DAFTAR ISI

Rabu, Juli 01, 2015

bleach chapter 607

Quincy nomor satu melawan Shinigami nomor satu. Tak ada sebuah gambaran yang lebih cocok untuk pertarungan ini selain kata menakutkan. Wajah keduanya menyeringai bagai sesosok hantu. Mata merah Ichibe membara seakan sinar laser yang menyorot kegelapan. Gigi Yhwach menggertak keras bak gergaji yang mengikis sebatang kayu.
Sebuah hantaman dibalas hantaman, sebuah tebasan berbalik tebasan, tendangan dibayar oleh tendangan, pukulan dikembalikan dengan pukulan. Keduanya tak ada yang mau menyerah. Namun, kali ini Ichibe masih berada lebih tinggi dari Yhwach. Kemampuan kuas raksasanya berhasil menghapus separuh kekuatan milik Yhwach.
Sekarang kekuatan Yhwach tinggal separuh, terbuka kesempatan baru bagi Ichibe untuk menaklukkannya. Kita tinggalkan sejenak semua ketenangan yang terbarng bersama puing-puing Seireite. Tegakkan duduk kalian, genggam erat pegangan yang ada di tangan kalian. Pertempuran akan segera berlanjut."Bagaimana rasanya?" Ucapnya dengan seringai tipis. "Menurutmu aku kelihatan kesulitan?"
Kali ini reiatsu Yhwach yang berputar mengelilinginya, tekanannya naik begitu cepat seakan kekuatannya tak terpotong. Reishi di sekelilingnya berpendar, membentuk lingkaran di sempurna di lantai kayu yang dia tapaki. Lingkaran itu semakin terang, dari garis lingkarang itu reishi semakin tinggi mendekati tubuh Yhwach.
"Komandan Zerobantai yang memimpin para shinigami membelah dua kekuatanku karena dia takut padaku." Ejek Yhwach remeh. "Rasanya super sekali."
"Tapi sayang sekali." Lanjut Yhwach. "Walau separuh kekuatanku hilang, aku masih punya kekuatan yang bisa mengembalikannya seperti semula."
Mata Ichibe membelalak semakin lebar, seakan bola matanya hendak keluar dari rongganya. Yhwach hanya tersenyum melihat keterkejutan Ichibe. Reishi yang terpancar dari lingkaran yang mengelilinganya terserap ke dada sang Raja Quincy.
Kekuatan Yhwach telah kembali, sepertinya terlihat begitu.
"Biar kuulang untukmu." Gumam Yhwach. "Tak satu orang pun bisa mengambil apa pun yang jadi milikku, bahkan tidak dengan kemampuanmu, Hyousube Ichibe."
Tatapan Yhwach semakin tajam ke arah Ichibe. Sang Quincy mengeluarkan segala reiatsu yang ada dalam dirinya. Pecahan-pecahan reishi yang ada di sekelilingnya berputar mendekati sang pengendali reishi itu.
"Kalau kau tadinya tidak tahu, camkan baik-baik." Kali ini Yhwach membentaknya. "Segala hal di dunia ini ada hanya untukku!"
Reishi di sekeliling Yhwach kembali berputar semakin cepat. Reishi itu mencuat dari garis lingkaran. Reishi itu bergerak dari tempat Yhwach berdiri menuju Ichibe. Putaran semakin cepat seperti mata bor yang siap menembus balok kayu.
Ichibe melepas genggaman Kuas besarnya. Kedua tangannya langsung menghancurkan reishi tajam itu menjadi serpihan tak berguna.
"Ya ampun..." Gumam Ichibe dengan suara beratnya, "Air susu dibalas air tuba."
"Demi menjaga harga dirimu aku sengaja mengambil setengah kekuatanmu." Ucap Ichibe kembali.
Yhwach tak langsung menjawab. Matanya hanya menatap siapa sang biksu tak berambut itu.
"Apa katamu?" Gumam Yhwach.
"Kalau kau kalah dalam kekuatan penuh harga diri Quincy bisa-bisa hancur." Gumam Ichibe dengan seringai kecilnya. "Gak ada artinya juga sih kalau kau mati!"
Ichibe langsung bershunpo melesat ke tempat Yhwach berdiri.
"Hyappo Rankan!*" Teriak sang Biksu
Pilar-pilar biru yang berpendar keputihan meuncul di hadapan Ichibe. Tak seperti Hyapporankan biasanya Pilar yang muncul di hadapan Ichibe langsung berjumlah belasan. Yah, bagaimanapun tak mengherankan bila seorang Zerobantai dapat melakukan hadou bernomor enam pulu dua dengan begitu mudahnya.
Pilar itu langsung melesat ke arah Yhwach. Di lain sisi Yhwach hanya berdiri, tak bergeming dari pijakannya. Tapi, pembuluh darah di lengannya terlihat semakin pekat. Pembuluh venanya semakin hitam. Tidak, tak hanya sampai seperti itu, dari tangannya reishi yang tercampur dengan darahnya itu menetes dari telapak tangannya yang kemudian membentuk sebuah kubah lingkaran kecil melindungi Yhwach.
Hyapporankan milik Ichibe terpental, patah dan hancur saat menghantam tabir pelindung berwarna gelap itu.
"Oh jadi itu Blut Vene!" Gumam Ichibe yang seakan baru pertama kali melihat kemampuan Yhwach yang seperti ini.
"Blut Vene Anhaben.*" Koreksi Yhwach. "Tembok pertahanan yang merentang di luar tubuh."
"Menarik sekali!" Ichibe justru semakin bersemangat.
Kali ini sang Biksu melakukan kuda-kuda yang berbeda.
"Urahadou, San no dou*" Gumamnya. "Teppusatsu!*"
Sebuah Kidou Rahasia. Di hadapan Ichibe terbentuk sebuah kepala naga yang cukup besar. Mulut sang naga mengaung begitu keras. Kekuatannya jauh begitu besar dari ketajaman bilah pilar kidou sebelumnya.
Bagaimana tidak, pertahanan Yhwach yang sebelumnya dia banggakan hancur berkeping-keping setelah menerima tekanan angin dari Kidou ichibe. Ichibe langsung melesat, tangan kirinyanya langsung mencengkram leher Yhwach dengan begitu kencang.
"Kena kau!" Gumam Ichibe.
"Oh ya?" Celetuk Yhwach dengan leher yang masih tergenggam erat.
Blut Vene milik Yhwach belum hancur semuanya. Reishi hitam pekat itu justru menjalar ke tubuh Ichibe. Lengan Ichibe seakan menjadi korban parasit dari kemampuan pertahanan sang Quincy satu ini.
"Blut Vene Anhaben mengaratkan apa pun yang bersentuhan dengan tubuhku. Kalau kau dekat-dekat, kau juga bakal kena!" Yhwach memperingatkan. "Biar kuambil bagian kiri tubuhmu, Hyousube Ichibe!!"
"Tolol..." Bentak Ichibe.
Ichibe langsung mengeluarkan kekuatan ototnya. Urat-urat dan pembuluh nadinya menegang melwan Blut Vene yang menjari sebagian tubuhnya. Tak perlu meragukan kekuatan sang zerobantai satu ini. Blut Vene di tubuh Ichibe langsung retak, tak kuat menahan kekuatan otot tubuh Ichibe. Tak hanya sampai di situ. Genggaman Ichibe semakin erat, otot-otot yang tegang menjalar ke wajah Yhwach, memecahkan pembuh darah sang Quincy itu.
Yhwach melompat mudur, mengambil jarak dari sang biksu giting itu.
"Menurutmu bakal kubiarkan begitu aja?" Ucap Ichibe.
Sang Biksu mengayun-ayunkan kuas raksasanya.
"Pertama kau menyelip ke Reiou, sekarang kau menyelip ke badan anggota Zerobantai. Manusia sepertimu coba tahu diri sedikit." Bentak Ichibe. "Biar kuajari sopan santun."
Kedua terdiam. Yhwach hanya menutup wajahnya yang penuh dengan darah segar. Namun, Ichibe semakin menaikkan kekuatan reiatsunya. Seluruh reiatsunya berkumpul pada kuas besar yang ada digenggamannya itu.
"Kurome.*" Gumam Ichibe. "Ichimonji.*"
Kuas yang ada di genggamannya berpendar redup. Sapu kuas diujung genggamannya berubah menjadi sebilah pedang tajam. Dengan sekali ayun, tinta hitam melasat melintang hendak menebas tubuh sang Quincy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar