Bleach Chapter 634 - Friend 4
Dua jiwa beradu, berbenturan, berhamburan...!!
Pertarungan Bazz-B melawan Jugram Haschwalth masih berlanjut. Pertarungan yang seakan tak ada ujungnya itu pun akhirnya mendekati akhirnya. Hantaman keras yang dilancarkan sang Sternritter B itu meluluh-lantahkan bangunan disekelilingnya, hingga membuat Bazz-B yang menerima serangan cepat itu pun terpental jauh dari tempat ia berpijak.
Tetes demi tetes darah mengucur dari tubuh Bazz-B yang kini tersungkur di tanah yang berselumutkan es. Napasnya ngos-ngosan sembari menahan sakit akan luka sayatan itu. Tak ada power-up lagi yang dapat menolongnya sekarang, ia tak dapat lagi mengaktifkan Volstandig!
Dengan kondisi seperti itu, hanya semangat dan kebanggaannya lah yang mendorongnya hingga ia bisa bertahan sampai sekarang.
Tanpa membuang waktu, ia pun mengumpulkan tenaganya yang tersisa untuk bangkit dari keadaan yang menyedihkan itu.
Pertarungan Bazz-B melawan Jugram Haschwalth masih berlanjut. Pertarungan yang seakan tak ada ujungnya itu pun akhirnya mendekati akhirnya. Hantaman keras yang dilancarkan sang Sternritter B itu meluluh-lantahkan bangunan disekelilingnya, hingga membuat Bazz-B yang menerima serangan cepat itu pun terpental jauh dari tempat ia berpijak.
Tetes demi tetes darah mengucur dari tubuh Bazz-B yang kini tersungkur di tanah yang berselumutkan es. Napasnya ngos-ngosan sembari menahan sakit akan luka sayatan itu. Tak ada power-up lagi yang dapat menolongnya sekarang, ia tak dapat lagi mengaktifkan Volstandig!
Dengan kondisi seperti itu, hanya semangat dan kebanggaannya lah yang mendorongnya hingga ia bisa bertahan sampai sekarang.
Tanpa membuang waktu, ia pun mengumpulkan tenaganya yang tersisa untuk bangkit dari keadaan yang menyedihkan itu.
"Hah...Hah..." Hembus napas Bazz-B megap-megap, mencoba bangkit
sembari menodongkan kepalan tangannya melawan tarikan gravitasi yang
menahannya terus menukuk.
Di sisi lain, pemuda yang bertanggung-jawab atas kondisi yang menimpanya ini pun melangkahkan kaki mendekatinya.
"...Menyerahlah, Bazz-B." Seru dingin Haschwalth. "Yang Mulia tak akan diuntungkan dari pertarungan kita."
Sementara Haschwalth sibuk dengan ocehan kemenangannya, Bazz-B yang terluka parah ini semakin parah saja. Seolah darah dalam tubuhnya berebut pintu keluar, darah itu pun berlinang deras dari mulutnya -Bazz-B memuntahkan darah segar.
"Dia gak akan diuntungkan..." Tegas Bazz-B yang berhasil bangkit, meski masih dalam posisi setengah jongkok. "Jelas..."
"Aku ke sini............Memang untuk membunuhnya...!" Lanjut Bazz-B dengan senyum yang tergambar di wajahnya.
Serentak dengan itu pula, ia mengayunkan tangan kanannya ke arah punggungnya. Pergelangan tangannya perlahan diselimuti Reishi panas berbentuk seperti bilah api yang dipancarkan melalui empat jarinya yang terbuka. Reiatsu di sekelilingnya menanjak naik, bahkan selimut es di sekitar pijakannya pun ikut terbakar.
Di sisi lain, pemuda yang bertanggung-jawab atas kondisi yang menimpanya ini pun melangkahkan kaki mendekatinya.
"...Menyerahlah, Bazz-B." Seru dingin Haschwalth. "Yang Mulia tak akan diuntungkan dari pertarungan kita."
Sementara Haschwalth sibuk dengan ocehan kemenangannya, Bazz-B yang terluka parah ini semakin parah saja. Seolah darah dalam tubuhnya berebut pintu keluar, darah itu pun berlinang deras dari mulutnya -Bazz-B memuntahkan darah segar.
"Dia gak akan diuntungkan..." Tegas Bazz-B yang berhasil bangkit, meski masih dalam posisi setengah jongkok. "Jelas..."
"Aku ke sini............Memang untuk membunuhnya...!" Lanjut Bazz-B dengan senyum yang tergambar di wajahnya.
Serentak dengan itu pula, ia mengayunkan tangan kanannya ke arah punggungnya. Pergelangan tangannya perlahan diselimuti Reishi panas berbentuk seperti bilah api yang dipancarkan melalui empat jarinya yang terbuka. Reiatsu di sekelilingnya menanjak naik, bahkan selimut es di sekitar pijakannya pun ikut terbakar.
Serentak dengan itu pula, ia mengayunkan tangan kanannya ke arah
punggungnya. Pergelangan tangannya perlahan diselimuti Reishi panas
berbentuk seperti bilah api yang dipancarkan melalui empat jarinya yang
terbuka. Reiatsu di sekelilingnya menanjak naik, bahkan selimut es di
sekitar pijakannya pun ikut terbakar.
"Burner...Finger..."
"-4!!!" Pekik Bazz-B melancarkan serangannya.
"Sudah kubilang hentikan..." Seru Haschwalth yang mulai kehilangan ketenangan yang biasa tergambar di wajahnya.
"Buzzard Black!!!" Teriak lantang Haschwalth sembari mengaktifkan jurus pedangnya -seketika serangan Bazz-B berhasil dibelokkan ke arah kiri hingga menghantam keras dinding es yang berada di situ.
Namun, meski sudah di atas angin, Haschwalth yang berhasil mematahkan serangan Bazz-B itu lantas mencoba meninggalkan area pertarungan.
" Kenapa? Ayo sini!!" Tantang Bazz-B kepada pemuda yang mencoba lari darinya.
"Kau mau lari lagi?!"
"-Kau segitu takutnya kalah dariku?!"
"Jugo!!!" Rengek Bazz-B yang makin naik pitam.
***
Serpihan kenangan masa lalu antara kedua sahabat ini kembali menerang, scene kini beralih pada setting masa lalu -di mana Bazz-B dulu juga pernah menantangnya.
Anak panah dan pedang dulunya pernah saling beradu, namun serupa dengan saat ini, Haschwalth juga sering menghidari pertarungan darinya, dari Bazz-B.
"Hentikan." Ucap dingin Haschwalth yang mulai menyarungkan pedangnya lagi.
"Sesama Sternritter dilarang bertarung."
"-Sanksinya adalah hukuman mati."
"Berapa kali pun kau memancingku......Aku tak akan melawanmu." Seru Haschwalth yang berbalik arah, berjalan pelan meninggalkan area tersebut, meninggalkan sahabatnya dengan raut waja cela yang tergambar jelas di wajahnya.
Haschwalt terus melangkahkan kakinya hingga tiba di lingkup istana dan tak jauh dari sana ada seseorang yang tersenyum mengamatinya.
"Pasti menyebalkan diganggu sama orang baru." Ujar pria paruh-baya yang sedaritadi mengawasinya. "Mungkin kau kurang cakap sebagai kapten?"
"...Bisa jadi."
"-Saya akan mencontoh Anda, Wakil Kapten Hubert." Balas Haschwalth kepada pria bernama Hubert tersebut yang spontan mengurungkan senyumnya.
"Orang baru itu......Si monyet yang dulu, 'kan?
Biar kuberi dia pelajaran." Tanggap baliknya sembari mengalihkan pandangannya kea rah Bazz-B yang masih berdiri di kejauhan.
"Pertarungan sesama Sternritter sanksinya adalah hukuman mati.
Apa Anda mau mati hanya karena dia?" Haschwalth mengingatkan.
"Yah. Kalau gak ada yang lihat, Yang Mulia gak bakal tahu." Balas lagi Hubert yang nadanya mencari alasan -sepertinya ia sudang kebelet ingin menghabisi Bazz-B.
"Saya yang mengawasi." Tegas Haschwalth yang tidak membenarkan hasrat bawahannya itu. Seketika Hubert mengurungkan niatnya.
Di sisi lain, Bazz-B memungut anak panahnya yang terbuat dari Reishi.
***
Beralih lagi pada situasi saat ini, Bazz-B vs Jugram Haschwalth. Pertarungan yang telah ditakdirkan itu telah mencapai puncaknya. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Bazz-B masih terus saja menyerang Haschwalth -meski dalam hati kecilnya ia tahu jikalau ia tak kan memenangkan saling adu ini.
Dalam gumam selama pertarungan, pikiran Bazz-B dibayang-bayangi memori masa lalu.
"3 tahun setelah kau menghilang bersama Yhwach."
"-Begitu aku bisa masuk Sternritter setelah 3 tahun...
Kau sudah jadi kapten mereka."
"Mungkin kau dari awal sudah jadi kapten.
Tapi aku gak tahu karena gak bersamamu."
"Dan kau..."
"Terus menghindari umpanku."
"-Lagi dan lagi. Berapa kali pun aku memancingmu..."
"...Kau gak pernah...Sekali pun melihatku."
"Jangan bercanda. Lawan aku!"
"Aku...Belum kalah darimu."
"Belum..."
Harapan berbeda tak berbarengan dengan kenyataan, Bazz-B yang mati-matian melancarkan serangannya itu mampu ditundukkan oleh Haschwalth dengan tebasan yang mengakhiri lengan kanannya. Patahan tangan kanannya terpental sangat jauh, namun semangat juang dari Sternritter berambut Mohawk ini tak sirna begitu saja.
"Burner...Finger..."
"-4!!!" Pekik Bazz-B melancarkan serangannya.
"Sudah kubilang hentikan..." Seru Haschwalth yang mulai kehilangan ketenangan yang biasa tergambar di wajahnya.
"Buzzard Black!!!" Teriak lantang Haschwalth sembari mengaktifkan jurus pedangnya -seketika serangan Bazz-B berhasil dibelokkan ke arah kiri hingga menghantam keras dinding es yang berada di situ.
Namun, meski sudah di atas angin, Haschwalth yang berhasil mematahkan serangan Bazz-B itu lantas mencoba meninggalkan area pertarungan.
" Kenapa? Ayo sini!!" Tantang Bazz-B kepada pemuda yang mencoba lari darinya.
"Kau mau lari lagi?!"
"-Kau segitu takutnya kalah dariku?!"
"Jugo!!!" Rengek Bazz-B yang makin naik pitam.
***
Serpihan kenangan masa lalu antara kedua sahabat ini kembali menerang, scene kini beralih pada setting masa lalu -di mana Bazz-B dulu juga pernah menantangnya.
Anak panah dan pedang dulunya pernah saling beradu, namun serupa dengan saat ini, Haschwalth juga sering menghidari pertarungan darinya, dari Bazz-B.
"Hentikan." Ucap dingin Haschwalth yang mulai menyarungkan pedangnya lagi.
"Sesama Sternritter dilarang bertarung."
"-Sanksinya adalah hukuman mati."
"Berapa kali pun kau memancingku......Aku tak akan melawanmu." Seru Haschwalth yang berbalik arah, berjalan pelan meninggalkan area tersebut, meninggalkan sahabatnya dengan raut waja cela yang tergambar jelas di wajahnya.
Haschwalt terus melangkahkan kakinya hingga tiba di lingkup istana dan tak jauh dari sana ada seseorang yang tersenyum mengamatinya.
"Pasti menyebalkan diganggu sama orang baru." Ujar pria paruh-baya yang sedaritadi mengawasinya. "Mungkin kau kurang cakap sebagai kapten?"
"...Bisa jadi."
"-Saya akan mencontoh Anda, Wakil Kapten Hubert." Balas Haschwalth kepada pria bernama Hubert tersebut yang spontan mengurungkan senyumnya.
"Orang baru itu......Si monyet yang dulu, 'kan?
Biar kuberi dia pelajaran." Tanggap baliknya sembari mengalihkan pandangannya kea rah Bazz-B yang masih berdiri di kejauhan.
"Pertarungan sesama Sternritter sanksinya adalah hukuman mati.
Apa Anda mau mati hanya karena dia?" Haschwalth mengingatkan.
"Yah. Kalau gak ada yang lihat, Yang Mulia gak bakal tahu." Balas lagi Hubert yang nadanya mencari alasan -sepertinya ia sudang kebelet ingin menghabisi Bazz-B.
"Saya yang mengawasi." Tegas Haschwalth yang tidak membenarkan hasrat bawahannya itu. Seketika Hubert mengurungkan niatnya.
Di sisi lain, Bazz-B memungut anak panahnya yang terbuat dari Reishi.
***
Beralih lagi pada situasi saat ini, Bazz-B vs Jugram Haschwalth. Pertarungan yang telah ditakdirkan itu telah mencapai puncaknya. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Bazz-B masih terus saja menyerang Haschwalth -meski dalam hati kecilnya ia tahu jikalau ia tak kan memenangkan saling adu ini.
Dalam gumam selama pertarungan, pikiran Bazz-B dibayang-bayangi memori masa lalu.
"3 tahun setelah kau menghilang bersama Yhwach."
"-Begitu aku bisa masuk Sternritter setelah 3 tahun...
Kau sudah jadi kapten mereka."
"Mungkin kau dari awal sudah jadi kapten.
Tapi aku gak tahu karena gak bersamamu."
"Dan kau..."
"Terus menghindari umpanku."
"-Lagi dan lagi. Berapa kali pun aku memancingmu..."
"...Kau gak pernah...Sekali pun melihatku."
"Jangan bercanda. Lawan aku!"
"Aku...Belum kalah darimu."
"Belum..."
Harapan berbeda tak berbarengan dengan kenyataan, Bazz-B yang mati-matian melancarkan serangannya itu mampu ditundukkan oleh Haschwalth dengan tebasan yang mengakhiri lengan kanannya. Patahan tangan kanannya terpental sangat jauh, namun semangat juang dari Sternritter berambut Mohawk ini tak sirna begitu saja.
Harapan berbeda tak berbarengan dengan kenyataan, Bazz-B yang
mati-matian melancarkan serangannya itu mampu ditundukkan oleh
Haschwalth dengan tebasan yang mengakhiri lengan kanannya. Patahan
tangan kanannya terpental sangat jauh, namun semangat juang dari
Sternritter berambut Mohawk ini tak sirna begitu saja.
"Burning Full Fingers!!!!!!!!!!" Menggunakan daya terakhir yang dimilikinya, Bazz-B mengeluarkan serangan terkuat sekaligus serangan akhirnya.
Sia-sia, itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang baru saja terjadi itu. Usaha terakhir, serangan terakhir Bazz-B yang dimaksudkan mengenai Haschwalt justru berbanding terbalik dengan apa yang diharapkannya.
Bahkan sebelum matanya mengedip, Haschwalth sudah berada dibelakangnya setelah selesai dengan urusannya -setelah melesatkan tebasan terakhir yang menyayat lurus dari bahu hingga perutnya.
Bazz-B............yang bertarung ini adalah dirinya, ia yang kita bicarakan saat ini. Semangat juang agaknya masih menempel dalam dirinya. Meski sudah berada pada titik di mana sudah dipastikan ia tak kan menang lagi, ia masih berusaha mengarahkan tangannya, mengarahkan tangannya hingga menjangkau tubuh sahabatnya itu.
Kekalahan yang tak dapat dipungkiri! Bazz-B tertunduk dihadapan sang Sternritter B, tertunduk dengan darah yang masih terus saja menetes dari tangan, perut, dan sayatan vertical dari arah bahu.
"...Aku kalah, Jugo."
"...Brengsek...!"
"Gak ada yang pernah berjalan sesuai rencanaku..."
"Tadinya kukira, kalah darimu..."
"Bakal terasa lebih memalukan."
Seraya hilang kesadaran, kenangan masa kanak-kanak tercermin di matanya...
Terbayang kenangan saat mereka pertama kali bertemu.
"Jugo." Seru Bazz-B kepada Haschwalth kecil. "Mulai sekarang kau jadi anak buahku."
"Ayo jadi Quincy terkuat."
"-Jugo." T.T
"Burning Full Fingers!!!!!!!!!!" Menggunakan daya terakhir yang dimilikinya, Bazz-B mengeluarkan serangan terkuat sekaligus serangan akhirnya.
Sia-sia, itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang baru saja terjadi itu. Usaha terakhir, serangan terakhir Bazz-B yang dimaksudkan mengenai Haschwalt justru berbanding terbalik dengan apa yang diharapkannya.
Bahkan sebelum matanya mengedip, Haschwalth sudah berada dibelakangnya setelah selesai dengan urusannya -setelah melesatkan tebasan terakhir yang menyayat lurus dari bahu hingga perutnya.
Bazz-B............yang bertarung ini adalah dirinya, ia yang kita bicarakan saat ini. Semangat juang agaknya masih menempel dalam dirinya. Meski sudah berada pada titik di mana sudah dipastikan ia tak kan menang lagi, ia masih berusaha mengarahkan tangannya, mengarahkan tangannya hingga menjangkau tubuh sahabatnya itu.
Kekalahan yang tak dapat dipungkiri! Bazz-B tertunduk dihadapan sang Sternritter B, tertunduk dengan darah yang masih terus saja menetes dari tangan, perut, dan sayatan vertical dari arah bahu.
"...Aku kalah, Jugo."
"...Brengsek...!"
"Gak ada yang pernah berjalan sesuai rencanaku..."
"Tadinya kukira, kalah darimu..."
"Bakal terasa lebih memalukan."
Seraya hilang kesadaran, kenangan masa kanak-kanak tercermin di matanya...
Terbayang kenangan saat mereka pertama kali bertemu.
"Jugo." Seru Bazz-B kepada Haschwalth kecil. "Mulai sekarang kau jadi anak buahku."
"Ayo jadi Quincy terkuat."
"-Jugo." T.T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar