Mayuri dan Pernida dengan akal bulus masing-masing!!
Lick… Krekkk… terdengar lengan yang coba dikendalikan Pernida sebelumnya mengalami peregangan.
“...Payah juga hasilnya. Sudah lama aku gak mengoperasi lenganku, sampai lupa caranya. Memalukan. Hasilnya kurang bagus.” Ujar spontan Mayuri memandangi lengannya.
“Memalukan.” Ejek Pernida dengan sorotan sinis. “Maksudmu...Kau
Ejekan itu rupanya membuat Mayuri mengerutkan senyumnya. Wajah yang tadinya masih sibuk terpaku pada tangannya kini langsung dipalingkan ke arah gumpalan daging berbentuk tangan kiri itu.
“Oh? Menurutmu begitu?” Tanya Mayuri dengan senyum khasnya.
“Mau......Semak
GYAAAAAAAAAAAAA
Sepersekian detik setelah pertanyaan itu dilontarkan Pernida, tiba-tiba dari arah kelingking Pernida yang telah terpisah dari tangannya mengeluarkan suara aneh.
Bukan berbicara, namun tampaknya terjadi sesuatu. Sesuatu keluar tak jauh dari mata jari kelingking itu –sesuatu mirip atau memang itu sebuah jari yang baru dan membentuk kembali menjadi tangan kiri yang baru.
“!” Mayuri terkejut, seolah terkena serangan jantung.
Tangan kiri yang baru saja dibentuk dari jari kelingking yang terpotong itu pun melesat cepat menuju ke arah Mayuri. Semakin dekat…tinggal beberapa meter saja dari tempat Mayuri berdiri. Dengan sigap seolah tak kehabisan akal, Mayuri melemparkanalat
Boommmm! Benda itu meletup seketika, membuat telapak tangan kiri yang baru saja dikembang biakkan itu terkena luka bakar.
“...Jadi, kalau jarinya kupotong, dia jadi tangan kiri yang baru? Berarti gak bisa ya mencincangmu sampai kecil-kecil...”
GYAAAAAAAAAAAAA
Terdengar jeritan lagi, namun dari arah berlawanan. Bersamaan dengan itu pula terdengar bunyi seperti tulang yang diregangkan dari arah berlawanan.
Jari tengah Pernida dipatahkan! Bukan oleh ulah Mayuri, namun nampaknya ini disengaja Pernida sendiri.
“Mau......Semak
“Ahh...Darah...
“...Begitu toh.” Tanggap Mayuri.
“−Aku ingat buku yang pernah kubaca waktu muda.”
Seting kini memperlihatkan kilas-balik ratusan tahun yang lalu, ketika Mayuri masih muda –masih berpenampilan layaknya waktu direkrut Urahara dulu. Mayuri muda terlihat berada di sebuah perpusatakaan, sangat jelas jika dilihat dari rak-rak buku yang tersusun rapi di sekitar situ.
“Tangan kanan Reiou mengatur ‘keberhentian’,
“Walau tertulis di buku, belum tentu berarti benar toh.” Seru Mayuri dengan lantang sembari mengakhiri kilas balik dirinya di masa lalu. “Aku biasanya gak percaya sampai bisa kulihat dengan mata sendiri.”
“−Tapi gak kusangka aku bisa punya kesempatan...Me
“Wah, wah. Pertarungan ini sungguh jadi luar biasa...” Ucap beruntun Mayuri yang Nampak mulai serius –atau katakanlah terpojokkan. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang mengatakan sendiri kondisi itu.
Musuhnya adalah... tangan kiri!! Dan tangan kiri!! Dan... tangan kiri lagi!!
Mayuri yang masih berdiri tegap di depan tiga buah tangan kiri sang Raja yang menjulang tinggi ini pun mulai menampakkan taringnya. Ia yang sedari tadi hanya bermain-main menggunakan barang-barang hasil penelitiannya ini mulai serius. Tangan penuh bekas jahitan itu bersigap mencabut Zanpakutou dari pinggangnya.
“Ban…kai…” Rilis Mayuri dengan lantang. Sementara di sisi lain di pihak SHinigami, Ikkaku dan Yumichika terlihat panik bak kebakaran jenggot.
“Gawat!! Itu Konjiki Ashisogi Jizou!!!” Pekik Yumichika yang berada di samping Ikkaku. Nampaknya ia menyadari betul apa yang akan terjadi bila ‘makluk normal’ seperti mereka berada di dekat Bankai itu.
“Konjiki Ashisogi Jizou bukan cuma bisa menimpa musuh karena besar badannya...Dia juga melepaskan racun dalam radius sekitar 200 meter!!” Lanjut Yumichika yang langsung berlari kea rah Taichou-nya. “Kurotsuchi-tai
“Meracuni sampai mati? Berlebihan sekali...” Mayuri menyela. “Sekarang...Den
“−Konjiki Ashisogi Jizou: Matai Fukuin Shoutai.” *)
“...Ap...Apa-ap
Bukan seperti bayi setengah ulat yang mereka kenal, kali ini bentuknya benar-benar seperti bayi yang mengalami obesitas. Bankai kali ini juga berkulit gelap, di perutnya ada semacam luka sayat, sementara di kepalanya tercapat tanduk yang menggantung lampion di ujungnya.
“Bankai yang dimodifikasi.” Jelas Mayuri memecah ketegangan. “Konjiki Ashisogi Jizou kumodifikasi ulang dengan memasang Matai Fukuin Shoutai, Metamorfosis sempurna dari Konjiki Ashisogi Jizou.”
“−Dengan kemampuannya...
“Tak paham.” Celetuk Pernida yang memang bingung.
“Kau bakal segera paham.” Timpal Mayuri.
OGYAAAA
Jeritan tangis bayi terdengar dari arah Konjiki Ashisogi Jizou. Tak lama dari itu, perut yang ada luka sayatannya ini tiba-tiba ‘melahirkan sesar’ seuatu seperti bayi ulat, wujud serupa dengan Konjiki Ashisogi Jizou versi awalnya.
AAAAAAAAAAAAAAA
Jetitan kembali menggemburuh, namun kali ini berasal dari bayi baru lahir ini –gampangnya ini seperti bayi baru lahir seperti pada umumnya yang mengeluarkan tangis ketika baru bersentuhan dengan udara segar.
“Ashisogi Jizou ini...Urat syarafnya di atas kulitnya.” Terang Mayuri.
GYAAAAAAAAAAAAA
“Jadi walau cuma kena angin atau menyentuh lantai... dia bakal amat, sangat kesakitan sekali.” Lanjut Mayuri yang tadi sempat disela oleh jeritan ‘bayi’ ini. “Tapi selain itu...Bagian pentingnya adalah...Urat syaraf di atas kulitnya...Terb
Seolah mengabaikan Mayuri dengan penjelasannya, Pernida mengeluarkan syarafnya yang langsung diarahkan ke Ashisogi Jizou. Namun sialnya hal ini tak berhasil, sesuatu terjadi dengan Ashisogi Jizou.
“−Dengan kata lain, walau kau bisa masuk ke syarafnya...Lap
Di sisi seberang, Pernida membelalak, terpojokkan, sementara Ashisogi Jizou yang tak berhasil ia kendalikan berbalik serang menuju ke arahnya.
“Kenapa? Bisa kok dilawan.”
“−Asalkan kau bisa menembus 70.000 lapisan syarafnya...Seb
Bersamaan dengan senyum khas Mayuri yang kini ia kerutkan lagi, Pernida pun berhasil tertelan habis ke perut Ashisogi Jizou.
Musuh sudah ditelan, kelihatannya pertarungan berakhir... tapi...?!
Tatapan Nemu menyembunyikan perasaannya...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar