DAFTAR ISI

Minggu, Juli 12, 2015

bleach chapter 630

Bleach Chapter 630 - The Twinned Twilight 


Pertarungan tak terduga akhirnya dimulai. Grimmjow mulai memamerkan taringnya. Serangan dadakan meluluhlantahkan bangunan yang baru tercipta, bak seorang pemburu handal yang mampu melumpuhkan musuh sekali hajar.

"Cih, satu beres." Ucapnya bangga dengan senyum tersungging.
"Grimmjow! Ngapain barusan?" Teriak Ichigo sedikit marah karena sang Arrancar di depannya tak bekerja sama dalam kelompoknya.
"Halah, berisik kau, Kurosaki!" Bentak balik Grimmjow. "Aku tak suka diperintah sama..."

Ucapan Grimmjow terhenti saat dia merasakan reiatsu musuh di belakangnya. Dari balik kepulan debu yang menutupi pandangan mata Askin mulai berlari. Bukan ke arah Grimmjow, namun kakinya membawa dirinya menjauh dari para musuhnya.

"Mau dibiarin kabur tuh?" Ejek Ichigo pada akhirnya.
"Berisik!!" Teriak Grimmjow.

Grimmjow berbalik arah, kakinya langsung melesat mengejar sang musuh yang baru saja dia hajar.

"Tunggu, brengsek!" Mulutnya seperti kakinya, tak bergenti bergerak.
"Aku bakal diam kalau kau janji gak bakal membunuhku!" Janji Askin sambil memanyunkan mulutnya.
"Aku tak pernah bilang mau membunuhmu." Bentak Grimmjow geram.
"Dengan kata lain?" Seakan mulutnya bisa ditarik lebih panjang lagi, Askin memanyunkan mulutnya lebih parah. Namun begitu, otaknya tak terlalu bodoh untuk seorang Quincy yang sedang terbirit-birit.
"Kalau kau lebih lemah dariku, sudah sewajarnya kau mati." Ucah Grimmjow tajam.
"Sudah kuduga!!" Teriak Askin senang. Kakinya masih melangkah cepat meninggalkan jejak reiatsu di belakangnya. "Gak bakal aku diam di situ!!"
"Bukannya kau ke sini buat bertarung?" Agaknya pitam Grimmjow naik secara perlahan. Entah, atau hasrat bertarungnya yang semakin meluap. "Kenapa malah kabur?!"
"Aku bukan mau bertarung, aku mau membunuh kalian." Askin membalikkan wajahnya ke arah Grimmjow, mengarahkan kedua tangannya seperti anak kecil yang sedang main pistol-pistolan dengan teman sebayanya. "Tadinya kalian mau kubunuh diam-diam-"
"-Kau aslinya gak terlibat, 'kan, kenapa ikut-ikutan bertarung?!"
"Aku musuh Kurosaki." Jawab Grimmjow
"Serius?! Bagus dong! Berarti kita di pihak yang sama, 'kan?!" Askin semakin kegirangan. "Ayo bunuh Kurosaki sama-sama!"
"Bawel banget, tolol." Teriak Grimmjow kehabisan emosi. "Kau takkan bisa terus-terusan lari-"
"-Kau akan kutangkap dan kubunuh."

Grimmjow serius, pandangan matanya menjadi lebih tajam lurus ke arah Askin. Udara di sekitar tubuhnya perlahan menderik pelan, memutar pelan berpusat pada Grimmjow. Reiatsunya semakin meningkat. Tangannya mencengkram tanah, memposisikan tubuhnya selayaknya macan yang siap menerkam buruannya.

Reiatsu di sekitarnya terus meningkat, jemari sang Espada berpendar tak terang, tangannya berubah menjadi hitam, kuku tajamnya terlihat begitu sama saat dia dalam keadaan Ressurection. Namun, tubuh Grimmjow masih dalam bentuk manusia. Satu-satunya bagian tubuh yang beressurection hanyalah kedua tangannya. Agaknya arrancar satu ini sudah dapat mengendalikan perubahan tubuhnya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Grimmjow langsung melesat, kakinya melompat jauh lebih cepat.
Di tempat lain, terlepas dari segala kericuhan yang terjadi. Denting sepatu terdengar begitu keras dari lorong panjang. Lorong gelap yang hanya diremangi oleh cahaya bulan. Yah, malam telah tiba, sabit mulai meremang dari balik awan tipis.

Langkah kaki itu terhenti dikala ada langkah lain yang mengejarnya. Jugram berbalik arah. Sang bawahan yang mengejarnya langsung berlutut di hadapannya. Sebuah langkah sangat benar untuk seorang Soldet.

"Jadi?" Tanya Jugram pelan seakan dia sudah tahu kalau sang Soldet ingin melaporkan sesuatu.
"Semua Schutzstaffel telah disebar ke lima arah untuk melacak keberadaan musuh." Jawab sang Soldet penuh hormat.

Jugram terdiam, dia menyadari ada sesuatu yang salah dengan ucapan bawahannya.

"Sebentar, kau bilang lima arah..." Raut wajah Jugram sedikit berubah. "Schutzstaffel yang kau maksud tadi, apakah termasuk Ishida Uryuu?"

"Betul." Jawab sang Soldet masih menunduk hormat. "Yang Mulia memerintahkan demikian."
"Ke mana dia pergi?"
"Ishida Uryuu-sama menuju ke kedua ast..."
"Ikuti dia!" Perintah Jugram langsung. Wajahnya terlihat semakin mengobarkan kemarahan dibalik ketenangan mata sayunya. "Aku tak bisa meninggalkan Wahrwelt, ikuti dia, dan segera kabari aku kalau dia bergerak di luar perintah."

Pandangan Jugram telihat kosong.

"Aku ceroboh." Gumamnya dalam hati, menyalahkan dirinya sendiri. Tentu saja, Jugram masih mencurigai segala apapun yang dilakukan oleh Uryuu. "Seharusnya tak kubiarkan dia bertindak sendirian, tak ada Sternritter lain yang mengawasinya, mudah diberikan misi bila diakui sebagai Schutzstaffel."

Jugram sedikit mendongakkan wajahnya. Matanya sedikit menyipit saat melihat sang Soldet masih berlutut memberikan hormat padanya.

"Sedang apa kau?" Ucapnya dengan nada yang lebih tinggi. "Cepat."

Sang bahawan langsung bangkit dari lututnya. Bergegas berjalan mundur menjauhi sang Sternritter tertinggi.

"Si... Siap... Saya akan..."

Namun, belum selesai dia mengucapkan kalimatnya, sebuah garis api menusuk tepat mata kanan sang Soldet.
 "Segitu khawatirnya kau sama Ishida Uryuu?" Suara Bazz-B bergemma di ruangan yang luas itu.
"Bazz-B?" Ucap Jugram dengan wajah tenang. "Untuk apa barusan?"
"Cih, sebelum bilang begitu bukannya kau harusnya kaget aku masih hidup?" Bazz-B langsung melesat kearah Jugram. "Burner Finger 1!"

Tangan kiri Bazz-B berhasil mencengkram jubbah Jugram. Tangan kirinya berpendar, perlahan siap menembakkan garis api ke tepat ke kepala Jugram. Namun, Jugram tak sebodoh itu, Kakinya melompat, berkelit melompat sembari menyibakkan jubahnya. Pedang reishinya langsung dia gunakan untuk menghantam kepala Bazz-B.

Cengkraman tangan Bazz-B lepas, Bazz-B terpelanting. Namun dari balik jubbah Jugram yang terlepas, tangannya kirinya kembali berhasil meraih gagang pedang Jugram. Jugram mencoba mundur, tapi garis api telah meluncur dari balik jubbah tepat ke arahnya.

Keduanya melompat menjauh, mengambil jarak untuk serangan selanjutnya. Beruntung reflek Jugram tak terlalu buruk, bila bukan Jugram mungkin dia sudah mati sekarang. Pelipis mata kiri Jugram mengeluarkan darah, serangan Bazz-B tadi menggores kulit putihnya. Sebuah pertarungan yang seimbang, sebab pelipis mata kiri Bazz-B juga mengeluarkan darah karena pukulan gagang pedang tadi.

"Aku paham." Gumam Jugram pelan. "Lukamu bukan karena musuh, tapi karena Yang Mulia-"
"-Kau bukan yang terpilih..."
"Cih, Aku?" Geram Bazz-B bercampur senyum. "Cuma kalian yang terpilih, yang lainnya kena Auswahlen-"
"-Mereka dibunuh, yang bisa sembunyi kehilangan kekuatan Vollstandig, yang tidak bisa, kehilangan nyawa."
"Sangat disayangkan." Gumam Jugram.
"Sangat disayangkan?" Teriak Bazz-B mengulang ucapan Jugram. "Jangan bercanda, kau tahu soal ini. Ya, 'kan?"
"Apa urusanmu?" Ucapan Jugram semakin meninggi. "Kalau kubilang aku tak tahu, apa kau bakal percaya?"
"Aku percaya." Teriak Bazz-B. "Karena kita teman, Jugo!"
"Bazz-B..."
"Cukup panggil Bazz, seperti dulu!" Ucap Bazz-B memotong ucapan Jugram.

Gigi Bazz-B menggertak karena marah, mulutnya menyeringai senang seakan dia menunggu kesempatan ini. Perasaannya campur aduk. Kedua jarinya berpendar mengeluarkan bara api yang dia membakar semuanya.

"Burner Finger 2!"

Jugram di hadapannya semakin memicing. Dia mengangkat pedangnya, siap mengnebas segala apa yang ada di depannya.

"Rasanya sia-sia kita bicara." Ucap Jugram.
"Lihat ke luar." Seringai Bazz-B. "Sebentar lagi malam, saat Yang Mulia tidur di malam hari kekuatanmu dan kekuatannya ditukar, akan kubunuh kekuatannya-"
"-Bersama denganmu, Pengkhianat."

Bara api terlihat begitu jelas dari tangan dan pandangan Bazz-B. Sepertinya dia sudah menunggu waktu seperti sekarang ini. Waktu dimana dia dapat meluapkan segalanya. Kobaran api di matanya seakan memantulkan kenangan lalu. Saat dirinya masih seorang anak kecil, saat dirinya masih berteman akrab dengan Jugram. Saat dirinya juga harus berlutut ketakutan dihadapan kobaran api yang melalap bangunan di depannya.

"Apa aku salah, Jugo?" Ucapan Bazz-B terdengar lebih tenang, seakan dia ingin menanyakan hal ini sejak puluhan tahun lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar