DAFTAR ISI

Minggu, September 20, 2015

bleach chapter 643


Sebuah pengorbanan. Rasa bangga yang tumbuh begitu saja dalam diri Nemu. Sebuah rasa yang jauh lebih besar dari rasa hormatnya pada Mayuri. Tanpa ragu, Nemu tergerak untuk menghancurkan musuh yang sedang mereka hadapi. Sebuah keputusan yang tepat baginya untuk mempertaruhkan segala apa yang dia punya. Dia kembali membangkang pada sang tuannya. Namun, dia begitu bangga melakukannya.

“Zanpaku 6%” Nemu menyalurkan reiatsunya pada satu titik. “Akan kupotong 6% dari rohku dan kutembakkan langsung untuk menghancurkanmu
.”

Bukan, bukan hanya reiatsunya yang terkumpul, tapi roh yang ada dalam tubuhnya juga mengalir dari seluruh tubuhnya. Tangan Nemu berpendar dan melesatkan semua kumpulan energy dari telapak tangannya itu.

“Gikou Juurinjuu!”

Mengubah roh menjadi kekuatan, mengubah roh menjadi pemotong roh, itulah satu-satunya yang bisa Nemu lalukan untuk membantu Mayuri. Mengorbankan kehidupan yang diberikan oleh Mayuri. Hal yang pantas untuk dilakukan, setidaknya begitulah menurut Nemu.

Pernida menerima langsung serangan Nemu. Tangan roh itu langsung hancur tertembus energy roh Nemu. Pernida berkeping, roboh begitu saja. Menjungkal ke tanah. Nemu juga terhempas, 6% roh yang terkuras dari tubuhnya membuatnya tak bisa bergerak.

“Mayuri-sama—”

Nemu bergumam tanpa ekspresi sehingga cukup sulit untuk mengatakan dia sedang senang atau sedih. Namun, matanya yang menatap tajam ke arah Mayuri menandakan dirinya cukup lega telah melakukan hal itu. Sebuah pengorbanan yang pantas untuk seorang Mayuri.

Keadaan berkata lain. potongan-potongan tangan yang telah hancur itu tiba-tiba bergerak saat melayang di udara. Potongan tangan itu seakan tumbuh membentuuk tangan baru tepat di belakang Nemu. Nemu hanya tersontok, tubuhnya tak bisa bergerak.

Saraf-saraf menjalar dari potongan jemari Pernida, Nemu yang tak bisa bergerak hanya bisa diam menerima tusukan dari syaraf-syaraf reishi Pernida. Mata Nemu memandang kosong ke arah Mayuri seakan mengatakan seribu maf dari tatapannya. Dan—

—Dhuaaaaar

Tubuh Nemu hancur, darahnya terciprat ke segala arah. Mayuri hanya menatap tanpa rasa percaya. Ciptaannya yang sedari tadi masih tertunduk penuh patuh kini hanya tingga genangan darah yang menjijikkan. Mata Mayuri membelalak, mulutnya tak bisa mengatup seakan engselnya sudah rusak.

“Nemu…” Kata itu terus bergerak mengitari kepala Mayuri. “Nemu—”

“—Tidak mungkin”

Pikiran Mayuri menjadi kacau, kepalanya tak bisa konsentrasi karena otaknya terus berputar. Hingga entah kenapa sosok orang itu berhasil keluar dari dalam ingatan terdalam Mayuri. Szayel Aporro, Espada nomor 8 yang sempat dikalahnya mencuat dari torehan memorinya.

Bayang Szayel tersenyum, mulutnya tersimpul lebar menganga menertawakan kenestapaan Mayuri.

“Oh, sudah merasa depresi?” Sosok ingatan itu sekarang merasa congkak melihat Mayuri yang terjatuh. “Serius, rasanya seakan tak ada harapan, 'kan?”

Mayuri tertunduk, lututnya sedikit gemetar seakan sudah tak mampu menopang tubuhnya. Andai wajahnya tak tertutup oleh make-up tebal, mungkin akan nampak jelas rasa gelisah dan kekecewaan pada wajahnya itu.

“Kenapa barusan? Pendengaranku agak berkurang belakangan ini, coba sini lihat mukamu. Rasanya mustahil, ya, terutama bagi ilmuwan sepertimu yang percaya pasti ada penjelasan untuk segalanya. Tak mungkin, ya rasanya...”

Szayel terus menceloteh menertawai keadaan Mayuri.

“Manusia ciptaanmu mati? Kenapa perlu depresi?” Mulut Szayel membelalak karena terlalu senang. “Aku ingat kau pernah bilang kesempurnaan itu percuma bagi ilmuwan karena kesempurnaan artinya sama dengan keputusasaan. "Aku benci kesempurnaan."...Begitu, 'kan?”

Mayuri terdiam, seakan dia sudi dirinya menerima semua cercaan Szayel.

“Kalau begitu bagus dia mati karena dia tak sempurna, jadi dia mati!! Jadi kau bisa membuat sesuatu yang lebih baik dari yang kau pelajari! Aku yakin kau bakal bilang begitu, benar, 'kan?” Mayuri masih tak bergeming. “Ah… Apa begini kau mulai merasa onggokan sampah ciptaanmu nyaris sempurna, ya? Begitu dalam kejatuhanmu, Kurotscuhi Mayuri.”

Szayel menatap sinis.

“Kau harusnya berterima kasih sama monster tangan kiri ini. Dia membunuh bonekamu untukmu dan, jelas, menghancurkan kesombonganmu itu juga. Kau sekarang sendirian dan putus asa, tanpa punya akal bulusmu lagi, bahkan benda yang kau anggap sempurna itu sekarang juga tiada. Kalau aku lawanmu aku sudah tertawa terbahak-terbahak sekarang!”

Entah bagaimana, tapi semua cercaan dan hinaan Szayel dalam pikiran Mayuri itu sedikit mendorong akal sehat Mayuri untuk bangkit kembali. Mayuri menghela nafas, mencengkram wajah Szayel dalam ilusinya, dan menghancurkannya tanpa bekas.

Kepala Mayuri kembali diambil alih oleh akal sehatnya.

“Ya ampun… betul juga...” Mayuri menyungging senyum. “Dari semua orang, kau yang bisa melihat kesalahnku. Lucu sekali, benar-benar lucu.”

Mayuri mulai sadar bila dirinya berada dalam medan pertempuran Perdina menghantam lantai di samping Mayuri, Mayuri melirik dan mulai sadar bilaPernida sedang memakan potongan tubuh Nemu tanpa ampun.

“Begitu... Kau memakan sisa jenazah Nemu, ya?” Ucap Mayuri. Tapi amarah dalam ucapan Mayuri tak begitu terasa jelas. “Silakan, kubiarkan kau menjilatnya sampai titik darah terakhir.”

Tangan Mayuri bergerak cepat, meraih sesuatu dari jangkauan Penida.

“Tapi aku perlu ambil otaknya.” Gumam Mayuri. “Enak, 'kan, jangan buang waktu melawanku, sana, makan... Kalau kau gak buru-buru... Kau bakal mati sebelum tuntas...”

Tubuh Pernida tiba-tiba tak bisa bergerak. Tangan besar itu tiba-tiba menggumpal, semakin membesar hingga setiap tubuh penuh dengan tonjolan.

“Apa... Apa-apaan ini...?!” Teriak Pernida

“Katakanlah, ini eksperimen kecil. Aku mengganti sel regenerasinya dengan yang bisa menggandakan diri berkali lipat. Cuma mau tahu bisa sejauh mana.” Mayuri mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. “Ini organ-orang khusus yang dibuat di luar akal sehat... mereka akan mengacau di saat darurat. Dan mereka tersambung dan dikendalikan dari otak—”

“—Biar kusederhanakan supaya makhluk tolol sepertimu bisa paham... kalau kau makan semuanya kecuali otaknya...kau bakal hancur dari regenerasi berlebihan.”

Tangan Raja Roh itu terus menggumpal tanpa henti, hingga pada akhirnya hancur seperti tubuh Nemu. Sebuah balasan yang pantas baginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar