AIR HUJAN masih mengalir deras di Whole Cake Island, ditemani bunyi
petir yang terus menggelegar. Namun tak ada yang lebih menusuk hati
Sanji selain suara yang ia dengar dari balik dinding tempatnya berdiri
sekarang. Suara merdu calon istrinya.
"Ahahaha!! Besok keenam
anggota Keluarga Vinsmoke akan terbunuh!! Tempat pernikahan akan
dilumuri dengan darah... Tapi hati-hati saat kalian mati nanti, ya?
Jangan sampai kue pernikahannya jadi kotor..."
Pudding masih berdiri di depan Reiju, yang terikat kuat dan tak bisa berbuat apa-apa.
Pudding memegang sebuah pistol, memperlihatkan kemampuannya dengan
menembak dinding tempat Sanji berada. Kuat sekali, tembakannya sampai
menembus hancur objek yang dikenainya. Tembakan itu bersarang hanya
beberapa meter di samping kiri Sanji, namun lelaki yang akan menikah
besok itu terlihat sama sekali tak peduli.
Sanji masih
menengadahkan kepalanya ke atas, dengan tatapan suram memandangi
titik-titik hujan yang berjatuhan menyamarkan air matanya.
"Ini
adalah pistol percussion lock dengan peluru kaliber 36, Candy Jacket.."
jelas Pudding membanggakan pistolnya. "Pistol ini bisa menembus segala
macam perisai!! Hebat sekali, bukan??"
Reiju cuek saja
mendengarnya, sementara Pudding terus mengoceh. "Pistol ini bahkan bisa
melukai tubuh bajamu itu!! Fufufu... Aku jadi tak sabar menunggu hari
esok, seperti apa ya ekspresi wajahnya nanti??"
"Pasti akan jadi menyenangkan!! Hahaha!!" Nitro si lendir bertopi tertawa puas.
"Laki-laki itu percaya kalau Pudding sudah jatuh cinta padanya!! Hahaha!!" Rabian si karpet terbang ikut tertawa.
"Laki-laki itu percaya kalau Pudding sudah jatuh cinta padanya!! Hahaha!!" Rabian si karpet terbang ikut tertawa.
"Mungkin ekspresi wajahnya akan jadi seperti ini..."
Pudding lalu mulai memperlihatkan ekspresi-ekspre si menggelikan. ""
"Gyahahaa!! Pasti begitu!!" Rabian dan Nitro tertawa terbahak-bahak.
"Gyahahaa!! Pasti begitu!!" Rabian dan Nitro tertawa terbahak-bahak.
"Mungkin juga seperti ini... Pudding... chaan..."
"Gyahahaha!!!!" tawa dua mahkluk itu semakin kencang.
"Hei, kenapa kau tidak mengatakan apa-apa?? Dia itu adikmu, kan?? Apa
kau mau tahu apa yang dia katakan saat melamarku?? Inilah bagian
terbaiknya!! Dia benar-benar melamarku sambil melepas masker yang
menutupi wajah jeleknya!!"
Kenangan yang sangat bodoh untuk Sanji
ingat-ingat. Karangan bunga dan bekal makanan di tangan Sanji telah
jatuh di atas rumput. Sanji berusaha untuk menghidupkan rokok di
mulutnya tetapi tidak bisa. Hujan terlalu deras.
"Saat melamarku, dia memelukku dengan erat sambil bilang begini... Kamu adalah satu-satunya penyelamatku, mari kita menikah!!"
Pudding bicara dengan pipi bengkak menirukan Sanji, yang tentu saja membuat Nitro dan si karpet terbang tertawa semakin puas.
Lagi-lagi Reiju hanya bisa terdiam.
"Bisakah kau membayangkan ada orang yang melamar seperti itu!? Hahaha!!
Tidak masuk akal, kenapa juga aku harus menikahi pecundang seperti
dia!?"
Sanji berusaha untuk menghidupkan rokoknya lagi, tapi
tetap tidak bisa. Tentu ia tahu kalau api tak akan bisa hidup di bawah
guyuran hujan, Sanji pasti tahu hal itu. Tapi apa lagi yang bisa
dilakukannya?
Sanji bahkan sudah tak kuat untuk menatap ke
ketinggian langit. Kepalanya kini tertunduk, membiarkan air di matanya
menetes dengan lebih mudah.
Di ruang harta, Brook yang kelihatannya baru saja menerima serangan dari Big Mom berusaha untuk bangkit kembali.
Big Mom tertawa, "Kenapa kau masih saja berdiri, Soul King!? Apa kau
jauh lebih menginginkan batu itu dibanding merebut kembali Sanji??"
"Sanji adalah lelaki yang baik, jadi kupikir demi kami dia tak akan
pernah kembali lagi.." ucap Brook. "Aku tak tahu jebakan seperti apa
yang sudah kau ciptakan untuknya, tapi Sanji tak akan pernah berhenti
sekalinya ia memutuskan untuk berkorban demi seseorang!!"
"Di sisi lain," ucap Brook lagi, "kapten kami adalah lelaki yang terus
mengikuti tujuannya!! Jadi masalah itu biar mereka berdua saja yang
menyelesaikanny a...!!"
"Begitu ya... Jadi kau merasa tak ada kaitannya dengan itu makanya mengincar batuku..."
"Tidak juga!! Meski kemungkinan terburuknya, Sanji benar-benar tidak
kembali, dengan mendapatkan Road Poneglyph, kami bisa memperoleh harta
yang berharga di sini, dan Sanji tak akan menyalahkan dirinya sendiri!!"
"Kemungkinan terburuk katamu?? Apa kalian pikir kalian berdua tidak akan mati, hah!?"
Brook membalas, "Orang bodoh mana yang berencana untuk mati, Nona Muda!?"
Di dunia cermin, Brulee tertawa terbahak-bahak. "Haaaa!!! Hentikan!!! Wiih wiih fiih!! Hentikan!!!"
Carrot mengelitikinya. "Jangan mengelitikiku!! Aku akan mengatakannya!! Haaahh!!"
"Baik, hentikan, Carrot.." ucap Chopper.
"Cepat jawab, kastilnya ada di mana!?"
"Cepat jawab, kastilnya ada di mana!?"
"Kau... awas kalian nanti ya..." Brulee kesal tapi pada akhirnya ia
memberi petunjuk. "Aku tidak tahu cermin yang mana, tapi kalian bisa
langsung bertanya pada para cermin!!"
"Bertanya??"
"Para cermin tahu apa yang tercermin pada mereka!!"
Carrot dan Chopper pun berteriak, "Hooooi Cermin-Cermin!! Di mana cermin yang menuju ke kastil...!?"
Cermin-cermin menyahut..
"Hai...!!"
"Itu aku...!!"
"Aku juga...!!"
"Hai...!!"
"Itu aku...!!"
"Aku juga...!!"
"Akulah cermin di lemari Garetto-sama!!"
"Aku cermin kecil di ruang tamu lantai 2!!"
"Aku cermin di toilet wanita lantai 4!!"
"Aku cermin kecil di ruang tamu lantai 2!!"
"Aku cermin di toilet wanita lantai 4!!"
Chopper lalu bertanya lagi, "Adakah cermin yang menuju Luffy, Nami, Brook, Pedro, atau Sanji!? Kami mencari mereka!!"
"Siapa??"
"Wajahnya seperti apa??"
"Sanji-sama sudah lewat tadi..."
"Wajahnya seperti apa??"
"Sanji-sama sudah lewat tadi..."
"Serahkan padaku, Kachopper!!" Carrot menyiapkan pena dan kerta, "Aku pandai menggambar wajah!!"
Sanji masih tertunduk, di bawah hujan, di antara karangan bunga dan bekal makanan yang tergetak di samping kakinya.
"Baiklah, kakak yang manis..." Pudding berkata pada Reiju.
Pudding melakukan sesuatu yang tak terduga. Pudding menyiapkan tangan
kanannya, menggunakan kemampuan khusus yang dimilikinya untuk mengambil
sesuatu dari kepala Reiju.
"Aku akan berada dalam masalah kalau kau mati sekarang, apalagi kalau kau sampai mengungkap identitasku pada mereka..."
"!?" Reiju kaget, Pudding mampu mengambil ingatan dari kepala
seseorang. Reiju menjerit saat ingatannya ditarik keluar begitu saja.
"Ini adalah kekuatan Memo Memo no Mi!!" jelas Pudding. "Semua orang
memiliki kenangan yang direkam dalam kepala mereka seperti film. Kau
juga pasti mempunyai kenangan yang menyakitkan dan membuat frustrasi,
kan??"
Dan Reiju menjadi tidak sadarkan diri.
"Sekarang aku akan mengubah ingatanmu yang tertembak olehku... "
Pudding lalu menggunakan guntung untuk memotong ingatan Reiju tentangnya.
Pudding lalu menggunakan guntung untuk memotong ingatan Reiju tentangnya.
"Tinggl edit, selesai... Fufufu!! Semua kenanganmu bersamaku telah kupotong!! Mari kita bersenang-senan g pada upacara pernikahan besok!! Panggil prajurit, bawa dia ke dokter..."
Di luar kini hanya terlihat karangan bunga yang bersandar di pinggir
tembok, Sanji dan bekal makanan yang dibawanya telah pergi menghilang.
Di Perpustakaan Tahanan, Luffy masih terus melanjutkan aksi gilanya
untuk memutus kedua tangannya. Nami jadi semakin menjerit ketakutan,
"Gyaaa!! Hentikan, Luffy!! Darahmu banyak mengenaiku!!"
"Uuuh!! Sedikit lagi!!!"
Charlotte Opera yang sejak tadi duduk mengawasi sampai mendekat, "Jangan memaksakan diri..." ucapnya.
Opera lalu menanyai Nami, "Hei perempuan, Mama memintaku untuk menanyaimu mengenai keberadaan Lola, jadi cepat katakan!!"
"Untuk apa juga aku menghianati sahabatku!?" Nami membentak.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiksamu..."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiksamu..."
"Jangan bicara seenaknya!!" bentak Nami.
"Baiklah, aku akan menembakmu dalam lima detik, kalau mau bicara
cepatlah katakan..." Opera bersiap untuk menembak Nami dengan panah
crossbow.
"H-Hei!? Apa yang kau lakukan!? Kalau begitu aku akan mati!!"
"Makanya cepat katakan!!"
"Makanya cepat katakan!!"
"Kau tak perlu khawatir, Nami!! Dalam lima detik tanganku sudah akan putus, aku tak akan membiarkannya membunuhmu!!"
"Eeeeh!?" Nami malah lebih menghawatirkan tangan Luffy.
"Aku tidak mau mati!! Tapi juga tidak mau tanganmu putus, pokoknya jangan!!"
"Jangan egois!!" bentak Luffy dan Opera barengan.
"Jangan egois!!" bentak Luffy dan Opera barengan.
Seseorang kemudian datang...
"Hei, apa ada orang di sini??"
"Hei, apa ada orang di sini??"
"Aa.." Opera kaget. "Hei, hei, kau di larang memasuki tempat ini..."
"Banyak kekacauan di mana-mana, maafkan aku, Opera..." orang itu lalu bersiap, "Go Senmaigawara... Seiken!!!"
"Banyak kekacauan di mana-mana, maafkan aku, Opera..." orang itu lalu bersiap, "Go Senmaigawara...
Baaaaaammm!!! Orang itu menghantam Opera dengan karate manusia ikan, Jinbe.
Luffy, Nami, mereka semua kaget...
Termasuk Opera...
Termasuk Opera...
"Jin... Be..." Opera langsung pingsan oleh tinju Jinbe.
"Jinbe!! Kenapa kau bisa ada di sini!?"
"Hei Luffy, Nami... Kudengar kalian tertangkap, tapi syukurlah kalian
tidak kenapa-kenapa. Bicaranya nanti saja, pertama-tama apa kalian mau
keluar dari tempat ini??"
"Mauuuu!!!!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar