit Soul Society. Jauh di atas rintik cahaya Seireite. Keadaan terlihat terbalik. Sebuah gejolak pertempuran terasa begitu terasa menyesakkan. Tekanan emosi dan reiatsu bercampur menghujam setiap yang menyaksikan. Pertarungan Ichibe dan Yhwach, hanya mereka yang mempunyai reiatsu dan mental tinggi saja yang dapat menyaksikannya.
Mundurlah beberapa langkah, sebelum setiap percikan serangan mereka mengenai tubuh tak berdaya kalian.
?
?Ya ampun, sudah kubilang supaya jangan panggil namaku segampang itu, masih dilakukan juga. Sudah kubilang supaya introspeksi, masih diulang juga.? Ucap Ichibe semakin geram. ?Walau kau sudah tambah tua, kau masih seperti bocah pembuat onar??
??kalau kau gak mau dengar, apa boleh buat, kalau begitu kau perlu kubunuh.?
Tekanan Reiatsu berputar begitu cepat mengelilingi Ichibe. Pandangan ichibe berubah sertarus persen. Mulutnya sudah tak ada senyum lagi, seakan otot-otot di sekitar bibirnya sudah begitu kaku untuk tersenyum. Pandangannya bukan lagi tatapan tajam, melainkan lebih ke tatapan hampa.
Namun begitu, Yhwach tak menunjukkan sedikitpun ketakutannya. Lencana miliknya berpendar, menciptakan sebilah pedang yang dulu dia gunakan untuk membelah tubuh Yamamoto Soutaichou.
Keduanya melesat, mendekati satu sama lain, saling membenturkan senjata yang mereka genggam. Hempasan angin tercipta cukup kencang dikala reiatsu mereka membentur. Menerbangkan kumpulan awan yang sedari tadi hanya mengambang tenang.
Dentingan demi dentingan tak terdengar begitu jelas karena terbawa oleh deru benturan reiatsu mereka. Wajah mereka terasa bahagia, seakan pertarungan inilah yang mereka tunggu selama ratusan tahun.
?Kau kelihatan sedikit berubah.? Gumam Yhwach.
?Oh ya?? Tanya Ichibe.
?Kau masih kelihatan ceria tadi, tapi setelah bilang mau membunuhku kau kelihatan seperti hantu.? Ucap Yhwach.
Ichibe tak menjawab, tangannya mengayunkan kuas raksasa yang dia gunakan sebagai senjata. Yhwach menangkisnya dengan bilah pedangnya. Keduanya mundur selangkah sebelum melakukan serangan selanjutnya. Bilah pedang yhwach tertuju tepat ke kepala Ichibe. Terlalu cepat respon yang diterima Ichibe, sang biksu dengan mudahnya menghindar. Ichibe langsung membalas dengan ayunan kuasnya.
Yhwach tak menghindar, melainkan menangkis kuas Ichibe dengan tangan kirinya.
?Tapi apa cuma segini batasmu?? Ejek Yhwach.
?Jadi kau mengorbankan lenganmu?? Ichibe balik bertanya.
Yhwach tak menjawab, dia hanya terdiam tak mengerti ucapan Ichibe. Bagaimanapun, ini adalah pertempuran pertama kalian.
?Kuasku tidak menebas daging, tapi menebas nama.? Ucap Ichibe.
Butuh beberapa detik bagi Yhwach untuk mengerti ucapan Ichibe. Tangan kanan yang tadi dia gunakan untuk menangkis serangan Ichibe tiba-tiba terasa lebih berat.
?Yang kau sebut "lengan"mu itu sudah dibelah jadi dua.? Geram Ichibe. ?Sekarang dia bukan lengan, tapi cuma le.?
?Berat ya rasanya?? Gumam Ichibe menakutkan. ?Kekuatan ototmu sudah dibelah jadi dua, begitu juga kemampuanmu. Lenganmu cuma bisa berfungsi setengah dari aslinya, bahkan mengayunkan pedang saja rasanya bakal jadi berat.?
Yhwach menghiraukannya. Dia kembali melancarkan serangannya. Namun, gerak Ichibe jauh lebih cepat. Kali ini, bukan hanya lengan Yhwach yang dia tebas, melainkan seluruh tubuh sang Raja Quincy itu.
?Sudah kubilang dibelah jadi dua.? Geram Ichibe.
Yhwach terpelanting sangan jauh, tubuhnya menghantam Istana Raja yang melayang.
?Oi? Yhwach, yang telah terbelah, Sang pemimpin Quincy yang kemampuannya tinggal separuh.? Ucap Ichibe. ?Bagaimana rasanya mlawan pemimpin shinigami yang paling kau benci cuma dengan separuh kekuatanmu??
Ywach tersenyum. Gigi-gigi putih dibalik kumis tebalnya menggertak .
?Bagaimana rasanya?? Ucapnya dengan seringai tipis. ?Menurutmu aku kelihatan kesulitan??
Kali ini reiatsu Yhwach yang berputar mengelilinginya, tekanannya naik begitu cepat seakan kekuatannya tak terpotong. Reishi di sekelilingnya berpendar, membentuk lingkaran di sempurna di lantai kayu yang dia tapaki. Kirchenlied: Sankt Zwinger, agaknya sang Raja Quincy itu akan menggunakan pertahanannya. Namun, satu hal yang jelas. Dengan separuh kekuatan yang dia miliki, sama sekali tak menggentarkannya melawan Pemimpin para Shinigami.
Terdengar dari kejauhan suara anak laki-laki yang belum dewasa. Suaranya sedikit tertutupi oleh pijakan kakinya yang cukup keras menapak puing-puing bangunan Seireite yang hancur.
?Tungguuuu, Nee-sama...?
Walau tak ada jawaban dari teriakannya yang pertama. Dia terus berusaha berteriak, sedikit berharap ada jawaban dari kakak perempuan yang dia maksud. Anak lelaki itu semakin cepat melangkahkan kakinya, melompat setiap sisa kehancuran Seireite, tak menghiraukan beban berat yang dia bawa dengan kedua bahunya itu.
Cukup jauh dari teriakan sang anak lelaki tadi. Keadaan Seireite yang telah hancur lebur nampak begitu sepi. Pertarungan telah menemukan medan lain, seolah Seireite sudah tidak pantas lagi untuk dijadikan pijakan berperang.
Rintik-rintik cahaya masih terlihat jatuh dari langit Seireite. Seakan ingin mengatakan bila langit dunia itu juga ikut sakit. Dari kejauhan, terlihat seseorang dengan payung kertasnya sedang mengorek sesuatu di tanah. Tak akan terlihat begitu jelas siapa sosok misterius itu. Namun, bila kau berjalan beberapa langkah lebih dekat, Topi belangnya, sandal kayunya, dan tongkat kayunya akan memberikan segala pertanyaan yang ada di kepala kalian.
Ya, siapa lagi seorang yang mempunyai penampilan seperti itu, Urahara Kisuke, Sang Geta-boshi, begitulah panggilan akrabnya.
Nampak Urahara sedikit sibuk dengan membuat garis dengan ujung tongkatnya. Entahlah apa yang dia buat. Sebuah simbol? Sebuah mantra? Hah, ayolah siapa yang bisa membaca pikiran Si Jenius satu ini.
?Paan neh? Ngapain kau di luar sini?!? Sebuah suara mengganggu kesibukan sang Urahara. ?Bukannya harusnya siap-siap di dalam??
Terdengar begitu kasar. Aksen kansai-nya juga terdengar begitu kental dari suara perempuan satu ini. Hiyori, siapa lagi yang berani berkata kasar dan arogan seperti ini pada Urahara yang terhormat. Tipe Urahara, dia hanya tersenyum melihat kehadiran tamu undangan lain yang baru saja datang.
?Ngomong apa sih?? Jawab Urahara cengengesan. ?Aku sudah beres siap-siap selama menunggu kalian dari tadi...?
Tak ada jawaban untuk beberapa saat. Hiyori hanya menyipitkan mata pertanda tak suda. Tak ada yang berubah dengan penampilannya, masih dengan rambut kuncir dua, jaket merah, dan topi dengan warna senada. Tangannya menggendong sebuah bungkusan besar, agaknya sebuah paket pesanan Urahara bila saya boleh menebak. Di belakangnya, Lisa juga berekspresi persis seperti Hiyori, hanya saja tangannya menggenggam patung gelap untuk melindungi tubuhnya dari hujan cahaya, pakaiannya masih seperti seorang anak gadis sma. Di sampingnya Rose juga tak banyak berubah, dan tak ada yang berubah agaknya. Kecuali pakaiannya yang terlapisi oleh mantel hujan.
Yang paling terlihat lucuc adalah Hachigen. Bukan penampilannya yang berbah drastis. Tentu saja bukan, penampilannya sama sekali tak ada perubahan. Hanya saha tangan besarnya yang terlihat begitu kesulitan memegang gagang payung yang terlalu kecil. Bahkan, tubuhnyapun tak dapat terlindungi dengan sempurna oleh payung kecil yang dia bawa.
?Haaa?? Ucap Hiyori pura-pura tak dengar. ?Ke mana si Neko-baba??
?Yoruichi-san sudah duluan...? Jawab Urahara santai.
Hiyori cekikikan kecil.
?Ohoho... Kau yang suruh ya?? Tanyanya menebak. ?Kayaknya gak banget kalau tante itu gerak duluan mikir belakangan...?
?Yah...? Jawab Urahara singkat. ?Kalau begitu gimana kalau kita masuk sekarang...?
?Bentar.? Sanggah Hiyori. ?Kenapa Neko-baba dibiarin pergi duluan, bukannya kita harusnya ketemu dulu semua terus pergi bareng??
?Ada perubahan rencana...? Urahara masih cukup santai dengan semua rencananya.
?Terus gimana kalau gara-gara itu mereka mati?? Tanya Hiyori lebih serius. ?Apa menurutmu selama mereka bisa nahan musuh, gak masalah kalau mereka mati??
Tak ada jawaban.
?Gitu kan?! Makanya gak masalah biarin Yoruichi dan Ichigo pergi duluan?!? Teriakan Hiyori semakin kencang.
?Haaaaaaaaaaaaahhh?!?
Sebuah teriakan yang lain menimpal. Bukan suara Urahara, bukan juga suara Lisa, Rose maupun Hachi, apalagi suara Hiyori.
?Nee-sama sudah duluan?!? Teriak suara yang masih sama.
Tampak seorang anak laki-laki berkulit gelap. Wajahnya sama seperti Yoruichi, model rambut yang dia miliki menjadi nilai tambah kesamaan mereka. Namun, satu-satunya yang membedakan keduanya adalah kebringasan mereka. Bila Yoruichi nampak begitu kasar dan beringas, anak laki-laki ini nampak begitu pemalu dan cengeng.
Shihoin Yuushirou, Kepala Keluarga Shihoin yang ke-23. Pengganti kakak perempuannya, Yoruichi sebagai Kepala Keluarga ke-22. Walau terlihat begitu muda dan cengeng, kedudukannya cukup tinggi. Dia pantas disetarakan dengan Kuchiki Byakuya bila dilihat dari tahta yang dia miliki sebagai Kepala Keluarga Bangsawan Tingkat Atas. Tugas yang dia emban sebagai Jagawana Piranti Surgawi, juga lebih berat dari para shinigami pada umumnya. Keberadaannya sangat vital untuk pemerintahan Soul Society. Yah, bagaimanapun kalian menilai seorang Yuushirou, dia adalah salah satu orang tertinggi yang ada di Soul Society.
Yuushirou berpakaian seperti para shinigami, tapi dihiasi oleh oranamen mahal khas para bangsawan. Yah, tak ada jawaban dari teriakannya. Tangan kecilnya langsung menjatuhkan bungkusan besar yang dia bawa. Lututnya langsung tak berdaya mendengar kakaknya sudah pergi lebih dulu. Matanya langsung berkaca-kaca tak kuat menahan rindunya selama ratusan tahun.
?Kenapa begini...? Gumamnya sesegukan. ?Padahal akhirnya ada yang menghubungiku setelah sekian lama, bahkan kupaksakan bawa semua ini supaya bisa berguna buat Nee-sama.?
?Maaf ya...? Urahara mendekatinya, mencoba memberi penjelasan pada Yuushirou. ?Tapi demi Seireitei, aku harus membiarkannya pergi duluan, mohon pengertiannya.?
Yuushirou nampak kembali mendapatkan ketenangannya.
?Baiklah.? Balasnya pelan.
?Yang kau bawa ke sini pasti berguna buat nee-sama.? Ucap Urahara kembali menyakinkannya. ?Jadi yuk masuk.?
?Bikin ingat...? Ucap Hiyori agak keras. ?Demi Seireitei??
??Aku benci banget kalau kau ngomong begitu...? Lanjut Hiyori menurunkan suaranya.
Merekapun melangkah masuk, meninggalkan hujan cahaya yang masih reda dari langit Seireite.
?
Jauh di atas langit Soul Society. Jauh di atas rintik cahaya Seireite. Keadaan terlihat terbalik. Sebuah gejolak pertempuran terasa begitu terasa menyesakkan. Tekanan emosi dan reiatsu bercampur menghujam setiap yang menyaksikan. Pertarungan Ichibe dan Yhwach, hanya mereka yang mempunyai reiatsu dan mental tinggi saja yang dapat menyaksikannya.
Mundurlah beberapa langkah, sebelum setiap percikan serangan mereka mengenai tubuh tak berdaya kalian.
?
?Ya ampun, sudah kubilang supaya jangan panggil namaku segampang itu, masih dilakukan juga. Sudah kubilang supaya introspeksi, masih diulang juga.? Ucap Ichibe semakin geram. ?Walau kau sudah tambah tua, kau masih seperti bocah pembuat onar??
??kalau kau gak mau dengar, apa boleh buat, kalau begitu kau perlu kubunuh.?
Tekanan Reiatsu berputar begitu cepat mengelilingi Ichibe. Pandangan ichibe berubah sertarus persen. Mulutnya sudah tak ada senyum lagi, seakan otot-otot di sekitar bibirnya sudah begitu kaku untuk tersenyum. Pandangannya bukan lagi tatapan tajam, melainkan lebih ke tatapan hampa.
Namun begitu, Yhwach tak menunjukkan sedikitpun ketakutannya. Lencana miliknya berpendar, menciptakan sebilah pedang yang dulu dia gunakan untuk membelah tubuh Yamamoto Soutaichou.
Keduanya melesat, mendekati satu sama lain, saling membenturkan senjata yang mereka genggam. Hempasan angin tercipta cukup kencang dikala reiatsu mereka membentur. Menerbangkan kumpulan awan yang sedari tadi hanya mengambang tenang.
Dentingan demi dentingan tak terdengar begitu jelas karena terbawa oleh deru benturan reiatsu mereka. Wajah mereka terasa bahagia, seakan pertarungan inilah yang mereka tunggu selama ratusan tahun.
?Kau kelihatan sedikit berubah.? Gumam Yhwach.
?Oh ya?? Tanya Ichibe.
?Kau masih kelihatan ceria tadi, tapi setelah bilang mau membunuhku kau kelihatan seperti hantu.? Ucap Yhwach.
Ichibe tak menjawab, tangannya mengayunkan kuas raksasa yang dia gunakan sebagai senjata. Yhwach menangkisnya dengan bilah pedangnya. Keduanya mundur selangkah sebelum melakukan serangan selanjutnya. Bilah pedang yhwach tertuju tepat ke kepala Ichibe. Terlalu cepat respon yang diterima Ichibe, sang biksu dengan mudahnya menghindar. Ichibe langsung membalas dengan ayunan kuasnya.
Yhwach tak menghindar, melainkan menangkis kuas Ichibe dengan tangan kirinya.
?Tapi apa cuma segini batasmu?? Ejek Yhwach.
?Jadi kau mengorbankan lenganmu?? Ichibe balik bertanya.
Yhwach tak menjawab, dia hanya terdiam tak mengerti ucapan Ichibe. Bagaimanapun, ini adalah pertempuran pertama kalian.
?Kuasku tidak menebas daging, tapi menebas nama.? Ucap Ichibe.
Butuh beberapa detik bagi Yhwach untuk mengerti ucapan Ichibe. Tangan kanan yang tadi dia gunakan untuk menangkis serangan Ichibe tiba-tiba terasa lebih berat.
?Yang kau sebut "lengan"mu itu sudah dibelah jadi dua.? Geram Ichibe. ?Sekarang dia bukan lengan, tapi cuma le.?
?Berat ya rasanya?? Gumam Ichibe menakutkan. ?Kekuatan ototmu sudah dibelah jadi dua, begitu juga kemampuanmu. Lenganmu cuma bisa berfungsi setengah dari aslinya, bahkan mengayunkan pedang saja rasanya bakal jadi berat.?
Yhwach menghiraukannya. Dia kembali melancarkan serangannya. Namun, gerak Ichibe jauh lebih cepat. Kali ini, bukan hanya lengan Yhwach yang dia tebas, melainkan seluruh tubuh sang Raja Quincy itu.
?Sudah kubilang dibelah jadi dua.? Geram Ichibe.
Yhwach terpelanting sangan jauh, tubuhnya menghantam Istana Raja yang melayang.
?Oi? Yhwach, yang telah terbelah, Sang pemimpin Quincy yang kemampuannya tinggal separuh.? Ucap Ichibe. ?Bagaimana rasanya mlawan pemimpin shinigami yang paling kau benci cuma dengan separuh kekuatanmu??
Ywach tersenyum. Gigi-gigi putih dibalik kumis tebalnya menggertak .
?Bagaimana rasanya?? Ucapnya dengan seringai tipis. ?Menurutmu aku kelihatan kesulitan??
Kali ini reiatsu Yhwach yang berputar mengelilinginya, tekanannya naik begitu cepat seakan kekuatannya tak terpotong. Reishi di sekelilingnya berpendar, membentuk lingkaran di sempurna di lantai kayu yang dia tapaki. Kirchenlied: Sankt Zwinger, agaknya sang Raja Quincy itu akan menggunakan pertahanannya. Namun, satu hal yang jelas. Dengan separuh kekuatan yang dia miliki, sama sekali tak menggentarkannya melawan Pemimpin para Shinigami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar