Bleach Chapter 631 - Friend
Lupakan tentang pertarungan Shinigami dan Quincy, lupakan tentang semua
perang yang beralaskan dendam. Benturan takdir yang tak terelakkan lebih
menggemparkan dari sebuah peperangan. Ikatan yang terjadi selama ribuan
tahun kini menjadi lusuh. Tak ada lagi janji yang terikat, ada lagi
setapak jalan untuk maju. Seakan hanya pertarungan adalah satunya
jawaban.
Bazz-B menyeringai sombong seperti biasa. Dua jarinya membara menyobek
udara. Kakinya melesat ke arah Jugram, menebas teman lamanya itu. Namun,
Jugram juga tak menerima kekalahannya begitu saja, tubuhnya melompat ke
sisi lain. Bazz-B merespon dengan cepat. Panah Suci berupa Bowgun
tercipta di tangannya, pandangannya tajam ke arah Jugram, seakan bisa
menembus kenangannya saat seribu tahun lalu.
Sebuah panah melesat mengejar langkah cepat seekor kelinci. Insting
hewan sang kelinci berhasil membuat dirinya terhindar dari panah di
belakangnya. Namun, sebuah panah lain melesat dengan begitu dari
samping. Tak memberi kesempatan sang kelinci untuk menoleh, tertancap
begitu saja, mati.
"Hah, kau ngapain?!" Seorang anak kecil yang terlihat sekali sombongnya
berteriak dari dahan pohon. Ya, panah miliknya yang tertancap pada tubuh
mati sang kelinci. "Payah banget!!"
"Siapa...?" Suara pelan terdengar dari anak yang lain, dia terlihat
rapi, bersih, seakan keturunan bangsawan, matanya redup bertolak
belakang dengan rambut pirangnya yang terang.
"Oi oi oi oi! Kenapa aku, sang Bazz-sama yang Hebat, harus kenalin diri
dulu?!" Bentak Bazz-B yang terlihat lucu dengan helm berjambul
mohawknya. "Kenalin dirimu duluan, anak bawang!"
"Namamu Bazz..." Ucap anak kecil satunya pelan. "Aku Jugram, Jugram Haschwalth."
Bazz melompat dari pohon, mengambil kelincinya yang sudah mati sejak tadi.
"Gila, bisa-bisanya kau bikin diriku yang hebat mengenalkan diri duluan... dasar licik!" Bentak Bazz. "Tapi kau lumayan sih!"
"Tak ada yang nanya, kau bilang sendiri..." Jawab Jugram tak acuh.
Kepalanya menoleh, sedikit takut Bazz mengikutinya. "Kenapa
mengikutiku?"
"Kenapa... Karena gak mungkin bocah payah sepertimu bisa berburu jadi
kau bakal kuawasi!" Jawab Bazz congkak. "Kenapa mukamu begitu, ayo
ngomong sesuatu! Kau membuatku merasa kayak pengganggu!"
"Mungkin kau benar..." Ucap Jugram masih dengan nada lemah. "Orang
sepertiku tak bisa dibandingkan denganmu. Aku bahkan belum bisa membuat
Heilig Bogen, memang payah."
"Jugo bego, kenapa mikir begitu!" Bentak Bazz sambil menepuk-nepuk bahu
Jugram. "Aku jenius, makanya aku bisa, kau gak sepayah yang kau bilang!
Jangan khawatir, jangan khawatir!"
"Kau duluan yang bilang aku payah..." Celetuk Jugram.
Bazz memamerkan kekuatannya, bowgun di tangan kirinya lenyap berbaur
dengan reishi sekitar. Ya, itulah kekuatan Quincy milik Bazz.
"Gak ada orang lain seumurku yang bisa bikin beginian!" Nadanya kembali sombong. "Coba lihat sekitarmu, ya, 'kan?!"
"Mungkin..." Jugram mengra-ngira. "Aku gak pernah peduli, jadi entahlah. Dan-"
"-tolong berhenti panggil aku Jugo, aku gak suka."
"Kenapa?" Bazz masih menyeringai. "Jadi apa panggilan dari orang tuamu?"
"Aku gak punya orang tua, aku hidup dengan pamanku..."
"Yaa, kalau gitu apa panggilan dari pamanmu?"
"Gak penting, bukan urusanmu, lagipula."
Keduanya diam untuk sesaat. Jugram melanjutkan langkahnya, tapi Bazz masih saja mengikutinya dari belakang.
"Tolong, pergilah." Gumam Jugram yang masih tidak suka diikuti. "Aku harus memburu paling tidak satu kelinci hari ini..."
Bazz langsung melempar kelinci yang dia bawa, tepat mengenai kepala Jugram.
"Aduh..." Suara Jugram sedikit lebih tinggi, "Apa-apaan..."
"Ambil." Perintah Bazz
"Ha?" Jugram bengong.
"Aku gak butuh itu." Teriak Bazz "Bazz-sama ini jenius, tadi aku cuma pamer."
Bazz melepas pin yang menempel di bajunya, melempar tepat ke arah Jugram.
"Jugo, kau anak buahku mulai hari ini." Ucap Bazz sambil senyum licik.
"Jangan dengar apa yang dibilang orang-orang tua, kau bakal kuajari apa
pun-"
"-ayo jadi Quincy terkuat, Jugo..."
Bazz melompat menghilang meninggalkan Jugram. Jugram yang sedari tadi
memasang tampang datar sedikit menyimpulkan bibirnya, tersenyum tipis.
"Ooooii Jugo!" Suara parau tiba-tiba menyapa Jugram. Senyum Jugram
langsung hilang, wajahnya kembali lesu, tatapannya kosong, penuh dengan
ketakutan. "Astaga, masuk ke dalam hutan begini sendirian!"
"Kau mana bisa bertahan tanpaku, Ya, 'kan?" Suara itu terdengar semakin licik. "Jugo-ku yang manis..."
Ingatan Bazz kembali melayang ke masa kini, kembali ke pertarungan
dengan Jugram. Anak panah melesat dari Bowgun yang dia arahkan pada
Jugram. Sayang, gerakan Jugram terlalu cepat untuk dikutinya. Hingga
pada akhirnya anak panah itu hanya menyisakan lubang di tembok samping
Jugram.
"Wahrwelt, 'kan...?" Tanya Bazz. "Kukira namanya Silbern, kenapa mendadak diganti?"
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut sang Sternritter berambut pirang
itu. Tatapan kosong dari orang yang berdiri di hadapan Bazz ini
mengingatkannya kembali pada masa lalu.
"Mau bilang itu bukan urusanku lagi?" Tanya Bazz lagi. "Itu alasan kesukaanmu, 'kan?"
"Ayo ke luar..." Mulut yang sedaritadi diam ini akhirnya membuka suara.
Namun kata-kata yang dilontarkannya ini bukanlah dimaksudkan untuk
menjawab rentetan pertanyaan dari Sternritter berambut Mohawk yang ada
di hadapannya.
"Aku tak bisa membiarkan kastil ini rusak lebih jauh lagi..." Lanjutnya.
Mendengar ucapan Haschwalth membuat Bazz seketika naik darah. Terdengar
baginya seolah orang yang dulu dipanggil sebagai sahabatnya ini
memandang remeh akan dirinya.
"Apa-apaan..." Celutuk Bazz yang kini naik pitam.
"Burner Finger... "
"-3!!!"
Kepulan asap disertai api mencuat dari jari-jari Bazz. Terasa di
sekitanya reiatsu panas yang menanjak naik, terasa panas bak kobaran api
yang muncul tiba-tiba. Bazz siap melesatkan teknik andalannya. Di sisi
lain, Jugram dengan tatapan sedingin es dengan gesit bersiap dengan
pedangnya.
"Setengah tahun setelah bertemu Jugo..."
"Desa kecil tempat tinggal dengan keluargaku dibakar sampai rata dengan tanah.."
Scene kini kembali berpindah dalam ingatan masa lalunya, ingatan Bazz.
Ingatan di mana nampak kobaran api di depannya, kobaran api yang membumi
hanguskan tempat tinggalnya bersama keluarga tercintanya.
"Yhwach yang melakukannya."
"Dia menguasai tanah utara begitu mendadak, bukan dengan panah tapi dengan kekuatan anehnya."
"Segala omong kosong tentang hidupnya selama 200 tahun...
Dan menjadi seorang Quincy pertama..."
Gumam Bazz teruntuk sosok yang dikenal sebagai kaisar bagi para Quincy
saat ini, terlihat menunggangi kuda dengan gagahnya yang diikuti para
pengawalnya.
"Peduli amat."
"Ayo bunuh Yhwach-"
"-Jugo."Seru Bazz.
Mata Bazz kini dipenuhi amarah dan kebencian, timbul akibat dendamnya
atas kehilangan tanah kelahiran beserta keluarganya. Kelopak matanya
terlihat memerah, seperti baru saja menangis. Ah... bukan sepertinya,
tapi memang ia baru saja meneteskan air matanya. Sangat jelas terlihat
ada bekas air mata yang mongering pada kedua belah pipinya.
"Aku juga harus ikut?" Tanya Jugram dengan ekspresi seperti anak perempuan yang lemah.
"Dia juga membakar hutanmu..." Ucap Bazz menegaskan Jugram atas apa yang dilakukan si brangsek Yhwach terhadapnya.
"Tapi kalau kau gak apa-apa, ya udah, pergilah jauh dari sini."Lanjut
Bazz seolah memperlakukan sahabatnya itu seperti anak perempuan.
"Pamanku meninggal di kebakaran itu juga." Kata Jugram sembari menanggapi upapan Bazz tadi.
"Begitu..." Balas Bazz singkatm mengerti akan apa yang dirasakan Jugram setelah kehilangan keluarga satu-satunya yang ia miliki.
...
"Setelah itu... "
"Kita hidup dari uang yang tersisa dari desa yang terbakar.
Bersumpah membunuh Yhwach. "
"Berlatih sekeras mungkin..."
"Kita..." "Tak perlu saling bilang."
"Tapi kita paham...
Harus dekat dengannya untuk membunuhnya."
"Lalu lima tahun berlalu
Begitu saja."
Waktu berlalu begitu cepat, Bazz dan Jugram kini nampak berbeda dari
biasanya.Mata Bazz yang Cuma tercermin keangkuhan kini genting, begitu
pula Jugram yang sebelumnya tercermin sifat lemah di matanya kini
berubah dingin.
Sementara itu, di sisi lain tampak dua Quincy yang sedang berbincang.
Yang satunya berpakaian putih nampak menununduk hormat pada Quincy
berbaju hitam yang berdiri menghadap jendela, menghadapkan wajahnya
sembari melihat wilayah yang kini ia kuasai dari balik kaca jendela
berbentuk persegi empat.
Quincy berpakaian hitam ini adalah Yhwach. Meski belum mempelihatkan
wajahnya, namun ini jelas dapat ditebak, mulai dari rambut coklat
gelapnya yang bergelombang, namun di masa ini belum sepanjang rambutnya
yang di masa sekarang yang terurai begitu panjangnya. Postur badannya
pula masih terlihat tegap layaknya pria paruh baya pada umunya.
Sedangkan Quincy berpakaian putih adalah Zeidritz, Quincy yang
sebelumnya diperlihatkan dibangkitkan oleh kekuatan Zanka no Tachi. Ia
telah mati, namun alasan ia masih berdiri saat ini bukan karena
dihidupkan kembali, melainkan ini adalah gambaran ia bersama Yhwach
seribu tahun yang lalu.
"Pasukan baru...Menurut Yang Mulia?" Tanya pria dengan penupup mata yang tak lain adalah Zeidritz.
"Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia..."
"Tapi kita sudah menguasai seluruh Lichtreich*."
"Saya rasa tak ada perlunya..."
Lanjut Zeidritz penuh tanya. Ya! Itu cukup membingungkan. Untuk apa
membentuk pasukan pada kondisi di mana telah menguasai segalanya, atau
paling tidak untuk apa membentuk pasukan saat kita tak lagi berperang.
Apa sang kaisar akan menyulutkan api perang baru? Namun di manakah
gerangan? -begitu pikirnya.
"Kau salah paham, Zeidritz." Tegas Yhwach.
"-Bukan cuma negara."
"Masih ada... Soul Society, 'kan?"Lanjut Yhwach yang seketika membuat Zeidritz terkejut bukan main.
"...Apa..." Tanggap singkat Zeidritz. Hanya kata itu saja yang mampu ia
keluarkan dari birirnya yang sebagian ditutupi kumisnya yang tebal.
Matanya membelalak seakan mau copot dari kelopaknya.
"Untuk mengalahkan mereka, kita butuh kekuatan baru." Tanggap balik Yhwach meneruskan pernyataannya tadi.
"Pasukan ini akan disebut..."
"-Sternritter." Lanjut Ywach tak gentar dengan wajah yang kini
dipalingkan kea rah bawahannya itu -terlihat perawakannya yang masih
serupa Oldman Zangetsu.
Kenyataan tentang Sternritter, akan terkuak!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar