DAFTAR ISI

Sabtu, Juli 04, 2015

bleach chapter 617

Bleach Chapter 617 - Return of the God 


Teriakan terdengar semakin keras di ruangan divisi dua belas. Reiatsu terpancang begitu deras dari tubuh Ukitake. Lupakan masalah kehancuran dunia, lupakan masalah kematian Raja Roh, Ukitake sedang mengatasi segalanya sendirian, memikul rasa sakitnya sendirian. Demi Seireite kebanggaannya.
Yang lain terdiam, mata mereka berkaca-kaca semakin tak tega saat reiatsu hitam keluar dari segala lubang di wajah Ukitake. Mata, mulut, hidung dan telinga sang Taichou teraliri reiatsu pekat yang semaking membumbung tinggi. Teriakan Ukitake semakin terdengar begitu keras menahan sakit.
Mimihagi-sama, tangan kanan sang Raja Roh membumbung melesat semakin tinggi, menembus setiap pelindung antara Istana Raja Roh dengan Seireite.
�Guncangannya berhenti!!� Gumam Urahara tak begitu yakin.
Namun, apa yang gumamkan oleh Urahara adalah kenyataan. Getaran yang terjadi perlahan berhenti, retakan-retakan berhenti menghancurkan gedung Seireite. Dunia kembali terdiam pada poros masing-masing. Kehancuran telah tertunda.
Tangan Mimihagi-sama terus melesat hingga menembus semua penghalang. Tangan itu menjulang dari tubuh Ukitake hingga ke Istana Raja Roh. Tangan kanan itu langsung menggenggam potongan tubuh Raja Roh yang terbelah dua.
Yhwach yang berada di depannya begitu terkejut saat melihatnya. Pupil-pupil matanya langsung menatap tajam pada satu arah.
�Apa artinya ini...� Ucap Yhwach tak mengerti. �Apa-apaan itu?!�
Tak ada jawaban, Ichigo dan yang lain juga sama terkejutnya dengan Yhwach. Soul King semakin terbalut oleh lilitan Mimihagi-sama. Mata Mimihagi-sama menatap tajam ke arah Yhwach. Mungkin bila tangan dewa ini mempunyai mulut, dia akan tertawa terbahak-bahak karena terlah berhasil menyundangi Yhwach.
�Jadi itu dia, satu hal yg lepas dari pandang mataku.� Teriak Yhwach mulai mengerti. �Sang Reiou sendiri!! Kau!!�
�Kenapa tangan kanan Reiou mengganggu jalanku?!?� Emosi Yhwach semakin memuncak, �Baru merasa tersentuh dengan keberadaan Soul Society yang selama ini kau lindungi?!�
��Jawab aku, Reiou!!�

Kembali ke pusat Mimihagi-sama. Ukitake semakin terlihat tak berdaya, tubuh kurusnya sudah tak kuat untuk berdiri. Lutut Ukitake mulai bergetar tak kuat. Kiyone memalingkan matanya, matanya tak begitu kuat untuk memandang sang taichou dengan keadaan seperti itu. Sentarou juga menundukkan matanya sayu karena tak kuasa. Selama puluhan tahun mengabdi pada Ukitake, baru kali ini melihat Taichou mereka menggerang kesakitan seperti ini.
�Taichou�.� Ucapan Sentarou terdengar begitu lemah.
�Ukitake Taichou!� Rukia juga semakin tak kuasa menyaksikan keadaan Taichou kehormatannya.
�Berapa lama?� Sui Feng memecah keheningan. Ucapanya tertuju pada Urahara yang ada di depannya.
�Kupikir Ukitake gak bakal jadi pengganti Reiou sepenuhnya.� Ucap Sui Feng seakan tak bisa membaca keadaan. �Kestabilan ini cuma sepanjang nyawa Ukitake. Jadi sampai berapa lama?�
Sentaro langsung menggertakkan giginya. Matanya memandang keji ke arah Sui Feng. Dia tak terima, tentu saja. Tangannya mengepal, ingin rasanya memukul Taichou Divisi Dua itu. Bagaimana bisa dia membicarakan nyawa Ukitake Taichou dengan begitu mudahnya.
�Taichou!� Teriak Oomaeda yang lebih peka dengan keadaan.
�Faktanya begitu!� Itulah Sui Feng, lebih suka bicara apa adanya. Yah, walaupun terlihat tak berperasaan. �Apa aku salah, Urahara?!�
�Aku tak tahu...� Jawab Urahara yang sedari tadi terdiam. �Ini pertama kalinya aku dengar soal kamikake. Jadi aku juga tak tahu tahan berapa lama tapi yang jelas kita harus cari cara lain buat stabilkan Soul Society��
��Jadi selama Ukitake menggantikan Reiou, ayo segera buat gerbang masuk ke Reioukyuu!�
�Siap!� Teriak yang lain
Namun begitu mereka menyalurkan reiatsu mereka, gerbang yang sedari tadi mereka buat langsung pecah. Semuanya menggertak tak mengerti. Bahkan Urahara juga kaget dengan apa yang sedang terjadi.
�Apa-apaan ini?!� Teriak Ikkaku. �Gerbangnya langsung hilang begitu dibuat.�
�Reiatsu-nya tidak cukup...!� Ucap Nanao.
�Apa?!� Teriak Hisagi.
�Ukitake-taichou selalu pakai reiatsu-nya untuk menopang tubuhnya yang penyakitan, jadi reiatsu-nya jauh lebih besar dari yang lain.� Jawab Nanao. �Tapi karena dia tidak ada, jadi gerbangnya tidak dapat reiatsu yang cukup. Kalau begini��
�Apanya yang "kalau begini"� Sebuah suara memotong ucapan Nanao.
Nanao langsung terdiam saat melihat siapa yang memegang bola reiatsu miliknya, menyalurkan reiatsu hingga berbaur dengan miliknya. Yadomarou Lisa, shinigami yang ratusan tahun begitu dengan Nanao, membacakan buku sebelum Nanao tidur. Shinigami yang sudah seperti kakak bagi Nanao. Wajah Nanao terlihat begitu sayu, namun ini bukan waktu yang tepat untuk bereuni setelah perpisahannya yang cukup lama.
�Memangnya kami bakal diam aja?� Ucap Lisa.
�Yadoumaru-san!!� Gumam Nanao pelan sambil menahan emosinya.
�Udah pake shihakusho nih!! Puas?! � Teriak Hiyori yang baru keluar bersama dengan yang lain. �Udah sini minta kelerengnya, Kisuke!!�
�Hmmmmmmm�
Sebuah suara yang lain terdengar dari atap yang hancur. Mayuri dan Nemu nampak sedang mengintip perbincangan mereka.
�Aku ke sini karena katanya mau kumpul...� Ucap Mayuri sambil melirik-lirik keadaan laboratoriumnya. �Tapi wow... bagus banget ya lab-ku kau bikin begini.�
�Kurotsuchi-taichou...!� Ucap Urahara.
Mayuto melompat dan langsung berjalan ke arah komputernya, tangannya dengan lihai menekan setiap tombol keyboard.
�Yayaya, ngumpulin orang dan panen reiatsu buat bikin gerbang, tapi aku gak paham....� Ucap Mayuri cekikikan seakan menyindir. �Kalau cuma butuh reiatsu, kenapa gak pakai pelipatganda reiatsu punyaku?�
�Bilang dong dari tadi...� Ucap Urahara.
�Mana ku tahu bakal butuh.� Bela Mayuri.
Dengan sedikit gerak tangan di atas tombol, reiatsu yang terkumpul langsung meningkat drastis hingga mencapai dua kali lipat. Reiatsu yang terbuang kembali terisi, gerbang yang tadi telah hancur kini kembali ke bentuk semula.
�Bisa!� Teriak Hisagi. �Kita berhasil!�

Beralih ke bawah Soul Society, penjara untuk para pendosa besar di bawah Divisi Satu. Kyouraku sudah tak dapat menapakkan kakinya lebih jauh lagi. Batas antara dirinya dan batas dosa hanya sampai di sana.
�Akhir sudah dekat bagi Soul Society.� Teriak Kyoruaku. �Kau bisa dengar aku, 'kan?�
Tak ada jawaban, Kyouraku hanya mendengar pantulan suaranya.
�Cuma sejauh inilah orang-orang tak berdosa bisa melangkah, kita tak bisa melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan. Tapi, kalau kau pasti bisa mendengarku walau cuma dari sini, 'kan?�
Masih tak ada jawaban.
�Ayolah, jawab...� Dia kembali berteriak. �Aizen Sousuke.�
Kyoraku tak bergeming, masih berdiri dalam keremangan penjara. Matanya menilik satu persatu sembilan belas segel yang ada di depannya.
�Jadi gak ada jawaban,� Gumam Kyoraku lagi. �Apa ngomong juga butuh reiatsu buatmu? Atau apa artinya orang sekuatmu pun gak bisa melawan segel ini?�
Masih hening, Aizen yang diajak bicara oleh Kyoraku masih tak menjawab. Kyoraku membuka sebuah kotak kayu berisi kunci-kunci untuk membuka segel Aizen.
�Ini kunci pembuka segel-segelmu...� Gumam Kyoraku sembari mengambil satu buah kunci dan memasukkan ke salah satu lubang segel di depannya. �Aku dibolehkan pakai 3 kunci��
��Jadi biar kubuka yang "mulut" dulu.�
Masih hening, Aizen agaknya tak mau di ajak kerja sama oleh sang Soutaichou.
�Sekarang kau gak butuh reiatsu buat menjawabku.� Sindir Kyoraku. �Biasanya butuh waktu lama buat orang yang gak bicara selama 2 tahun sebelum dia bisa bicara lagi, tapi kalau kau, pasti gak begitu, 'kan?�
Dan tiba-tiba sebuah reiatsu besar datang dari kegelapan, reiatsu yang begitu besar, reiatsu yang begitu dikenal oleh Kyoraku. Tak salah lagi, reiatsu itu adalah milik sang Pendosa Besar, milik sang Dewa Pengkhianat. Semakin dekat, reiatsu itu bergerak semakin dekat dalam kegelapan.
�Benar!� Ucapan sang pengkhianat itu terdengar begitu serak. Balutan-balutan segel yang melilit tubuhnya seakan hanyalah seonggok masalah kecil yang bahkan tak perlu dipandang mata. Kyoraku tersentak, matanya memicing melihat sang tawanan yang masih berada dalam keremangan.
�Gak mungkin.� Gumam Kyoraku yang kehabisan pikir. �Aku cuma buka segel mulutnya, kenapa dia bisa buka sisanya?!?�
Aizen berjalan semakin mendekat, memicingkan matanya, memberikan pandangan menjijikkan pada sang Soutaichou.
�Kenapa?� Ejek Aizen. �Masih ada dua kunci lagi, 'kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar