Sejenak pandangan menjauh dari deru pertarungan para sang ahli. Menuruni
langit dimensi dari istana sang Raja Roh. Shakkonmaku masih terlihat
utuh mengelilingi Seireite walau keberadaannya percuma saja di hadapan
para Quincy.
Asap karena pertarungan masih terlihat membumbung menambah kepekatan langit dunia roh walau gemuruh pertarungan telah tak terdengar oleh telinga. Cukup jauh dari bagian pusat Soul Society keadaan terlihat bertolak belakang. Semua masih utuh seakan tak terjadi apa-apa. Hewan-hewan masih melakukan aktifitasnya seakan tak genderang perang tak pernah sampai pada jangkauan pendengaran mereka.
Ya, distrik di sekeliling Seireite terlihat begitu damai. Namun, sedikit keanehan mulai terlihat, segala yang berwarna hitam seakan mencair, menguap dari benda, bayangan, pohon, segala apapun yang berwarna hitam seakan menguap.
Asap karena pertarungan masih terlihat membumbung menambah kepekatan langit dunia roh walau gemuruh pertarungan telah tak terdengar oleh telinga. Cukup jauh dari bagian pusat Soul Society keadaan terlihat bertolak belakang. Semua masih utuh seakan tak terjadi apa-apa. Hewan-hewan masih melakukan aktifitasnya seakan tak genderang perang tak pernah sampai pada jangkauan pendengaran mereka.
Ya, distrik di sekeliling Seireite terlihat begitu damai. Namun, sedikit keanehan mulai terlihat, segala yang berwarna hitam seakan mencair, menguap dari benda, bayangan, pohon, segala apapun yang berwarna hitam seakan menguap.
Kembali pada ketegangan semula. Masih dalam pertarungan sengit
dengan Ichibe dan Yhwach sebagai lakonnya. Keduanya sama-sama tak punya
kerendahan diri untuk menyerah. Yah, bagaimanapun keduanya telah
menganggap dirinya mereka masing-masing yang paling benar.
Ucapan sudah tak akan menyelesaikan masalah. Perang memang harus dilanjutkan, hingga salah satunya kehilangan daya, hingga salah satunya dijemput oleh kematian, hingga salah satunya melangkahi ketidakberdayaan lawan dihadapan mereka.
"Kurome, Ichimonji!"
Suara serak Ichibe terdengar begitu dalam saat memerintah pedangnya agar terbangun dari lelapnya. Kuas raksasa yang ada di genggamannya berubah menjadi sebuah bilah tajam. Wajah sang Shinigami itu semakin menyeringai melihat Yhwach yang diam tanpa gerak.
Mata Yhwach semakin tajam memperhatikan zanpakutou sang musuh. Jelas terlihat ini baru pertama kali dirinya menghadapi Ichibe.
"Kuas yang berubah jadi pedang ya." Gumam Yhwach begitu teliti. "Besar juga, tapi tidak ada tanda-tanda reiatsu..."
Ucapan Yhwach terhenti begitu melihat pedang yang digenggam oleh Ichibe berubah kembali menjadi sebuah kuas. Namun, sedetik kemudian kuas itu kembali menjadi sebuah bilah pedang.
"Barusan..."
"Kenapa?" Seringai Ichibe seakan membaca pikiran Yhwach. "Gak bisa bedain antara pedang dan pena?"
Tanpa menunggu jawaban dari Yhwach, Ichibe langsung bergerak. Pedangnya dia ayunkan ke arah Yhwach. Tinta berceceran ke segala penjuru. Yhwach mulai mundur mengambil jarak. Bagaimanapun dia juga tak bisa bergerak tanpa berpikir.
Ichibe mengejarnya, melesat langsung dihadapan Yhwach. Dentingan pedang terdengar, percikan tinta kembali berhamburan dari bilah pedang Ichimonji. Yhwach terlihat terdesak walaupun masih dapat menghalau segala serangan yang luncurkan oleh Ichibe.
"Dari tadi kau cuma melempar-lempar tinta, gak ada yang kena!!" Ucap Yhwach remeh. "Mau pakai tipuan yang sama akan percuma."
Yhwach berhasil menghalau segala serangan pedang Ichibe. Ichibe tak menjawabnya, dia masih tenggelam dalam ritme serangannya.
"Berapa kali pun kau ambil kekuatanku semuanya bakal kembali padaku kalau perlu." Teriak Yhwach. " Kau gak bisa mengalahkanku pakai pedang itu."
"Kau akan kukalahkan dengan?"
Ucapan Yhwach terhenti seakan dia lupa cara untuk bicara.
"Haa?" Ichibe melompat mundur menandakan segala serangan yang dia lakukan sudah cukup. "Ngomong apa barusan?"
Yhwach tak menjawab. Dia juga bingung, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Ichibe.
"Apa nama pedangmu itu?" Tanya Ichibe remeh. "Gak tahu?"
"Gak lah, kau pasti tahu?" Gumam Ichibe sedikit bercanda.
"?Kau pasti tahu kalau pedang itu udah gak bernama."
Kedua terdiam. Yhwach terlihat begitu kebingungan. Dia baru sadar kalau tinta yang melumuri lencana Quincynya, pakaian sucinya, bahkan pedangnya hanya dalam menghilangkan kekuatan yang dia pikir mudah untuk mengembalikannya.
"Apa pun yang dilumuri tinta Ichimonji akan kehilangan nama." Ucap Ichibe. "Apa pun yang gak punya nama, gak punya kekuatan."
"?Pedang tanpa nama, lencana tanpa nama, sekarang kau masih merasa bisa membunuhku?"
Ancaman Ichibe terdengar begitu keras. Namun begitu, Yhwach masih tak kehilangan akal. Tanpa pedang, tanpa lencana, dia masih mempunyai tangan kanan yang utuh. Pusaran Reiatsu langsung berputar begitu cepat di sekelilingnya. Ichibe juga sedikit heran kalau musuh di hadapannya itu masih punya kekuatan tersembunyi.
Lima bola Reishi meluncur dari tangan Yhwach. Berputar di atas Ichibe, mengelilingi sang biksu tak berambut itu. Reishi itu semakin besar, dan meluncurkan cahaya tepat ke arah Ichibe sebagai pusatnya.
"Kalau begitu biar kekuatanmu yang kuambil!" Teriak Yhwach. "Bukan dengan kekuatan tanpa nama tapi sebagai diriku, dengan kekuatanku!"
Gemuruh ledakan terdengar begitu semua cahaya itu terbentur. Percikan reishi tercipta bak listrik yang dengan menyambar tanpa arah.
"?Zankt Altar!" Teriah Yhwach.
Ledakan itu berhenti, cahaya itu musnah terhalau oleh cipratan tinta yang tercecer ke segala arah. Yhwach hanya terbelalak dengan menggenggam sisa-sisa reishi di tangannya.
"Gak bisa ambil kekuatannya?!" Gumam Yhwach dalam hati.
"Jangan gitu dong mukanya." Ucap Ichibe saat melihat kepanikan dari wajah Yhwach. "Udah diambil kok, tapi yang kau ambil bukan jadi punyamu."
"Kekuatanku adalah kekuatan "Hitam"." Ichibe tersenyum licik. "Tiap kali aku melepas Ichimonji,apakah itu shinigami atau Quincy, makhluk hidup atau sudah mati, semua yang "hitam" di dunia ini?"
"?adalah milikku."
Yhwach hanya terdiam. Baju yang dia kenakan, rambut, kumis segala yang berwarna dari tubuh Yhwach menguap, seakan melinggalkan sang pemiliknya. Tak hanya Yhwach, bahkan segala yang berwana hitam di dunia juga mulai menguap, melesat ke Ichibe, memberikan kekuatan pada sang Biksu.
Yhwach tak berkutik, seakan dirinya tak berdaya menghadapi sang Biksu. Namun, dia tak akan berhenti sampai di sana. Dia akan melangkahkan kakinya, menggunakan seribu cara untuk menghadapi musuhnya. Dia tak akan berhenti sampai di sini, tidak akan pernah.
Ucapan sudah tak akan menyelesaikan masalah. Perang memang harus dilanjutkan, hingga salah satunya kehilangan daya, hingga salah satunya dijemput oleh kematian, hingga salah satunya melangkahi ketidakberdayaan lawan dihadapan mereka.
"Kurome, Ichimonji!"
Suara serak Ichibe terdengar begitu dalam saat memerintah pedangnya agar terbangun dari lelapnya. Kuas raksasa yang ada di genggamannya berubah menjadi sebuah bilah tajam. Wajah sang Shinigami itu semakin menyeringai melihat Yhwach yang diam tanpa gerak.
Mata Yhwach semakin tajam memperhatikan zanpakutou sang musuh. Jelas terlihat ini baru pertama kali dirinya menghadapi Ichibe.
"Kuas yang berubah jadi pedang ya." Gumam Yhwach begitu teliti. "Besar juga, tapi tidak ada tanda-tanda reiatsu..."
Ucapan Yhwach terhenti begitu melihat pedang yang digenggam oleh Ichibe berubah kembali menjadi sebuah kuas. Namun, sedetik kemudian kuas itu kembali menjadi sebuah bilah pedang.
"Barusan..."
"Kenapa?" Seringai Ichibe seakan membaca pikiran Yhwach. "Gak bisa bedain antara pedang dan pena?"
Tanpa menunggu jawaban dari Yhwach, Ichibe langsung bergerak. Pedangnya dia ayunkan ke arah Yhwach. Tinta berceceran ke segala penjuru. Yhwach mulai mundur mengambil jarak. Bagaimanapun dia juga tak bisa bergerak tanpa berpikir.
Ichibe mengejarnya, melesat langsung dihadapan Yhwach. Dentingan pedang terdengar, percikan tinta kembali berhamburan dari bilah pedang Ichimonji. Yhwach terlihat terdesak walaupun masih dapat menghalau segala serangan yang luncurkan oleh Ichibe.
"Dari tadi kau cuma melempar-lempar tinta, gak ada yang kena!!" Ucap Yhwach remeh. "Mau pakai tipuan yang sama akan percuma."
Yhwach berhasil menghalau segala serangan pedang Ichibe. Ichibe tak menjawabnya, dia masih tenggelam dalam ritme serangannya.
"Berapa kali pun kau ambil kekuatanku semuanya bakal kembali padaku kalau perlu." Teriak Yhwach. " Kau gak bisa mengalahkanku pakai pedang itu."
"Kau akan kukalahkan dengan?"
Ucapan Yhwach terhenti seakan dia lupa cara untuk bicara.
"Haa?" Ichibe melompat mundur menandakan segala serangan yang dia lakukan sudah cukup. "Ngomong apa barusan?"
Yhwach tak menjawab. Dia juga bingung, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Ichibe.
"Apa nama pedangmu itu?" Tanya Ichibe remeh. "Gak tahu?"
"Gak lah, kau pasti tahu?" Gumam Ichibe sedikit bercanda.
"?Kau pasti tahu kalau pedang itu udah gak bernama."
Kedua terdiam. Yhwach terlihat begitu kebingungan. Dia baru sadar kalau tinta yang melumuri lencana Quincynya, pakaian sucinya, bahkan pedangnya hanya dalam menghilangkan kekuatan yang dia pikir mudah untuk mengembalikannya.
"Apa pun yang dilumuri tinta Ichimonji akan kehilangan nama." Ucap Ichibe. "Apa pun yang gak punya nama, gak punya kekuatan."
"?Pedang tanpa nama, lencana tanpa nama, sekarang kau masih merasa bisa membunuhku?"
Ancaman Ichibe terdengar begitu keras. Namun begitu, Yhwach masih tak kehilangan akal. Tanpa pedang, tanpa lencana, dia masih mempunyai tangan kanan yang utuh. Pusaran Reiatsu langsung berputar begitu cepat di sekelilingnya. Ichibe juga sedikit heran kalau musuh di hadapannya itu masih punya kekuatan tersembunyi.
Lima bola Reishi meluncur dari tangan Yhwach. Berputar di atas Ichibe, mengelilingi sang biksu tak berambut itu. Reishi itu semakin besar, dan meluncurkan cahaya tepat ke arah Ichibe sebagai pusatnya.
"Kalau begitu biar kekuatanmu yang kuambil!" Teriak Yhwach. "Bukan dengan kekuatan tanpa nama tapi sebagai diriku, dengan kekuatanku!"
Gemuruh ledakan terdengar begitu semua cahaya itu terbentur. Percikan reishi tercipta bak listrik yang dengan menyambar tanpa arah.
"?Zankt Altar!" Teriah Yhwach.
Ledakan itu berhenti, cahaya itu musnah terhalau oleh cipratan tinta yang tercecer ke segala arah. Yhwach hanya terbelalak dengan menggenggam sisa-sisa reishi di tangannya.
"Gak bisa ambil kekuatannya?!" Gumam Yhwach dalam hati.
"Jangan gitu dong mukanya." Ucap Ichibe saat melihat kepanikan dari wajah Yhwach. "Udah diambil kok, tapi yang kau ambil bukan jadi punyamu."
"Kekuatanku adalah kekuatan "Hitam"." Ichibe tersenyum licik. "Tiap kali aku melepas Ichimonji,apakah itu shinigami atau Quincy, makhluk hidup atau sudah mati, semua yang "hitam" di dunia ini?"
"?adalah milikku."
Yhwach hanya terdiam. Baju yang dia kenakan, rambut, kumis segala yang berwarna dari tubuh Yhwach menguap, seakan melinggalkan sang pemiliknya. Tak hanya Yhwach, bahkan segala yang berwana hitam di dunia juga mulai menguap, melesat ke Ichibe, memberikan kekuatan pada sang Biksu.
Yhwach tak berkutik, seakan dirinya tak berdaya menghadapi sang Biksu. Namun, dia tak akan berhenti sampai di sana. Dia akan melangkahkan kakinya, menggunakan seribu cara untuk menghadapi musuhnya. Dia tak akan berhenti sampai di sini, tidak akan pernah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar