DAFTAR ISI

Jumat, Juli 17, 2015

one piece chapter 794

Malam di rumah di atas bukit sebelah Timur Dressrosa, rumah Kyros...
"Robin, kau tak perlu membangunkannya
, aku datang kemari cuma untuk melihat wajahnya untuk terakhir kali sebelum aku pergi.." ucap Sabo.

Di dalam rumah yang tidak begitu besar itu, sudah berkumpul Sabo dan yang lainnya, Luffy, Robin, Zoro, Franky, Usopp, bahkan Law dan Bellamy, dan tentu saja si pemilik rumah, Kyros. Setengah dari mereka sudah tertidur, hanya Robin, Sabo, Franky, dan Zoro yang masih bangun.

"Apa kau benar-benar sudah mau pergi?" tanya Robin.
"CP0 akan kembali kemari, dan yah, kamilah target mereka, jadi... dalam satu atau dua hari lagi Dressrosa pasti akan mengalami kekacauan lagi, jadi sebaiknya kalian juga segera pergi dari sini."

"Tapi wow, aku tak menyangka Luffy punya kakak lain selain Ace..." ucap Zoro.
"Ya, aku juga baru tahu sekarang.." ucap Franky, sambil memperbaiki beberapa bagian tubuhnya yang rusak.

"Mungkin Luffylah yang paling kaget.." ucap Sabo.
"Eh?"

"Selama ini aku membiarkannya mengira kalau aku sudah mati." jelas Sabo. "Saat kami masih anak-anak, Ace, Luffy, dan aku, pak tua Garp merawat kami dengan baik, tapi kemudian kami memutuskan untuk menjadi bajak laut dan saling bersulang sebagai tanda persaudaraan..."

"Tapi kemudian, suatu hari aku mengalami suatu kejadian.. atau yah, bisa disebut kecelakaan.."

One Piece Chapter 794 - Petualangan Sabo
Penulis : Admin Beelze

Waktu masih di kota pembuangan sampah itu, Sabo kecil bertemu dengan Dragon.
"Ada masalah apa, nak?"

"Haah!! Kota ini lebih busuk dari tempat pembuangan sampah!!" ucap Sabo. "Penuh dengan sampah manusia yang telah membusuk!! Selama ada di sini, aku tak akan bisa bebas!!"

Akhirnya Sabo berlayar dengan perahu kecil, dan ketika perahu itu diledakkan oleh kapal Tenryuubitou, Dragon menyelamatkannya. Dragon membawa anak yang terluka itu ke kapalnya.

"Mau berapa lama lagi kau membuat kami menunggu, hah!?" Ivankov membentak Dragon.
"Ah, maaf..." Dragon telat karena harus menyelamatkan Sabo dulu.

"Hei!! Seseorang cepat panggilkan dokter!! Kondisi anak ini kritis!!"

Akhirnya Sabo dirawat di atas kapal itu. Dan tak butuh waktu yang terlalu lama, ia mulai sadarkan diri. Saat ini Sabo kecil sedang terbaring di atas kasur, dengan tubuh yang diperban dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hanya setengah wajahnya yang terbuka.

"Dia sudah mulai sadar, tapi.. kondisinya masih belum pulih betul.."

"Lalu ingatannya... hilang!?"
"Ya, dia bahkan tak ingat siapa namanya.."

"Ada tulisan Sabo di barang bawaanmu, apa itu namamu, nak?" tanya salah seorang anggota RA.
"Sabo? Mana kutahu..." ucap Sabo.

"Dia adalah bagian dari Kerajaan Goa, aku yakin itu.." ucap Dragon.
"Yah, kalau begitu mari kita bawa dia kembali, aku akan mencoba untuk menghubungi keluarganya.."

"Tidak!!" teriak Sabo.

"Eh!?"

"Pokoknya aku tak mau kembali!! Bawa saja aku ke tempat lain, kemanapun!!" teriaknya.

Kembali ke waktu sekarang, "Jadi waktu itu kau benar-benar hilang ingatan, ya?" tanya Zoro.
"Satu-satunya yang kutahu waktu itu adalah aku, apa pun yang terjadi tak mau kembali ke keluargaku. Selain itu tak ada yang kuingat."

"Yah, syukurlah sekarang ingatanmu sudah kembali.." ucap Franky.

"Ace yang memberitahuku semuanya, setidaknya itulah yang aku yakini. Dia berkata padaku, Kau adalah Sabo! Saudaraku dan Luffy. Mungkin timingnya sangat tidak tepat, tapi aku yakin itulah kenapa ia menunjukku."

Kembali ke cerita, sesaat setelah pertempuran besar di markas pusat Angkatan Laut berakhir, salah seorang anggota RA berlari terburu-buru menuju rekan-rekannya sambil membawa koran, "Berita terbaru soal Pertempuran Besar sudah keluar!! Bahkan ada artikel yang menyebutkan tentang kekalahan Shirohige!!"

"Apa Iva-san baik-baik saja!? Dia tak ada dalam daftar korban.."

"Korban yang meninggal adalah.. Yonkou Shirohige dan... Hiken no Ace!!"

Sabo melihat koran itu dan tiba-tiba saja ingatan tentang Ace muncul. "Aku akan menjadi bajak laut!!" Sabo ingat Ace pernah mengatakan hal itu padanya saat masih kecil dulu.

"Dan yang lebih penting, coba lihat ini, Dragon-san!! Apa benar kalau kau itu adalah ayahnya Luffy si Topi Jerami!? Ini pasti bercanda, kan!?"

"Hm? Yah, itu benar..." ucap Dragon seadanya.
"A-Apa!?"

"Wha......" tubuh Sabo tiba-tiba saja gemetaran. "Haah... Haah..." hal aneh terjadi padanya, makin lama ia makin mengingat semuanya.

"Sabo-kun? Ada apa denganmu?" Koala khawatir.

"Hei, apa kalian tahu?" ucap Ace waktu itu sambil membawa sebotol sake, "Kalau kita saling bertukar cawan sake dengan seseorang, maka orang itu akan jadi saudara..."

"Ini...." air mata mengalir di pipi Sabo. Ia terjatuh dan, "Waaaaaaaaaggghhhh!!!!!" Sabo berteriak kencang sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri dan pingsan.

"Orang yang terbunuh bukanlah bajak laut biasa.... Bukan pemain yang paling besar dalam era bajak laut ini... Ace adalah... Kakakku!!"

"Aku tak akan lari dari siapapun!!" ucap Ace waktu masih kecil dulu, "Dan aku yakin aku tak akan kalah dari siapa pun!!"

"!!!" Sabo akhirnya terbangun dari pingsannya.

"Komandan telah sadar!!"
"Benarkah!?"

"Waaaaa!! kami pikir kau akan mati, Sabo-kun!!" Koala menangis tersedu-sedu.
"Demammu parah sekali, Sabo, kau sudah tak sadarkan diri selama tiga hari, kami jadi khawatir.." ucap Hack.

"Apa ingatanmu sudah kembali? Apa kau akan meninggalkan Tentara Revolusi?"
"Tidak..." ucap Sabo. "Apa Dragon-san ada di sini? Ada hal yang ingin kubicarakan dengannya. Juga, aku ingin minta bantuan pada pasukan Revolusi ini... ada buah iblis yang harus kudapatkan!!"

Akhirnya dua tahun kemudian, Dressrosa, Sabo bisa bertemu dengan Luffy.

"Tak mungkin aku menyerahkan buah Mera Mera padamu, Luffy si Topi Jerami.." ucap Sabo.
"Kau ini siapa, hah!? Sok akrab sekali dengan Luffy-senpai!!" ucap kesal Bhartolomeo yang kebetulan waktu itu berada di dekat Luffy.

"Ini aku, Luffy..."

Awalnya, Luffy masih tidak mengingatnya.
"Hm? Ini aku siapa, hah!? Buah Mera Mera itu adalah peninggalan Ace, kalau kau menginginkannya berarti kau adalah musuhku!! Juga, kau memanggilku Luffy tapi kau salah, lihat baik-baik jenggotku ini, aku Lucy!! "

"Mana mungkin aku tak mengenali adikku sendiri, walaupun kau menyamar aku tetap akan mengenalimu..."

"Adik!? Orang yang memanggilku adik cuma Ace dan..." Luffy mulai teringat, "Seseorang yang sudah lama mati...." akhirnya Luffy benar-benar sadar dan menangis dengan penuh haru, "SABOO!!!!!!" ia berteriak sampai-sampai Bhartolomeo terpental.

"Tidak mungkin!!!" Luffy terus menangis.

"Ingat saat kita mencuri sake Dadan dan bertukar..."

"Sabooooo!!!!" Luffy langsung memeluk erat-erat kepala Sabo.

"Aaabhaa yangh twarjadihwaaahh haaah kaaaa...." Luffy menangis.
"Aku juga senang... Luffy!" ucap Sabo. "Aku senang kau masih hidup."

"Tapi... Sabo! Aku.. aku melihat Ace dibunuh tepat di depan mataku sendiri hiks!!"
"Yah, Ace memang sudah mati, tapi, aku senang kau bisa sampai di sini! Kalau kau juga sampai terbunuh, maka aku benar-benar akan kesepian, terima kasih karena kau tetap hidup, Luffy!"

Sabo lalu bertanya, "Apa boleh aku memakan buah Mera Mera itu?"
"Hmmph!!" Luffy mengangguk.

Cerita Sabo berakhir, ia tak bisa lama-lama berada di rumah itu. "Aku pergi sekarang ya.."

"Sudah mau pergi?"
"Aku sudah melihat wajahnya..."

"Ngomong-ngomong, ini, vivre card untuk Luffy, untuk jaga-jaga..." Sabo memberikan selembar vivre card pada Zoro.
"Woah, sejak kapan..."

"Aku akan membawanya sepotong.." Sabo merobek ujung kertas itu dan membawanya. "Yah, aku tahu Luffy hebat, tapi tolong jaga dia baik-baik ya, aku menyerahkanya pada kalian.." ucap Sabo.

"Hiks! Jangan khawatir!!" ucap Franky sambil menangis terharu.

Akhirnya Sabo meninggalkan rumah itu.

"Ya ampun, kata-katanya sama persis dengan yang diucapkan Ace.." ucap Zoro.

Di luar rumah, di taman bunga, Sabo menghubungi menerima panggilan dari rekannya. "Sabo, ini aku, Hack!"

"Ya, aku baru saja keluar dari sana.. aku akan segera kembali." ucap Sabo, beberapa burung hitam kemudian terbang mendekatinya.

"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Luffy-kun?"
Sabo tak menjawab dan malah mematikan teleponnya.

"Kenapa dia malah mematikannya!!??" Hack marah dan memukul si pemegang denden mushi.
"Hati-hati Hack-san!!!!!" setelah sebelumnya ia dipukul Koala kinia ia hampir terkena pukulan Hack.

"Jadi kita bisa pergi kapan saja?" ucap Sabo pada burung-burung hitam yang menjadi tunggangannya itu.

"Yah, kapan saja.."

"Baiklah, kalau begitu ayo bergegas!!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar