Pertarungan pertarungan yang mendekati akhir itu kembali dimulai. Mayuri
yang sebelumnya berada di atas angina harus menerima serangan
memojokkan dari Pernida. Mayuri harus kehilangan tangannya, bahkan
tanyanya hamper melayang bila Nemu tak muncul menolongnya.
Nemu mengambil keputusan sendiri demi menyelamatkan Mayuri dari bahaya... Mayuri sempat memarahinya, Namun sekarang dimulai kerja sama ayah dan anak...!!
Emosi Mayuri mulai meredam.
“Maafkan saya tak memberikan ini segera, Mayuri-sama.” Ucap Nemu, masih tertunduk hormat pada sang Ayah. Tangannya mengulurkan sesuatu berbentuk serum ke arah Mayuri.
“Ini Hojikuzai.” Ucapnya memperjelas. “Niat awalku adalah membawakan ini untuk Anda.”
Hojikuzai adalah salah satu dari sekian obat yang dimiliki oleh Mayuri. Ini adalah pemulih daging, yang menungkinkan menumbuhkan tubuh yang terpotong sekaligus.
“Kau sadar sejak awal kalau aku lupa bawa Hojikuzai?”
Tanya Mayuri sembari meraih serum itu dari Nemu. Tak dia sangka bila Nemu akan sejauh itu padanya. Mayuri langsung menusukkan serum itu pada Nadinya. Lima detik… ah atau mungkin hanya butuh tiga detik tangan Mayuri itu untuk kembali ke bentuk seutuhnya.
“Sebelum menghadapi musuh saya sadar anda tidak memeriksa lemari obat-obatan, seperti yang biasanya Anda lakukan sebelum bertarung.” Nemu mengiyakannya.
“Mengawasiku begitu tajam ya.” Mayuri sedikit mendelik ke arah Nemu. Namun dibalik kalimat pedasnya, ada pujian... untuk anaknya tercinta. “Mengerikan sekali.”
“Maafkan saya... Mayuri-sama.”
Pernida kembali bangkit seakan sengaja ingin mengganggu percakapan keluarga mereka. Mayuri sedikit mengerti kalau sang musuh ingin segera melanjutkan perang ini. Mayuri melompat dengan Hirenrakyu aktif di bawah alas kakinya.
Dua Pernida yang lain ikut bangkit hingga mereka mngelilingi Mayuri yang masih melayang di tengah udara. Reishi kembali terserap dan membentuk Panah di jemari para Pernida. Mayuri sedikit punya kekuatan tambahan. Sebuah tombol di sepatunya dia tekan, dan Hirenrakyu meningkat ke level yang lebih tinggi.
Reishi dibawah kaki Mayuri juga meluap semakin banyak membuat Mayuri lebih leluasa dan gesit bergerak, layaknya seorang Quincy sejati. Pernida lebih fokus pada panah sucinya, reiatsu yang terpancar darinya lebih besar dari sebelumnya. Reishi di sekitar Pernida juga berkumpul pada satu titik di depan jemari Pernida. Dalam waktu yang hampir bersamaan ketiga Pernida melesatkan panah reishi mereka hampir bersamaan. Panah-panah itu terus menerus menghujani Mayuri seakan Pernida dapat menciptakannya tiada batas.
Beruntung berkat Hirenrakyu Mayuri yang sudah lebih besar, Mayuri dapat dengan mudah menghindari setiap panah yang menghampirinya.
Nemu mengambil keputusan sendiri demi menyelamatkan Mayuri dari bahaya... Mayuri sempat memarahinya, Namun sekarang dimulai kerja sama ayah dan anak...!!
Emosi Mayuri mulai meredam.
“Maafkan saya tak memberikan ini segera, Mayuri-sama.” Ucap Nemu, masih tertunduk hormat pada sang Ayah. Tangannya mengulurkan sesuatu berbentuk serum ke arah Mayuri.
“Ini Hojikuzai.” Ucapnya memperjelas. “Niat awalku adalah membawakan ini untuk Anda.”
Hojikuzai adalah salah satu dari sekian obat yang dimiliki oleh Mayuri. Ini adalah pemulih daging, yang menungkinkan menumbuhkan tubuh yang terpotong sekaligus.
“Kau sadar sejak awal kalau aku lupa bawa Hojikuzai?”
Tanya Mayuri sembari meraih serum itu dari Nemu. Tak dia sangka bila Nemu akan sejauh itu padanya. Mayuri langsung menusukkan serum itu pada Nadinya. Lima detik… ah atau mungkin hanya butuh tiga detik tangan Mayuri itu untuk kembali ke bentuk seutuhnya.
“Sebelum menghadapi musuh saya sadar anda tidak memeriksa lemari obat-obatan, seperti yang biasanya Anda lakukan sebelum bertarung.” Nemu mengiyakannya.
“Mengawasiku begitu tajam ya.” Mayuri sedikit mendelik ke arah Nemu. Namun dibalik kalimat pedasnya, ada pujian... untuk anaknya tercinta. “Mengerikan sekali.”
“Maafkan saya... Mayuri-sama.”
Pernida kembali bangkit seakan sengaja ingin mengganggu percakapan keluarga mereka. Mayuri sedikit mengerti kalau sang musuh ingin segera melanjutkan perang ini. Mayuri melompat dengan Hirenrakyu aktif di bawah alas kakinya.
Dua Pernida yang lain ikut bangkit hingga mereka mngelilingi Mayuri yang masih melayang di tengah udara. Reishi kembali terserap dan membentuk Panah di jemari para Pernida. Mayuri sedikit punya kekuatan tambahan. Sebuah tombol di sepatunya dia tekan, dan Hirenrakyu meningkat ke level yang lebih tinggi.
Reishi dibawah kaki Mayuri juga meluap semakin banyak membuat Mayuri lebih leluasa dan gesit bergerak, layaknya seorang Quincy sejati. Pernida lebih fokus pada panah sucinya, reiatsu yang terpancar darinya lebih besar dari sebelumnya. Reishi di sekitar Pernida juga berkumpul pada satu titik di depan jemari Pernida. Dalam waktu yang hampir bersamaan ketiga Pernida melesatkan panah reishi mereka hampir bersamaan. Panah-panah itu terus menerus menghujani Mayuri seakan Pernida dapat menciptakannya tiada batas.
Beruntung berkat Hirenrakyu Mayuri yang sudah lebih besar, Mayuri dapat dengan mudah menghindari setiap panah yang menghampirinya.
“Kreseekkresek”
Suara samar Mayuri terdengar dari alat pendengaran Nemu.
“Bisa dengar, Nemu?” Suara Mayuri terdengar kembali.
“Jelas…” Jawab Nemu.
“Begini rencananya.” Suara Mayuri terdengar semakin jelas. “Aku akan tetap berputar di atas sambil menyebarkan narkotika konsentrasi tinggi di sekitar area ini. Aku tak yakin apa akan ada efeknya ke tubuhnya, tapi dari sentuhan tadi aku bisa mengukur kekuatan syarafnya. Konsentrasi narkotika ini minimal bakal membuat panahnya gak berdaya.Namun dengan konsentrasi setinggi ini, aku juga akan kena pengaruhnya, apa boleh buat.”
Mayuri masih dalam kendalinya, tubuhnya masih terus berputar menghindar setiap anak panah yang melesat padanya. Nemu mulai melompat mendekati arena pertarungan Mayuri.
“Nemu, tugasmu adalah menyuntikkan cairan pembeku syaraf ke dalam panah yang gak berdaya.” Mayuri melanjutkan penjelasannya. “Cairan pembeku syaraf itu bukan obat bius, yang menutup kemampuan sinyal syaraf dan bakal reda sendiri, sesuai namanya, dia membekukan semua sinyal dari syaraf. Begitu cairan itu mencapai setiap organ yang tersambung ke syaraf, mereka bakal dipaksa lumpuh—”
“—sederhananya,
“Anda bicara terlalu keras, Mayuri-sama.” Koreksi Nemu yang telinganya sudah tak dapat menerima teriakan Mayuri.
“Bawel.” Gertak Mayuri. “Aku tak tahu apa yang ada dalam tubuhnya tapi aku bisa konfirmasi darah mengalir di dalamnya. Dengan obat ini dia bakal kita bunuh dengan pembekuan aliran darah.”
Walau terlalu banyak bicara, entah mengapa masih punya fokus yang besar untuk menghindari semua panah Pernida. Tubuhnya masih cukup lihai melakukan langkah kilat ala Quincy. Mungkin dia sudah latihan sebelumnya. Hah, siapa tahu…
“Syaraf di tanah lumpuh karena narkotikaku, jadi bisa kau injak.” Imbuh Mayuri. “Sebelum dia memutus jaringan syaraf yang terhubung ke panah yang jatuh, suntikkan cairan pembeku!!”
Sesuai dengan perkataan Mayuri. Nemu langsung menapakkan kakinya di dekat panah-panah Pernida yang berjatuhan. Syaraf-syarat yang biasanya merambat menghampiri semua orang di dekatnya itu benar-benar tak berdaya. Tak ingin membuang waktu, Nemu langsung menyuntikkan serum ke salah satu panah Pernida.
Obat yang disuntikkan Nemu langsung bereaksi. Syaraf-syaraf itu langsung melemah dan membeku. Obat itu langsung merambat dengan cepat dan langsung membekukan kedua Pernida sekaligus.
“Skakmat, Pernida.” Teriak Mayuri girang.
Namun, tak seperti dugaan Mayuri. Pernida yang tersisa—Pernida
“Itu gak cukup buat membunuhku, Kurotsuchi!!” Ucap Pernida congkak.
Mayuri tersontak, bukan karena Pernida yang berhasil mematahkan serangannya, tapi karena teriakan Pernida yang terdengar seperti Zaraki.
“Apa-apaan cara bicaranya?! Seakan-akan itu Zaraki yang bicara...” Gumam Mayuri.
Sedetik kemudian Mayuri menyadari sesuatu.
“Itu dia...!” Batinnya menggeram. “Jadi begitu caranya dia berevolusi. Dia bisa menyerap informasi dari segala tempat yang tersentuh syarafnya!!”
Di saat yang sama, Mayuri juga baru menyadari hal lain.
“Masalah besar, kalau syarafnya berevolusi ke tingkat Zaraki, refleks dan kecepatan Nemu gak bakal cukup!!” Batin Mayuri kembali bergejolak.
“Cepat minggir, Nemu!!!” Teriak Mayuri.
Sebelum kekhawatirannya
“Itu pasti kekuatan Matai Fukuin Shoutai-ku...”
Di lain sisi, Nemu juga melihat Mayuri dalam bahaya. Perasaannya bergejolak matanya membelalak penuh dengan emosi.
“Mayuri-sama… Mayuri-sama...”
Semua tak sejalan dengan rencana Mayuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar