DAFTAR ISI

Selasa, Juli 07, 2015

bleach chapter 628

 Bleach Chapter 628 - New World Orders


Pemandangan yang tak lazim terhampar dihadapan mereka. Segalanya telah berubah. Segala menjadi asing dalam sekejap. Kaki mereka seakan enggan melangkah keluar dari garganta, menolak pikiran bila yang ada di depan mereka adalah Istana Raja Roh sebenarnya.

Yoruichi menggertak keras, gigi-giginya saling menghantam nyaring karena marah. Mulutnya geram, mengumpat seribu sumpah serapah pada musuh yang baru saja mereka hadapi.

Di tempat lain, kelompok Urahara juga tiba di Istana Raja Roh. Seribu tanda tanya juga muncul di kepala mereka. Mata mereka membelalak kala memandang pemandangan di hadapan mereka. Tak ada lagi bangunan kuno jepang yang berdiri di sana. Mata mereka hanya memandang bangunan Wandenreich yang tertata rapi.

Shinji menggeram.

"Apa-apaan ini...?!" Teriaknya penuh amarah. "Bukannya kita harusnya tersambung ke Reiokyuu, kenapa justru kita di jalanan Quincy...?!"

Matanya mengarah ke arah Urahara, memandang tajam seakan ingin melampiaskan semua kesalahan pada Urahara.
"Jelaskan, Kisuke, katanya tadi ke Reioukyuu!" Teriaknya masih tak menurunkan intonasinya.
"Euh..." Urahara menghela nafas, "Koordinatnya betul kok, kita di atas Seireitei, jadi seharusnya ini Reioukyuu."
"Artinya, jalanan yang diangkat dari Seireitei barusan menimpa Reioukyuu dan membentuk sendiri?" Kyoraku menimpal dari belakang. Kakinya melangkah pelan mendekati Shinji yang masih penuh amarah.
"Mana bisa begitu..." Bentak Shinji seakan dia lupa kalau yang ada di hadapannya itu adalah pemimpin tertingginya.
"Justru itu..." Gumam Kyoraku tenang, "Maksudku, dia sudah sebegitu kuatnya sampai bisa melakukan hal seperti itu dengan gampang, Si musuh kita tersayang itu..."
"Lihat..." Kini suara Sui Feng yang menengahi mereka. "Jalannya menuju ke arah tertentu."

Matanya menjelajahi semua wilayah yang sudah membeku.

"Kalau tak salah, ini seharusnya tempat markas Zerobantai, persis di bawah Reioukyuu, tapi di atas sana, tak ada apa-apa." Matanya beralih kelangit yang kini tak ada lagi istana utama yang berbentuk kepompong itu. "Artinya Reiokyuu sudah jatuh, dan mereka sekarang menguasai segalanya."

Semuanya hening, tak ada satupun di antara mereka yang menyalahkan setiap ucapan Sui Feng. Tak ada Reioukyuu, tak ada lagi Istana Utama. Kirinden, Gatonden, Hououden, Istana Shuutara bahkan Istana milik Hyosube sudah beku, segala yang ada di sana segala sudah membeku, menyambung pada satu titik hingga terlihat seperti symbol suci Quincy. Tak ada lagi Reiouokyuu, ini adalah Wandenreich.

Di tempat lain, kelompok Ichigo mulai dapat mengendalikan emosinya.

"Tak mungkin..." Gumam Orihime begitu pelan.
"Kita sempat kabur lewat Garganta, jadi paling nggak, bersyukurlah." Yoruichi juga mulai sedikit tenang.

Sesaat, benaknya dapat merasakan reiatsu yang cukup dia kenal. Sangat tipis, tapi Yoruichi sangat yakin akan kemampuan pendeteksian Reiatsunya.

"Reiatsu ini Yuushirou?!" Gumamnya pelan.
"Siapa?" Ichigo tak sengaja mendengarnya.
"Shihouin Yuushirou." Jawab Yoruichi. "Kepala Keluarga Shihouin setelah aku diasingkan, adikku"

Semuanya terdiam mendengar ucapan Yoruichi. Baru pertama kali Yoruichi sedikit terbuka, apalagi masalah keluarganya. Ichigo semakin tertarik.

"Bentar... kau punya adik?! Kenapa aku gak tahu?!" Tanya Ichigo tak terima.
"Apa urusanmu?!" Jawab Yoruichi tak kalah ketus. "Memangnya kau tunanganku?"

Ichigo, Ganju, Chad dan Orihime berkumpul tanpa perintah, mereka membayangkan bagaimana sosok adik Yoruichi. Entah kenapa bayangan mereka sama satu sama lain, sosok laki-laki, kumis tebal, rambut terkepang panjang, tak lupa tubuh besar yang penuh dengan otot baja masuk dalam hayalan mereka.

"Bentar, bentar..." Bentak Yoruichi. "Kalian pasti berkhayal yang aneh-aneh, dia kelihatan sangat mirip denganku."

Bayangan mereka berempat-Ichigo, Ganju, Chad dan Hime langsung buyar, sosok kekar itu tergantikan dengan sosok kucing hitam yang sedang memegang pedang.

"Bukan yang itu!" Teriak Yoruichi seakan dia dapat melihat isi kepala mereka berempat
 "Ini reiatsu kakakku!" Sebuah teriakan kembali terdengar dari kelompok Urahara. Yuushirou juga dapat menangkat jejak Reiatsu kakaknya, Yoruichi. Spontan tubuhnya bergerak dengan gesit ke arah sumber reiatsu kakaknya.
"Sekarang aku ke sana, kak!" Teriaknya tanpa pikir panjang.
Yuushirou bershunpo, namun saat tubuhnya melayang di langit, kakinya tak dapat menciptakan pijakan reiatsu untuk melompat. Beruntung Renji segera menangkapnya.
"Goblok!! Kau Ngapain sih?!??" Bentak Renji.
"Ehh maaf! Aku gak tahu kenapa tapi kukira bisa berpijak..." Jawab Yuushirou sangat pelan.
"Kelihatannya sulit mengumpulkan reishi di sini." Ucap Byakuya di tengah kebisingan.
"Artinya?" Tanya Renji yang langsung penasaran.
"Kurasa kau bisa merasakannya. Konsentrasi reishi di sini jauh lebih pekat daripada sebelumnya, mustahil membuat pijakan reishi dengan konsentrasi sepekat ini." Jawab Byakuya mencoba membandingkan keadaan di sana sebelum dan sesudah menjadi es. Bagaimanapun, Byakuya pernah menginjakkan kakinya di Istana itu sebelumnya.
"Kesimpulannya cuma satu, yang mengendalikan reishi di wilayah ini bukan lagi golongan kita." Lanjut Byakuya.

Renji hanya menghujat pelan.

"Masuk akal mereka membuat medan yang menguntungkan mereka, apalagi mengingat serangan Quincy menggunakan reishi, tentu saja dia akan membuat hal seperti ini, apalagi dia pemimpinnya." Ucap Byakuya kembali. "Tapi kalau dia bisa sekuat ini artinya dia sudah cukup kuat untuk membunuh Reiou."
"Betul..." Sambung Sui Feng, baru kali ini dia membenarkan ucapan lawan bicaranya. "Kalau pun kita bisa masuk ke Reioukyuu, aku ragu kita bisa melihatnya-"
"-Reiou sudah dibunuh...!"
"Sudah, sudah..." Kyoraku kembali menimpal santai. Sang Pemimpin ini mencoba menenangkan emosi para bawahannya. Bagaimanapun, yang terlihat santai sekaligus sangat serius di sana hanyalah Kyoraku. Shinigami Veteran ini memang sangat pandai mengenal dan mengendalikan keadaan.
"Paling nggak kita bisa merasakan reiatsu Ichigo dan teman-temannya, walau agak jauh. Mereka masih hidup saja sudah kabar bagus." Ucapnya dengan tenang. "Kalau Reiou dibunuh oleh musuh, kita cuma perlu mengalahkan musuh dan mencari pengganti Reiou-"
"-Kalau Ukitake ada di sini, dia pasti akan bilang hal yang sama."

Semuanya terdiam, tak ada satupun yang berani menimpal ucapan Kyoraku. Ah, lebih tepatnya tak ada yang bisa menyalahkan setiap ucapan yang keluar dari mulut pemimpin ini.

"Ok, berangkat sekarang?" Tanyanya santai, namun dia sedikit menaikkan tekanan reiatsunya hingga shinigami di sana tahu kalau sang pemimpin mereka tak sedang main-main. "Kita belum bisa maju sampai kita bertemu Ichigo-kun dan yang lain-"
"-Bukannya sekarang saatnya kita sebagai Gotei 13 maju untuk menjadi Gotei?*"

Semuanya terhenyak...

"Siap!!" Hingga mereka bisa berteriak dengan kompak.

Namun, belum selangkahpun mereka bergerak, getaran kembali terasa. Kali ini berasa dari pusat Wandenreich. Bangunan-bangunan bergetar, bergerak semakin tinggi membentu sebuah kastil di puncaknya. Sebuah menara yang terbentuk dari bangunan-bangunan seakan terlihat seperti astana eropa. Bak sihir Bandung Bondowoso yang dapat menciptakan seribu candi dalam semalam, Yhwach juga menciptakan istana barunya dalam sekejap.

"Apa lagi?!" Kali ini Hisagi yang mengumpat. "Apaan itu...?!"
"Bukannya jelas?" Jawab Kyoraku. "Itu markas musuh..."
"Sekarang gak perlu main aman, mereka seperti mau bilang, "maju sini"..."

Untuk keduakalinya, Kyoraku menaikkan reiatsunya.

"Kalau begitu ayo kita hantam mereka." Perintah sang Soutaichou

...

Sang Kaisar Quincy sedang duduk di atas tahtanya. Balutan jubbah hitamnya membuat dia terlihat begitu menyeramkan. Haschwaldh melangkah mendekati sang tuan, tunduk patuh di atas sembah sujudnya.

"Yhwach-sama..." Ucap Haschwaldh penuh santun. "Kelihatannya kelompok Kurosaki Ichigo dan Gotei 13 menerobos masuk wilayah kita bersamaan, masuk ke dalam Welt."
"Menara ini akan segera menjadi pijakan dunia kita, hanya satu-satunya dunia sesungguhnya." Suara parau menjawab Haschwaldh. "Wahrwelt, itulah nama dunia kita."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar