Genderang perang terus bertabuh. Tiada keinginan bagi kedua kelompok
untuk mengakhiri perang ini dengan cara damai. Semuanya masih terus maju
dengan pedang terhunus yang siap menebas para musuh.
Di salah satu sudut Istana Raja Roh yang telah membeku, pertarungan Mayuri dan Pernida sudah mencapai akhir. Pernida sudah dilumat habis oleh Konjiki Ashisogi Jizou. Lengan sang Soul King itu sudah tak bersisa lenyap ditelan oleh Ulat Raksasa itu.
Tawa jumawa Mayuri menggelegar penuh semangat, terdengar seperti terompet perang.
“WAHAHAHAHAHAHA
Di salah satu sudut Istana Raja Roh yang telah membeku, pertarungan Mayuri dan Pernida sudah mencapai akhir. Pernida sudah dilumat habis oleh Konjiki Ashisogi Jizou. Lengan sang Soul King itu sudah tak bersisa lenyap ditelan oleh Ulat Raksasa itu.
Tawa jumawa Mayuri menggelegar penuh semangat, terdengar seperti terompet perang.
“WAHAHAHAHAHAHA
“Ada masalah lambung, Ashisogi Jizou?” Tanyanya seakan sosok Ulat besar itu bisa menjawab pertanyaannya. “Kau menelannya bulat-bulat, jadi memang butuh waktu.”
Ashisogi Jizou hanya terdiam dengan mata bulat yang tak bisa berkedip.
“Tapi memang keputusan tepat membuatmu gak bergigi, dengan informasi yang kudapat di saat terakhir.” Senyum Mayuri licik. “Andai kau menggigitnya, dia pasti bakal berlipat ganda di lambungmu dan meledakkan perutmu.”
Sang Zanpakutou memang tak menjawab. Tapi dia bereaksi pada sesuatu yang lain. Matanya yang bulat membelalak semakin lebar. Kepala sang Ulat menggeliat seakan ada sesuatu yang memaksa keluar. Mayuri langsung menyadarinya. Dengan kaki yang masih berpijak di atas Hirenrakyu, Mayuri melompat mundur.
Tubuh Ashisogi Jizou semakin membesar hingga akhirnya meledak begitu saja. Dari arah Ashisohi Jizou, sebuah anak panah melesat tepat ke arah Mayuri. Dengan reflex yang begitu bagus, Mayuri berhasil menghindarinya.
“FUHAHAHAHAHAHA
“Apa caraku ketawa mirip denganmu?” Lengan-lengan raksasa kembali menjulang menyaingi tingginya gedung. Namun, kali ini Pernida menggenggam sebuah busur lengkap dengan anak panahnya.
“Mungkin... Kau lupa...” Ucap Pernida, terbata seperti biasa. “Pernida... Adalah… Quincy… Bunuh... Musuh... Dengan… Panah dan… busur.”
Mata Mayuri kembali menyipit, terpaksa dia harus menunda dulu tawa kemenangan yang sempat dia rayakan sesaat lalu. Namun begitu, dia masih menguasai kendali emosi dirinya.
“Wah, wah...” Senyum palsu tercipta dari tarikan sudut bibirnya. “Bukannya "lupa", tapi, bagi tangan kiri Reiou menyebut dirinya "Quincy", tak pernah kusangka akan kudengar pernyataan memalukan seperti itu darimu!”
“Me...malukan?”
Reiatsu Pernida semakin meninggi. Udara di sekelilingnya bergerak mengikuti tekanan Reiatsu yang keluar dari tubuhnya. Bak cicak yang bisa menumbuhkan ekornya yang putus, Pernida juga dengan mudahnya menumbuhkan kembali jemarinya yang hilang, hingga tangan kiri itu kembali menjadi utuh seperti awal.
“Mengapa menyebut diriku sebagai Quincy menjadi suatu hal yang memalukan?” Pernida terus bicara, seakan dia sudah mulai terbiasa melontarkan kalimat-kalimat
“Apa-apaan barusan?” Sepintas Mayuri merasakan pertanda tak enak. “caranya bicara berubah drastis, memang perbendaharaan kata dan ukurannya semakin banyak dibanding saat pertama bertarung. Apa itu artinya dia mulai memperoleh kembali ingatannya sebagai Reiou—”
“—atau dia berevolusi karena kondisi-kondisi
Pernida semakin gencar dengan serangannya. Reiatsu kembali meluap dari lengan raksasa itu. Reishi di udara mulai menderik. Serpihan-serpih
Tanpa memberikan peringatan, Pernida melesatkan panah-panah sucinya. Mayuri mengelak dengan cukup lihai, kakinya sepertinya sudah terbiasa dengan Hirenrakyu. Namun begitu, Mayuri terlambat menyadari sesuatu.
“Dia menghubungkan panahnya dengan syaraf...!” Teriak Mayuri membatin.
Panah yang melewati Mayuri mengeluarkan syaraf reishi dan merambat melalui udara. Mayuri yang kekuarangan gerak di udara tak bisa mengelak, tangannya berhasil terkena serangan. Umpatan kecil keluar dari mulut Mayuri. Namun begitu, tanpa pikir panjang Mayuri meledakkanna tangannya sendiri.
Pun begitu, serangan Pernida tidak sampai di sana. Panah-panah yang melesat melewati tubuh Mayuri terpantul ketika menghantam tanah. Berbelok ke arah Mayuri.
“Dia mengambil arah panahnya dengan syaraf di tanah dan mengubah arah lajunya?!” Dalam hal ini Mayuri sama sekali berada di luar perhitungan Mayuri.
“Sialan!!”
Mayuri hanya bisa mengumpat menyiapkan dirinya terpanah. Tapi, seseorang melesat ke arahnya. Nemu langsung menagkap panah bersyaraf itu dan langsung memotong tangannya sendiri sebelum syaraf merambat lebih jauh ke tubuhnya.
Tubuh Nemu terlempar menghantam tanah. Syaraf Pernida mulai mendekati dirinya. Mayuri kembali mengumpat sebelum melompat menolong Nemu.
“Goblok!!” Bentak Mayuri kesal. “Siapa yang menyuruhmu ke sini, sedetik aja kau di tanah, kau bakal jadi daging cincang.”
“Saya pikir Anda membutuhkan "tameng".” Ucap Nemu tertunduk hormat.
“Aku gak ingat pernah mengajarimu untuk mengambil keputusan sendiri terlibat dalam pertempuran.”
Nemu terdiam dalam tunduknya.
“Benar, anda tak pernah mengajarkan itu ke saya...” Jawab Nemu mengiyakan.
“Apa maksudmu kau belajar melakukan hal-hal yang gak kuajarkan padamu?”
“Saya tidak tahu.”
Keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Mayuri melihat ke arah Nemu dengan pandangan yang berbeda.
“Nemu.... bukan, Nemuri Nanagou…” Ucapan Mayuri sedikit pelan tanpa intonasi marah di dalamnya. “Sejak gerombolan Kurosaki Ichigo muncul kita banyak terlibat banyak pertempuran, mungkin aku mengajarimu terlalu banyak—”
“—Apa kau tahu betapa repotnya membesarkan "dirimu yang berikutnya" dengan taraf yang sama seperti "dirimu sekarang"?”
“Saya tidak tahu.” Gumam Nemu pelan.
“Kalau gak tahu jangan bertindak atas keinginanmu sendiri!” Suara Mayuri kembali meninggi. “Kau gak berhak untuk mati atas keinginanmu sendiri, kau hanya boleh mati sesuai dengan waktu dan tempat yang kutentukan—”
“—Kalau sudah paham, berdiri!!”
Nemu bangkit dari duduknya.
“Baik, saya paham kesalahan saya... Mayuri-sama.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar