Bleach Chapter 629 - Gate of the Sun
Tantangan perang itu disambut baik Kyoraku. Sebagai seorang pemimpin,
otaknya sangat cerdas membaca segala keadaan yang sangat tak
menguntungkan itu. Tak ada rasa takut yang terbaca di raut wajahnya.
Begitulah pemimpin sejati, selalu teguh dihadapan para bawahannya.
Di atas istana yang baru saja terbentuk, sang Kaisar Quincy sedang duduk di atas tahtanya. Balutan jubah hitamnya membuat dia terlihat begitu menyeramkan. Haschwaldh melangkah mendekati sang tuan, tunduk patuh di atas sembah sujudnya.
"Yhwach-sama..." Ucap Haschwaldh penuh santun. "Kelihatannya kelompok Kurosaki Ichigo dan Gotei 13 menerobos masuk wilayah kita bersamaan, masuk ke dalam Welt."
"Menara ini akan segera menjadi pijakan dunia kita, hanya satu-satunya dunia sesungguhnya." Suara parau menjawab Haschwaldh. "Wahrwelt, itulah nama dunia kita."
Haschwald masih terdiam, begitu pula dengan Uryuu dan Schutzstaffel. Masih dalam sembah hormatnya, pandangan mereka hanya terpaku pada lantai Silbern itu.
"Wahrwelt," Yhwach mengulang kembali ucapannya. "Inilah kastil yang mengemban masa depan, dengan nama inilah ia akan disebut."
"Kalau begitu, akan kami pastikan mereka tak akan tersisa, agar pandangan Yang Mulia tak tercemar keberadaan mereka." Ucap Haschwald mengesampingkan segala kelancangannya, "Ini akan menjadi pondasi dari dunia baru kita, inilah-"
"-Wahrwelt!!"
Yhwach hanya tersenyum seraya panji-panji yang berlukiskan lambing Quincy berkibar pelan seakan menyetujui ucapan Sang 'Sternritter Grandmaster'. Sternritter yang lain semakin menundukkan kepalanya, memberi hormat yang terlalu berlebih.
Di luar Kastil, para shinigami mulai melakukan pergerakan dibawah pimpinan Kyoraku.
"Luar biasa, besar sekali ya menara itu..." Celetuk Urahara.
"Sudah seharusnya." Jawab Kyoraku sedikit memicingkan mata demi mendapat penglihatan yang lebih jelas. "Kastil memang dibangun untuk menunjukkan besarnya kekuatan suatu pasukan, bila tidak menakutkan, tak ada gunanya."
"Begitu ya..." Ucap Urahara polos(?)
"Apa pun itu, menara itu didirikan buat menyambut kita, tak sopan 'kan kalau dibiarkan menunggu..." Ucap Kyoraku sambil melirik para pasukan di belakangnya. "Ayo berangkat!!"
Seperti halnya api, ucapan Kyoraku langsung menyulut semangat mereka, lahkap pelan mereka langsung berubah cepat. Sangat disayangkan, mereka tak begitu leluasa melakukan shunpo di tempat seperti ini. Tak ada pijakan reishi yang bisa mereka ciptakan. Hanya langkah cepat seperti itulah cara mereka mencapai kastil suci itu.
"Hah?" Urahara baru menyadari sesuatu. "Kurotsuchi-taichou ke mana?"
Spontan yang lainpun menghentikan langkah mereka. Mereka juga baru menyadari ketiadaan kapten Divisi Dua Belas itu. Tak hanya dia seorang, bahkan Zaraki Kenpachipun tak ada dalam kelompok mereka.
"Ke mana dia...?" Gumam Kyoraku santai seakan sudah sangat mengerti tingkah salah satu bawahannya itu
Di atas istana yang baru saja terbentuk, sang Kaisar Quincy sedang duduk di atas tahtanya. Balutan jubah hitamnya membuat dia terlihat begitu menyeramkan. Haschwaldh melangkah mendekati sang tuan, tunduk patuh di atas sembah sujudnya.
"Yhwach-sama..." Ucap Haschwaldh penuh santun. "Kelihatannya kelompok Kurosaki Ichigo dan Gotei 13 menerobos masuk wilayah kita bersamaan, masuk ke dalam Welt."
"Menara ini akan segera menjadi pijakan dunia kita, hanya satu-satunya dunia sesungguhnya." Suara parau menjawab Haschwaldh. "Wahrwelt, itulah nama dunia kita."
Haschwald masih terdiam, begitu pula dengan Uryuu dan Schutzstaffel. Masih dalam sembah hormatnya, pandangan mereka hanya terpaku pada lantai Silbern itu.
"Wahrwelt," Yhwach mengulang kembali ucapannya. "Inilah kastil yang mengemban masa depan, dengan nama inilah ia akan disebut."
"Kalau begitu, akan kami pastikan mereka tak akan tersisa, agar pandangan Yang Mulia tak tercemar keberadaan mereka." Ucap Haschwald mengesampingkan segala kelancangannya, "Ini akan menjadi pondasi dari dunia baru kita, inilah-"
"-Wahrwelt!!"
Yhwach hanya tersenyum seraya panji-panji yang berlukiskan lambing Quincy berkibar pelan seakan menyetujui ucapan Sang 'Sternritter Grandmaster'. Sternritter yang lain semakin menundukkan kepalanya, memberi hormat yang terlalu berlebih.
Di luar Kastil, para shinigami mulai melakukan pergerakan dibawah pimpinan Kyoraku.
"Luar biasa, besar sekali ya menara itu..." Celetuk Urahara.
"Sudah seharusnya." Jawab Kyoraku sedikit memicingkan mata demi mendapat penglihatan yang lebih jelas. "Kastil memang dibangun untuk menunjukkan besarnya kekuatan suatu pasukan, bila tidak menakutkan, tak ada gunanya."
"Begitu ya..." Ucap Urahara polos(?)
"Apa pun itu, menara itu didirikan buat menyambut kita, tak sopan 'kan kalau dibiarkan menunggu..." Ucap Kyoraku sambil melirik para pasukan di belakangnya. "Ayo berangkat!!"
Seperti halnya api, ucapan Kyoraku langsung menyulut semangat mereka, lahkap pelan mereka langsung berubah cepat. Sangat disayangkan, mereka tak begitu leluasa melakukan shunpo di tempat seperti ini. Tak ada pijakan reishi yang bisa mereka ciptakan. Hanya langkah cepat seperti itulah cara mereka mencapai kastil suci itu.
"Hah?" Urahara baru menyadari sesuatu. "Kurotsuchi-taichou ke mana?"
Spontan yang lainpun menghentikan langkah mereka. Mereka juga baru menyadari ketiadaan kapten Divisi Dua Belas itu. Tak hanya dia seorang, bahkan Zaraki Kenpachipun tak ada dalam kelompok mereka.
"Ke mana dia...?" Gumam Kyoraku santai seakan sudah sangat mengerti tingkah salah satu bawahannya itu
Di tempat lain, udara terasa menderik, perlahan pintu dimensi muncul
dari kehampaan. Pintu itu terbuka seraya langkah kaki terdengar keluar
dari sana. Ya, Mayuri dan Nemu muncul dari sana.
"Heheheh, setelah kututup gerbang ini sekali, kubuka lagi dan geser koordinatnya sedikit, persetan dengan Reioukyuu, aku bisa pergi ke mana pun sesuai mauku, sekarang pasti mereka sadar aku gak ada di sana. Bayangkan kekacauan mereka..." Ucap Mayuri sambil terkekeh puas. "Paling tidak sekarang aku bebas tanpa dikekang orang-orang tolol itu, akhirnya, tibalah saatnya menguji jerih-payahku selama ini!!!"
"Bawel banget sih." Sebuah teriakan dari belakang mengagetkan Mayuri.
Tak Mayuri kira kalau Zaraki berada di belakangnya, dia pikir semua orang selain dirinya sudah berangkat terpisah.
"Zaraki Kunyuk!" Mayuri menggertak tak terima dengan ucapan sang Kenpachi. "Kau ngapain di sini...?!"
"Cuma ditinggal sebentar, lalu tahu-tahu semua orang udah gak ada!" Jawab Zaraki santai. "Untungnya kau buka lagi gerbangnya!"
"Ya, 'kan, Yamada?!" Suara Ikkaku terdengar dari belakang Zaraki.
Hanatarou, Ikkaku dan Yumichika melangkah keluar mengikuti Zaraki.
"Be-betul..." Gumam Yamada. "Kenapa juga aku harus ke kamar mandi tadi..."
"Kebetulan yang bagus lah!" Ucap Zaraki melihat sekelilingnya yang sepi. "Sekarang kita tak perlu dekat-dekat orang-orang itu, jadi tak perlu khawatir ada yang salah tebas, kita bisa bantai orang-orang sebanyak-banyaknya!"
Matanya melirik Mayuri di depannya.
"Yah... masih ada kau sih..." Gumam Zaraki. "Tapi kau udah kena potong berapa kali dan masih hidup, kurasa kau cukup tahan banting..."
"Begitu ya..." Balas Mayuri. "Kalau bisa bergerak sendiri, artinya memang gak perlu khawatir sama orang-orang tolol gak kompeten yang menggali kuburan mereka sendiri!!"
"Siapa maksudmu orang-orang tolol itu?" Gertak Zaraki.
"Kalau kau punya otak harusnya bisa jawab sendiri..." Balas Mayuri.
Hanatarou semakin gemetar di tengah percekcokan.
"Aaaaaa... Gawat... Kenapa aku harus ke kamar mandi tadi..." Gumamnya berkali-kali.
"Ini lama-lama jadi adu ngeselin..." Sahut Yumichika santai.
"Tinggalkan saja mereka." Ikkaku mulai melangkah menjauhi mereka.
"Menurutmu...?" Tanya Hanatarou pada Nemu yang ada di sampingnya.
"Entahlah." Jawabnya.
"Heheheh, setelah kututup gerbang ini sekali, kubuka lagi dan geser koordinatnya sedikit, persetan dengan Reioukyuu, aku bisa pergi ke mana pun sesuai mauku, sekarang pasti mereka sadar aku gak ada di sana. Bayangkan kekacauan mereka..." Ucap Mayuri sambil terkekeh puas. "Paling tidak sekarang aku bebas tanpa dikekang orang-orang tolol itu, akhirnya, tibalah saatnya menguji jerih-payahku selama ini!!!"
"Bawel banget sih." Sebuah teriakan dari belakang mengagetkan Mayuri.
Tak Mayuri kira kalau Zaraki berada di belakangnya, dia pikir semua orang selain dirinya sudah berangkat terpisah.
"Zaraki Kunyuk!" Mayuri menggertak tak terima dengan ucapan sang Kenpachi. "Kau ngapain di sini...?!"
"Cuma ditinggal sebentar, lalu tahu-tahu semua orang udah gak ada!" Jawab Zaraki santai. "Untungnya kau buka lagi gerbangnya!"
"Ya, 'kan, Yamada?!" Suara Ikkaku terdengar dari belakang Zaraki.
Hanatarou, Ikkaku dan Yumichika melangkah keluar mengikuti Zaraki.
"Be-betul..." Gumam Yamada. "Kenapa juga aku harus ke kamar mandi tadi..."
"Kebetulan yang bagus lah!" Ucap Zaraki melihat sekelilingnya yang sepi. "Sekarang kita tak perlu dekat-dekat orang-orang itu, jadi tak perlu khawatir ada yang salah tebas, kita bisa bantai orang-orang sebanyak-banyaknya!"
Matanya melirik Mayuri di depannya.
"Yah... masih ada kau sih..." Gumam Zaraki. "Tapi kau udah kena potong berapa kali dan masih hidup, kurasa kau cukup tahan banting..."
"Begitu ya..." Balas Mayuri. "Kalau bisa bergerak sendiri, artinya memang gak perlu khawatir sama orang-orang tolol gak kompeten yang menggali kuburan mereka sendiri!!"
"Siapa maksudmu orang-orang tolol itu?" Gertak Zaraki.
"Kalau kau punya otak harusnya bisa jawab sendiri..." Balas Mayuri.
Hanatarou semakin gemetar di tengah percekcokan.
"Aaaaaa... Gawat... Kenapa aku harus ke kamar mandi tadi..." Gumamnya berkali-kali.
"Ini lama-lama jadi adu ngeselin..." Sahut Yumichika santai.
"Tinggalkan saja mereka." Ikkaku mulai melangkah menjauhi mereka.
"Menurutmu...?" Tanya Hanatarou pada Nemu yang ada di sampingnya.
"Entahlah." Jawabnya.
Di sisi lain, kelompok Ichigo juga mulai bergerak. Langkah kaki mereka
menderap begitu kencang, pandangan mereka tajam ke depan. Tujuan mereka
hanya satu, Istana sang musuh.
"Kaget juga ya gak bisa membuat pijakan kaki saat dibutuhkan begini..." Ucap Ichigo mengeluh.
"Iya, sama kagetnya waktu kita kira kau mau buang nyawa, Ichigo..." Chad mencoba mengingat bagaimana Ichigo terjatuh saat dia melompat ke udara.
"Yaa, itu mana kutahu!!" Teriak Ichigo. "Aku merasa ada reiatsu Renji dan Rukia, jadi aku langsung lompat ke arah mereka!!"
"Kau dan Yuushirou... mirip ya..." Celetuk Yoruichi sambil terkekeh. "Hidup kalian pasti bahagia."
"Sebentar, itu maksudnya pujian atau ledekan?" Tanya Ichigo.
"Perlu banget ya ditanya begitu?" Balas Yoruichi.
"Intinya, lebih baik kita berkumpul dengan mereka. Kita sudah gak bisa membuat serangan mendadak, jadi kita harus bergerak dalam kelompok..." Sambung Chad dengan pembicaraan serius.
"Tepat sekali!" Yoruichi sependapat dengannya.
"Buang-buang waktu!!" Teriak Grimmjow yang tak sependapat. "Semakin banyak orang, semakin gampang dilacak, artinya semakin banyak yang bakal mampus!"
"Grimmjow!" Bentak Nell.
"Cih, Aku pergi duluan." Ucap Grimmjow mempercepat larinya.
"Bentar, ada sesuatu di sana!" Teriak Ichigo sesaat.
Di hadapan mereka berdiri sosok musuh pertama yang harus mereka lawan. Salah satu dari Schutzstaffel, Askin Nakk Le Vaar, The Deathdealing.
"Ampun deh... aku dapat kelompoknya Kurosaki Ichigo?" Ucapnya ngomong sendiri. "Kurang beruntung apa lagi coba..."
Matanya memicing, melihat kelompok Ichigo yang masih berlari ke arahnya.
"Tapi rasanya masih mending daripada Gote-"
Ucapannya terhenti ketika Grimmjow tiba-tiba muncul di hadapannya. Tanpa pikir panjang, Griimjow langsung melakukan serangan pertamanya. Gemuruh terdengar begitu keras saat cakar sang Jaguar meluluhlantahkan sang musuh.
"Ya ampun!!" Gumam Ichigo melihat apa yang terjadi di depannya. "Jadi begini serangan mendadaknya!"
"Kaget juga ya gak bisa membuat pijakan kaki saat dibutuhkan begini..." Ucap Ichigo mengeluh.
"Iya, sama kagetnya waktu kita kira kau mau buang nyawa, Ichigo..." Chad mencoba mengingat bagaimana Ichigo terjatuh saat dia melompat ke udara.
"Yaa, itu mana kutahu!!" Teriak Ichigo. "Aku merasa ada reiatsu Renji dan Rukia, jadi aku langsung lompat ke arah mereka!!"
"Kau dan Yuushirou... mirip ya..." Celetuk Yoruichi sambil terkekeh. "Hidup kalian pasti bahagia."
"Sebentar, itu maksudnya pujian atau ledekan?" Tanya Ichigo.
"Perlu banget ya ditanya begitu?" Balas Yoruichi.
"Intinya, lebih baik kita berkumpul dengan mereka. Kita sudah gak bisa membuat serangan mendadak, jadi kita harus bergerak dalam kelompok..." Sambung Chad dengan pembicaraan serius.
"Tepat sekali!" Yoruichi sependapat dengannya.
"Buang-buang waktu!!" Teriak Grimmjow yang tak sependapat. "Semakin banyak orang, semakin gampang dilacak, artinya semakin banyak yang bakal mampus!"
"Grimmjow!" Bentak Nell.
"Cih, Aku pergi duluan." Ucap Grimmjow mempercepat larinya.
"Bentar, ada sesuatu di sana!" Teriak Ichigo sesaat.
Di hadapan mereka berdiri sosok musuh pertama yang harus mereka lawan. Salah satu dari Schutzstaffel, Askin Nakk Le Vaar, The Deathdealing.
"Ampun deh... aku dapat kelompoknya Kurosaki Ichigo?" Ucapnya ngomong sendiri. "Kurang beruntung apa lagi coba..."
Matanya memicing, melihat kelompok Ichigo yang masih berlari ke arahnya.
"Tapi rasanya masih mending daripada Gote-"
Ucapannya terhenti ketika Grimmjow tiba-tiba muncul di hadapannya. Tanpa pikir panjang, Griimjow langsung melakukan serangan pertamanya. Gemuruh terdengar begitu keras saat cakar sang Jaguar meluluhlantahkan sang musuh.
"Ya ampun!!" Gumam Ichigo melihat apa yang terjadi di depannya. "Jadi begini serangan mendadaknya!"
Terpisah dari yang lain. Para Sternritter yang bekerja sama dengan shinigami telah berada di dekat Silbern, matanya mendelik tajam seakan pandangan mereka menembus dinding istana suci itu. Kesetiaan dan rasa hormat mereka dilibas pengkhianatan. Sekarang hanya ada balas dendam.
"Kelihatannya Gerbang matahari masih berdiri..." Bazz-B berucap tentang jalan pintas yang baru saja mereka lewati.
"Rasanya bakal sedikit lebih susah bergerak karena lingkungannya berubah..." Ucap Lily yang duduk di seberangnya. "Tapi paling nggak kita sudah sampai di sekitar Silbern."
"Iya..." Geram Bazz-B. "Kita selesaikan ini sendiri dengan Yhwach dan Haschwalth!!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar