Sweet city, warga dilanda kekacauan karena mahkluk misterius mendadak bermunculan di cermin-cermin mereka: Chopper dan Carrot.
Chopper dan Carrot tampak masih sibuk mencari-cari keberadaan Luffy dan
yang lainnya, cermin demi cermin yang menghubungkan mereka dengan dunia
nyata pun mereka cek satu per satu. Akibatnya, orang-orang yang
kebetulan berada di depan cermin jadi kaget.
"Gyaaaa!!!"
g
Chopper terus mencari, berpindah dari satu cermin ke cermin lainnya.
"Bukan yang ini, bukan yang ini juga... Bukan..."
Chopper terus mencari, berpindah dari satu cermin ke cermin lainnya.
"Bukan yang ini, bukan yang ini juga... Bukan..."
Dan orang-orang yang berada di depan cermin semakin syok. Carrot bahkan
mengecek sebuah cermin yang terhubung dengan cermin di kamar mandi.
Wanita cantik yang sedang mandi di dalamnya pun langsung menutupi tubuh
telanjangnya sambil berteriak, "Kyaaa!!"
Sial nasib Chopper, ia
malah mengecek kamar mandi di mana yang mandi adalah seorang laki-laki.
"Gyaaaaa!!!!" laki-laki itu dan Chopper sama-sama menjerit.
Untuk
mempercepat pencarian, mereka bergerak dengan menunggangi Diesel si
manusia kereta yang sudah mereka hajar. Mereka juga membawa Brulee yang
telah pingsan.
"Di mana mereka!? Bangun, Brulee!! Di mana
kastilnya!?" Carrot berusaha untuk membangunkan wanita itu namun Brulee
tak kunjung sadar.
"Tak akan ada habisnya kalau kita mencari satu per satu seperti ini!!" ucap Chopper.
"Diesel, apa kau punya ide!?"
"Tidak!! Tidak punya, sialan!!" Diesel mau melawan tapi ia takut dihajar lagi.
"Diesel, apa kau punya ide!?"
"Tidak!! Tidak punya, sialan!!" Diesel mau melawan tapi ia takut dihajar lagi.
"Selama kita bersentuhan fisik dengan Brulee, kita bisa dengan bebas
keluar masuk dunia cermin.." ucap Chopper. "Seingatku, Luffy dan Nami
berencana untuk pergi ke kastil, tapi apa mereka berhasil bertemu dengan
Sanji ya?"
"Tempat ini terhubung dengan semua cermin yang ada di
Whole Cake Island, jadi harusnya mudah untuk bisa masuk ke dalam
kastil!!"
Carrot terus berusaha untuk membangunkan Brulee, "Sadatlah, Brulee!!"
Di ruang tamu tempat Sanji berada, ia tampak masih sibuk memasak untuk
calon istrinya. "Ah tidak!!" Sanji menjerit. "Aku membuat kotak makanan
yang terlihat kasar begini karena kebiasaan!! Pudding pasti tak mau
memakannya, apa yang telah kulakukan!?"
Terbiasa membuatkan bekal
makanan untuk Luffy yang penuh daging, Sanji takut masakannya itu tak
mau dimakan oleh Pudding-chan yang manis...
"Yah yah, kalau ada
yang tersisa biar aku yang memakannya semua!!" ucap Sanji, lalu
membayangkan Pudding yang tak kuat memakan semua makanan itu lalu
menyapinnya, "Aku tak bisa makan sebanyak ini, kamu bantu aku makan ya,
Sanji-kun...."
"Kyaaaa!!!" membayangkannya saja membuat hati Sanji deg-degan.
Penjaga ruangan itu sampai bertanya-tanya,
"Kau ini kenapa sih??"
"Kau ini kenapa sih??"
Sanji pun pergi keluar, dengan senyum ceria, dan karangan bunga di tangan.
"Apa kau mau pergi jalan-jalan??"
"Apa kau mau pergi jalan-jalan??"
"Begitulah..." ucap Sanji. "Mau keluar sebentar dan mendapat kekuatan
penyembuhan dari satu-satunya cahaya harapanku di dunia ini!!"
Sanji benar-benar berharap kalau Pudding, calon istrinya, satu-satunya
cahaya harapannya di tengah kekacauan itu bisa paling tidak mengobati
rasa sakit di hatinya...
Di Perpustakaan Tahanan, Luffy
mengamuk. Sekuat mungkin ia berusaha untuk melepaskan tangannya yang
terpaku di dalam buku, terus berusaha meski tangannya sampai
berdarah-darah, "Haaaaaaaahhh!! !"
"Berhenti, Luffy!! Apa yang kau lakukan!?" Nami berteriak.
Charlotte Opera masih duduk berjaga di depan mereka.
"Percuma saja.." ucapnya.
"Percuma saja.." ucapnya.
"Hentikan, Luffy!! Kalau kau terus melakukannya bisa-bisa tanganmu putus!!"
"Memang itu yang mau kulakukan!!" teriak Luffy.
"Memang itu yang mau kulakukan!!" teriak Luffy.
Luffy tak peduli meski ia harus memutus tangannya sendiri untuk bisa keluar dari kurungan itu. Nami kaget, "Eeeh!?"
"Memangnya ada pilihan lain untuk keluar dari sini!? Lebih baik aku
kehilangan kedua tanganku daripada harus mati di tempat seperti ini!!"
"Sementara kita diam menunggu di sini, bermimpi akan ada orang yang
datang menyelamatkan kita, semuanya akan berakhir bahkan sebelum kita
mengetahuinya!! Setelah itu,
Big Mom akan datang dan membunuh kita!! Aku tak mau berakhir seperti
ini!! Kau juga putuskan saja tanganmu, Nami!!"
"Apa yang salah denganmu, hah!? Aku mana mau!!" Nami membentak.
"Kalau begitu akan kucarikan cara lain setelah aku bebas nanti!! Kau jangan banyak protes lagi!!"
"Aku tak mau melihat tanganmu putus, bodoh!! Hentikan kegilaanmu ini!!"
"Jangan banyak protes!! Aku bukan orang yang akan mati di tempat seperti ini!!"
"Jangan banyak protes!! Aku bukan orang yang akan mati di tempat seperti ini!!"
Lantai 3 halaman gedung, Pedro dan Tamago masih terus bertarung...
Pedro, Mantan Kapten Bajak Laut Nox
Bounty 300.008.200 Berry
Bounty 300.008.200 Berry
Baron Tamago, Kesatria dan Petarung Bajak Laut Big Mom
Bounty 400.002.900 Berry
Bounty 400.002.900 Berry
Keduanya melesat dan saling hantam, serangan kuat dan cipratan kilat
yang begitu cepat dan hebat. Pasukan Big Mom hanya bisa terdiam
menyaksikan...
Sambil menyerang, kilasan masa lalu terlintas...
Pedro yang masih menjadi kapten bajak laut, bersama salah satu anak buahnya bertanya pada Pekoms, "Pekoms... Apa benar kau beraliansi dengan Bajak Laut Big Mom!?"
Pedro yang masih menjadi kapten bajak laut, bersama salah satu anak buahnya bertanya pada Pekoms, "Pekoms... Apa benar kau beraliansi dengan Bajak Laut Big Mom!?"
Pekoms kaget, "Pedro... Zepo!!"
Pertarungan mereka berdua terus berlanjut, "Kali ini tak akan kubiarkan
kau lolos hanya dengan kehilangan satu mata!!" teriak mereka bersamaan.
Senjata masing-masing saling hantam.
Kilas balik kembali terjadi, ke saat ketika Big Mom menggunakan alat
undi, roulette yang sama dengan yang ia gunakan pada Jinbe untuk Pedro.
Big Mom memutarnya dan mendarat di angka 100...
"Temanmu memutar roulette dan mendarat pada pilihan seratus tahun!!"
Big Mom pun mengambil 100 tahun sisa umur rekan Pedro, Zepo.
"Zepoooo!!!" Pedro menjerit.
"Zepoooo!!!" Pedro menjerit.
"Yah, sayang sekali dia hanya memiliki sisa umur 30 tahun, sini, berikan sisa 70 tahun lagi dari umurmu!!!"
Pekoms menangis tersedu-sedu, "Gao!!! Mama, dia sudah kuanggap seperti saudara sendiri!!"
"Hah!! Berhenti menangis seperti bayi, Pekoms!! Baiklah, akan kuberi
diskon 10 tahun!! Tapi aku tetap marah karena kau sudah merusak satu
mata Tamago... Jadi akan kuambil 60 tahun sisa umurmu, bagaimana!?"
"Aku tak boleh mati di sini!!" ucap Pekoms. "Fajar dunia ini telah dekat!! Aku harus kembali ke negeriku!!"
"Mamamama!!" Big Mom tertawa, "Aku suka semangatmu itu!! Baiklah sudah
kuputuskan aku hanya akan mengambil 50 tahun sisa umurmu, terus
hiduplah!!"
Dan begitulah...
Apa yang terjadi lima tahun yang lalu...
Apa yang terjadi lima tahun yang lalu...
Baron Tamago mampu menahan serangan-serang an
listrik Pedro. "Aku mengunakan pakaian yang melindungi tubuhku dari
serangan electro!!" Baron Tamago lalu menendang, "Legg Benedict!!!"
Baaaammm!!! Pedro terlempar jauh.
Tamago mendekatinya, "Jawab pertanyaanku, Pedro!! Kenapa kau kembali
lagi ke sini!? Kenapa kau kembali ke tempat di mana kau kehilangan 50
tahun yang berhargamu!?"
Kembali ke Sanji, ia telah sampai di depan kamar Pudding... Ia mau masuk, namun pintunya tidak mengizinkan..
"Ayolah..." Sanji menawar.
"Pokoknya tidak, bodoh.." ucap si pintu hidup. "Nona Pudding saat ini sedang S.I.B.U.K, paham?"
"Pokoknya tidak, bodoh.." ucap si pintu hidup. "Nona Pudding saat ini sedang S.I.B.U.K, paham?"
"Aku hanya mau berkunjung sebentar saja..."
"Pokoknya tidak, bodoh!! Sana pergi saja!!"
"Pokoknya tidak, bodoh!! Sana pergi saja!!"
Sanji pun kepikiran...
"Kalau tidak salah kamar Pudding punya balkoni..."
"Kalau tidak salah kamar Pudding punya balkoni..."
Sanji keluar, dan cuaca di luar masih hujan deras...
"Apa aku berikan bunga ini lewat jendela saja, ya? Tapi, tapi... Bukankah itu tidak sopan? Bagaimana kalau aku mengganggu privasinya?? Tapi yah, besok juga kami akan menikah, tidak masalah kan kalau aku memergokinya sedang ganti baju... Atau malah sedang telanjang. Kyaaaa..."
"Apa aku berikan bunga ini lewat jendela saja, ya? Tapi, tapi... Bukankah itu tidak sopan? Bagaimana kalau aku mengganggu privasinya?? Tapi yah, besok juga kami akan menikah, tidak masalah kan kalau aku memergokinya sedang ganti baju... Atau malah sedang telanjang. Kyaaaa..."
Sanji malu sendiri...
Pedro menjawab pertanyaan
Tamago, "Bajak Laut Topi Jerami adalah penyelamat kampung halamanku!!
Aku percaya merekalah yang akan membawa dunia menuju fajar!! Orang-orang
itu... Suatu hari nanti akan melampaui kita semua dan mengubah dunia
ini!! Meyakini hal itu, aku tak akan menyesal meski harus menghabiskan
semua umurku yang tersisa seperti ini!!"
"Tapi jangan salah
paham..." Pedro berdiri kembali, "Aku tak berniat untuk mati di tempat
ini!! Sampai Topi Jerami mencapai tujuan mereka di pulau ini, aku tak
berniat untuk mati di sini!!"
Pedro melesat dan menebas dengan
sangat cepat, sangat kuat, serangan yang tak bisa Tamago antisipasi,
tebasan yang membelah dua tubuhnya...
Sanji akhirnya menyusup ke kamar Pudding lewat jendela...
Tampak Pudding yang tengah tertawa, "Ahahaha!!"
Tampak Pudding yang tengah tertawa, "Ahahaha!!"
Sanji diam-diam mengintip dari balik jendela. "Bagus, sepertinya moodnya sedang baik sampai bisa tertawa-tawa... Tapi... Dia sedang bicara dengan siapa ya??"
Pudding tidak sendirian, di depannya tampak seorang wanita yang duduk di atas sebuah kursi. Reiju.
Sanji kaget, "Reiju!? Kenapa dia ada di sini!? Apa yang sebenarnya terja..."
"Lucu sekali..." ucap Pudding dengan suara liciknya...
Pudding tertawa-tawa dan akhirnya memperlihatkan mata ketiga yang berada di dahinya, "Berhenti bermimpi, bodoh!! Aku, menikahi si bodoh itu!? Tidak mungkin!!"
Pudding tertawa-tawa dan akhirnya memperlihatkan mata ketiga yang berada di dahinya, "Berhenti bermimpi, bodoh!! Aku, menikahi si bodoh itu!? Tidak mungkin!!"
Sanji mendengarnya, dan ia langsung tertegun, matanya terbuka lebar...
"Aku ini salah satu anak favorit Mama, tahu? Dia sangat menyukai betapa
hebatnya aku beracting. Selama ini ia terus memanjakanku, dan saat ia
memintaku untuk membodoh-bodohi
orang itu, aku tahu ini akan jadi tugas yang mudah!! Si Topi Jerami itu
juga bodoh sekali... Satu-satunya yang tahu sifat asliku hanya anggota
keluargaku!!"
Kembali ke Perpustakaan Tahanan...
"Hentikan, Luffy!! Berhenti melukai dirimu sendiri!!" Nami terus
berusaha untuk menghentikan kaptennya. Tapi tidak ada gunanya, Luffy
sudah benar-benar marah.
"Dan si Pudding sialan itu!! Aku tak akan pernah memaafkannya!!"
Sebelumnya, Pudding berbisik pada Luffy, "Dengar, alasan kenapa aku
tidak akan pernah menikahinya adalah karena aku akan menembak mati si
bodoh yang sudah jatuh cinta padaku itu saat hari pernikahan nanti..
"Aku juga tak akan membiarkan kalian tetap hidup.." ucap Pudding lagi
dan kemudian pergi dan berkata, "Selamat tinggal, tikus-tikus
rendahan..."
Luffy benar-benar kesal, "Si kurang ajar itu sejak
awal memang berniat untuk menipu kita!! Memangnya apa salah Sanji
padanya!? Wanita sialan!!"
Di kamarnya, di hadapan Reiju yang
terikat mahkluk lendir bertopi miliknya, Pudding terus tertawa,
"Hahaha!! Kalian semua terlalu naif!! Tentara Iblis?? Tetaplah bermimpi,
orang-orang bodoh!!"
Kaki Pudding telah bersimbah darah...
"Sejak awal yang Mama inginkan hanyalah pasukan klon Germa dan teknologi yang dimilikinya..."
"Kepribadianmu indah sekali, ya..." ucap Reiju dengan nada menyindir.
"Oh, masih bisa bercanda ya? Kalau kau tak punya kata-kata bagus yang mau kau sampaikan, aku tak akan mendengarnya... "
"Oh, masih bisa bercanda ya? Kalau kau tak punya kata-kata bagus yang mau kau sampaikan, aku tak akan mendengarnya...
"Seluruh Kerajaan Germa saat ini berada di wilayah kekuasaan kami.
Terima kasih pada kalian semua, orang-orang bodoh yang sudah diundang ke
pesta pernikahan politik Sanji. kami akan membunuh semua Keluarga
Vinsmoke pada hari pernikahan besok.."
Petir menyambar di luar sana, menghancurkan apa yang di sambarnya, hancur berkeping-kepin g sama seperti hati Sanji saat ini...
Saat ini...
Bahkan secerca harapan itu pun sudah tak ia miliki lagi
Bahkan secerca harapan itu pun sudah tak ia miliki lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar