Bleach Chapter 632 - Friend 2
Masih tenggelam dalam ingatan masa lalu. Cerita tentang dua Quincy yang
memutuskan untuk menjadi sahabat. Cerita tentang dua teman yang ingin
membalaskan dendam pada Yhwach, Quincy Agung yang telah menghancurkan
rumah, keluarga dan kehidupan mereka berdua.
Lima tahun berlalu begitu saja, tak ada waktu bagi mereka untuk bernafas
lega selama itu. Sembunyi dalam hutan, siang dan malam berganti begitu
saja, berlatih sekeras yang mereka bisa.
"Aku tak punya masalah, berhubung aku jenius..." Begitulah batin Bazz selalu bergumam setiap melihat perkembangannya yang pesat.
Namun, ekspresi bangganya selalu berubah ketika melihat Jugram. Dia
terlihat tak punya yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Quincy, selama
lima tahun berlalu, bahkan dia belum bisa mengumpulkan reishi, apalagi
untuk membuah panah dari Reishi.
"Aku ingat dulu pernah dengar soal bagaimana seorang Quincy hanya
lahir 10 tahun sekali, mereka diseleksi sewaktu masih muda karena
dianggap gak sempurna." Sebuah cerita kuno selalu terbesit dalam pikirn
Bazz saat melihat betapa lemahnya Jugram. "Dan sekarang sudah seratus
tahun sejak Quincy terakhir, kebanyakan orang bakal menganggap mereka
cuma legenda. Aku merasa bersama Jugo gak bakal banyak berguna kalau mau
membunuh Yhwach."
Ya, godaan untuk melangkah sendiri selalu menghampiri pikirannya. Namun
Bazz tidaklah buta, dia dapat melihat bagaimana Jugram berusaha sangat
keras dalam kemampuan pedang dan memanahnya sebagai ganti bakat yang dia
tak punya.
"Aku tak bisa meninggalkannya." Selalu begitu jawab Bazz pada akhirnya. "Apa Jugo sendiri sadar soal itu-"
"-Sudah waktunya, lagipula."
Begitulah mereka terus menjadi hidup. Menuliskan sebuah kisah yang
diceritakan berdampingan. Hari terus berganti, hingga tibalah hari
dimana yang sangat dinantikan mereka berdua, dinantikan oleh Bazz.
Sekelompok pasukan berkuda menderap mendekati sebuah desa, panji-panji
yang terhembus angis mengibarkan lambing Quincy yang terajut sempurna.
Semua mata tak bisa untuk tak dapat memandang. Mereka saling bertatap
muka melemparkan pertanyaan satu sama lain. Namun, tak ada satu
jawabanpun terdengar.
"Ada apa ini?" Gumam seseorang.
"Bendera itu..." Sahut yang lain.
Para penduduk langsung berkumpul seakan mereka sudah mendapatkan
perintah. Keadaan semakin ramai, Bazz dan Jugram yang berada dalam hutam
tak bisa untuk tak ikut campur, terlebih yang menjadi pusat perhatian
adalah Quincy.
"Dengar!" Teriak pemimpin pasukan, Hubert, begitulah namanya. "Ini perintah dari Tuan Yhwach!"
"Pengawal pribadi Tuan Yhwach..." Sahut seseorang.
"Ngapain mereka di sini..." Yang lain ikut menimpal.
"Bawa perintah...?" Celetuk yang lain.
"Tuan Yhwach sudah mendeklarasikan dibentuknya pasukan baru!" Teriak
Hubert tak mempedulikan orang-orang yang sedang kebingunan. "Pasukan
yang akan membanggakan kita dengan menyerbu Soul Society-"
"-Disebut Sternritter!"
Kerumunan itu terdiam untuk sesaat. Orang-orang hanya menoleh kanan kiri mencoba untuk mengerti maksud dari pengumumam.
"Menyerbu... Soul Society...?!" Seseorang akhirnya berani bertanya.
"Buat apa dia..." Timpal yang lain.
"Tuan Yhwach merasa kita tak bisa menunggu sampai Soul Society
menghimpun kekuatan melawan kita!" Hubert memotong pertanyaan para
penduduk yang semakin banyak. "Kami akan bertindak tegas dalam
menerapkan wajib militer"
"Kita jauh-jauh ke sini mengejar bendera itu, tapi babar yang merepotkan
sekali ya, Bazz..." Gumam Jugram yang sama sekali tak tertarik.
Namun, Bazz berekspresi berbeda dengan Jugram. Mulutnya menyeringai
seperti singa, wajahnya mereka begitu buas. Matanya mendelik akan
sesuatu yang tak terlihat.
"Kitalah yang akan bertarung demi hidup kita! Demi QUincy!!" Seringainya. "Ayo, Jugo..."
Sambil menyeret Jugram, Bazz berlari menerobos barisan, mulutnya menyeringai seakan menantang
"Aku Bazz dan ini Jugo!" Teriaknya penuh percaya diri. "Kami mau bergabung sama Sternritter kalian!"
"Hah, kalian mau apa?" Ejek Hubert.
"Mikir apa bocah itu...?!" Teriak seorang penduduk.
"Dia... dia bakal dibunuh...!!" Sahut yang lain bertaruh.
"Itu Bazz berandal dari keluarga tuan sebelumnya..." Gumam yang lain.
"Sebentar, Bazz...!" Ucap Jugram tak yakin.
"Ayo pergi." Perintah Hubert sembari membalikkan kudanya. Menyudahi pengumumam.
"Oi, sebentar, mau ke mana kalian?!" Bentak Bazz. "Udah dibilang, aku tertarik!!"
"Ujiannya masih nanti dan aku punya kerjaan lain, sekarang kalian
persiapkan diri saja." Jawab Hubert. "Ini bukan main-main, aku ragu
berandal seperti kalian bisa lolos begitu saja."
"Seperti yang dia bilang... Bazz... ayo pergi." Jugram mulai sedikit takut.
Namun, Bazz justru berbuat sebaliknya. Sebuah panah suci melesat ke arah
Hubert, memberikan peringatan pada kudanya untuk berbenti.
"Jadi yang perlu kulakukan cuma menunjukkan kalian kekuatanku?" Seringai
Bazz. "Coba lawan aku, tuan prajurit! kalau aku menang, aku minta
jabatanmu!"
"Cih, Monyet tak beradap." Geram Hubert. "Kau tipe orang yang tak akan paham sampai dijemput ajal, ya?"
"Oh ya... aku suka kalau ada berita... "Seorang prajurit tewas terbunuh
melawan monyet"..." Bazz memanas-manasi. "Akan kupastikan rekan-rekanmu
menyampaikan berita itu pada Yhwach!"
Keduanya melompat, mencoba untuk memberikan serangan. Namun, sebelum
keduanya terbentur. Udara di sekitar mereka tiba-tiba menjadi berat.
Bazz Jatuh tak dapat menahan tubuhnya, hidungnya terasa sangat berat
untuk bernafas. Udara semakin pekat, semakin memberikan tekanan.
"Apa... Apa yang terjadi...?!" Gumam Bazz yang mulai berkeringat.
Matanya melirik ke arah belakang, melihat seekor kuda hitam dengan
seorang berjubah hitam di atasnya. Matanya yang beriris tiga menatap
tajam entah ke arah mana. Tekanan itu, berasal dari sosok ini.
"Yhawch... Jadi ini yang disebut reiatsu... dia membuat kita semua
mencium tanah dengan reiatsu... apa-apaan..." Geram Bazz tak berdaya.
"Monster brengsek...!!!"
"Mohon ampuni saya, Tuan Yhwach!" Ucah Hubert yang juga kesusahan untuk
berlutut. "Saya tidak seharusnya menerima tantangan bocah ini...!"
"Tak apa, aku menemukan sesuatu yang kucari..." Gumam Yhwach. "Orang yang akan menjadi tangan kananku..."
Sebagian kecil hati Bazz sangat senang. Seringainya semakin melebar,
tubuh lemahnya mencoba untuk bangkit, menunjukkan bila dirinyalah yang
pantas menjadi tangan kanan yang dimaksud.
"Aku di sini, akulah yang kau cari, akulah tangan kanan yang kau cari dan akulah yang akan kembunuhmu... Yhwach!!!"
Namun, mata Bazz hanya bisa membelalak melihat pemandangan di depannya.
Jugram dapat berdiri tegak, seakan tekanan yang membuat Bazz lunglai
tiada pengaruh padanya. Dia beradu tatap dengan Yhwach.
"Kau, aku tahu kau." Suara parau Yhwach kembali terdengar. "Jugram Haschwalth, belahan jiwaku."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar