DAFTAR ISI

Sabtu, September 26, 2015

bleach chapter 644


Bleach 644. Baby, Hold Your Hand 7

Pada akhirnya Nemu harus memilih jalan terburuk untuk sang tuannya. Tak ada jalan yang bisa dia langkahi selain harus mengorbankan dirinya sendiri. Demi menyelamatkan ayahnya, Nemu harus rela lenyap dari dunia ini. Namun, dia masih tetap berada dalam diri Mayuri, sebagai mimpi yang tak pernah mati.

Pernida itu hancur, tubuhnya terhempas menjadi gumpalan-gumpal
an daging yang kemudian meledak dengan begitu menjijikkan. Sungguh sebuah akhir yang tak pantas bagis sebuah Tangan Raja Roh.

Mayuri berjalan tertatih diantara ledakan ledakan kecil dari serpihan daging Pernida. Tangannya menggenggam erat Nemu yang sekarang hanya berbentuk otak. Mata Mayuri memandang lega sekeliling dirinya sebelum jatuh menyungkur tanah. Nafasnya terasa berat seakan udara tak ingin masuk ke dalam dadanya.

Mayuri mencoba untuk berdiri tapi usahanya itu sia-sia tanpa hasil.

“Sudah kuduga aku bisa selamat dari ledakan, tapi tidak dengan kakiku.”

Darah mengalir dari pergelangan kaki Mayuri. Sepertinya Mayuri terlalu berlebihan melakukan Hirenkyaku hingga kakinya tak bisa lagi menampung tekanan gerak cepat itu.

“Merepotkan, berarti sama aja aku dengan Zaraki.”

Tubuhnya masih mecoba untuk berdiri, tapi tetap saja. Kakinya sudah tak mampu untuk dia gerakkan. Dalam keadaan seperti ini sudah jelas bila dia juga kehilangan obat-obatan yang selalu menjadi andalan. Dua orang datang menghampirinya. Ikkaku dan Yumichika berdiri di hadapan Mayuri.

“Kukira kalian sudah kabur jauh dari sini, Juuichibantai...” Ucapa Mayuri tak suka. “Kalian memang kelompok orang bodoh yang tak bisa dimengerti.”

Ikkaku dan Yumichika hanya terdiam. Agaknya dia sedikit mengerti apa yang sedang terjadi pada Mayuri.

“Yah… Paling tidak, aku harus berterima kasih kalian tak ikut campur di pertarunganku.” Gumam Mayuri. “Sekarang dengar, di bawah reruntuhan di sebelah kanan, sekitar 30 langkah dari sini ada dua penampung tubuh yang dibawa Nemu. Cukup tekan tombol merah, dan benda itu akan terbuka. Bangunkan mereka, mereka baik-baik aja, butuh waktu memang, tapi aku udah mendezombifikasi mereka.”

Dengan sisa kekuatannya Mayuri mencoba menjelaskan apa yang sudah dia lakukan. Tapi tak perlu penjelasan lebih rinci. Ikkaku dan Yumichika pasti akan langsung mengerti apa yang dikatakan Mayuri setelah melakukan apa yang diperintahkan padanya.

Ikkaku dan Yumichika sempat terkejut dengan isi tabung itu. Hitsugaya Taichou dan Matsumoto Fukutaichou. Keadaan mereka sudah berubah, tubuhnya sudah kembali pulih seperti semua, tubuhnya sudah tak dikendalikan lagi oleh orang lain. Mereka bukan lagi zombie.

“Separuh nyawaku seperti merenggang, tapi bukan saatnya mengeluh. Bagaimanapun, dia menyelamatkan nyawaku.” Ucap Hitsugaya begitu mendekati Mayuri. “Kurotsuchi, Terima kasih.”

“Hmmmp!” Gumam Mayuri yang tak biasa menerima ucapan terima kasih, apalagi dari seorang Hitsugaya. “Sekarang, taruh aku dan Zaraki... ke penampung yang kosong itu.”

Tak ada alasan bayi Yumichika dan Ikkaku untuk menolak permintaannya. Mereka tahu bila kedua taichou itu sudah menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Sekarang, membiarkan mereka beristirahat adalah sebuah pilihan yang tepat.

“Sampai ketemu, Zaraki-taichou.” Gumam Ikkaku.

“Kami akan segera kembali.” Janji Yumichika.

Ikkaku dan Yumichika tiba-tiba berlutut di hadapan Mayuri. Tubuhnya membungkuk memberi segala hormat yang mereka punya.

“Kurotsuchi-taichou... Terima kasih karena menyelamatkan Zaraki-taichou...!!”

Mayuri hanya menghela pelan. Matanya menatap Ikkaku dan Yumichika sampai mereka berbalik dan pergi bersama dengan Hitsugaya. Penutup kapsul yang membungkuskan perlahan menutup.

“Ini hari apa ya? Banyak sekali ucapan "terima kasih" hari ini, mengerikan.” Gumamnya sambil tersenyum kecil. “Tapi terserahlah… Evolusi, aku berhasil menciptakan roh dari nol, roh yang bisa berevolusi sendiri—”

“—Sekarang aku di atasmu, Urahara Kisuke. Aku tak bisa membayangkan betapa frustrasinya wajahmu itu tapi aku gak sabar buat melihatnya sendiri. Lain waktu kita bertemu akan kutunjukkan besarnya perbedaan kita, besarnya perbedaan denganku...”

Mayuri mulai terlelap. Matanya semakin berat hingga dirinya tak mampu lagi untuk menatap apa yang ada dalam dirinya. Nafasnya semakin tersengal, tubuhnya sudah tak mampu lagi untuk bertahan. Pikirannya membawa tubuhnya semakin tenggelam dalam kegelapan. Tubuhnya terus terlelap, tapi Nemu datang dalam pikiran Mayuri, meraih tubuh lemah Mayuri.



Di tempat lain, Urahara sadar akan keadaan Mayuri. Reiatsu Mayuri terasa semakin meredam, hawa keberadaan Mayuri terasa semakin tipis hingga hampir tak terasa lagi.

“Kurotsuchi-taichou?” Kyoraku membuyarkan konsentrasi Urahara,

“Betul...” Jawab Urahara,”Yah... aku yakin dia akan baik-baik saja.”

Tak ada hal lain memang, selain percaya pada rekan mereka sendiri.

“Benar, Kita punya masalah lebih besar… Reiatsu di sekeliling kita terasa semakin tipis sampai-sampai kita bisa merasakan perubahan getaran bahkan dari jauh sekali...” Kyoraku mulai menyadari akan teman-temannya yang berjatuhan satu persatu.

“Apa semua fukutaichou sudah dilumpuhkan?” Tanya Urahara pelan.

“Rukia dan aku baik-baik saja… Hinamori juga.” Jawab Renji.

“Jangan lupa Nanao-chan-ku...” Kyoraku menimpal.

“Gawat juga... Kita gak bisa tahu... dari mana mereka bakal muncul.” Geram Shinji.

Dari kejauhan, sebuah mata masih membidik mereka. Lille masih siaga dengan selaras panjangnya, siap untuk menembak kapan saja kesempatan itu menghampirinya. Mulutnya menyungging senyum mengetahui lawannya mulai gelisah.

“Tentu saja aku tahu rasanya… perasaan saat tidak tahu dari mana musuh akan datang tapi hanya bisa melihat rekannya ditembak dari jauh, jatuh satu per satu.” Lille tersenyum puas. “Siapa pun akan ketakutan—”

Mata Lille mulai menilik kalau ada seseorang yang akan bertindak bodoh dalam kelompok itu. Yah, sang pemimpin itu sendiri.

“—Dan kalau ada satu orang pun yang tak ketakutan... Orang itu pasti antara bodoh atau gila.”

Kyoraku mengeluarkan pedangnya. Tubuhnya berbalik sembari mencari reiatsu musuh.

“Udah sejauh ini kita tak tahu apa pun soal musuh...” Gumam Kyoraku. “Mungkin saatnya kita yang mulai bergerak.”

“Bodoh!!” Bentak Shinji seakan dia lupa kalau yang dia bentak adalah seorang Soutaichou. “Jangan berhenti!! Itu yang dimau musuh!!”

Kyoraku berhasil menemukan tempat Lille. Namun, Lille tak butuh sedetik untuk membiarkan Kyoraku berpijak dari tempatnya.

Sssssst

Laras reishi Lille langsung memotong apa yang ada di depannya. Titik potong itu berhasil menembus dada Kyoraku. Sang Soutaichou jatuh seketika.

“Kalian bisa punya formasi sempurna tapi cuma butuh satu orang bodoh buat menghancurkannya.” Gumam Lille. “Aku sudah terlalu sering melihat yang begitu. Kukira kalian para shinigami bakal berbeda.”

“Da— ruma—”

Suara terdengar dari sekitar Lille. Quincy itu hanya mencoba melihat sekelilingnya, memastikan dari mana suara itu berasal. Namun, tetap saja dia tak tahu—

“san— ko— ron—”

“Apa?” Ucap Lille mulai panik. “Dari mana…”

“da—”

Kyoraku muncul dengan tiba-tiba dari bayangan Lille. Tanpa peringatan, Kyoraku langsung menebas Lille. Beruntung reflex sang Quincy cukup baik. Kaki Lille segera melompat mencoba menghindari tebasan Zanpakutou Ryoraku. Tapi, senapa Lille harus menjadi bayarannya. Senjata Quincy itu terbelah menjadi dua.

“Oh kau bisa menghindariku, cepat banget!!” Ucap Kyoraku serius. Matanya memandang tajam lurus ke mata Lille. Tangannya menghunuskan pedang tepat ke arah Lille. “Tapi aku sudah mencabut senjatamu—”

“—Selanjutnya, nyawamu.”

Permainan hidup dan mati!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar