DAFTAR ISI

Senin, Februari 06, 2017

One Piece Chapter 852

Ruang medis Whole Cake Island, dokter yang mengecek kondisi Reiju tampak terkagum-kagum oleh kekuatan dan kemampuan menyembuhkan diri perempuan itu. "Kulitnya keras sekali, dan kemampuan menyembuhkan dirinya sungguh luar biasa. Jadi ini manusia modifikasi Germa, eh..."

"Kalau dia beristirahat dengan baik," ucap dokter, "Dia pasti bisa menghadiri Pesta Teh yang akan dilaksanakan besok. Beritahu Keluarga Vinsmoke kalau dia akan tetap menginap di sini malam ini, mereka pasti khawatir..."

"Siap pak!!" ucap prajurit kue.

"Kalau begitu sekarang aku akan pergi mengecek pasien di lantai 4.."
"Baik pak!!"

Dokter pergi ke lantai 4, sementara prajurit pergi menuju kediaman Germa. Lalu diam-diam setelah mereka pergi, Sanji masuk. Pakaiannya masih basah oleh hujan di luar, menandakan ini merupakan prioritasnya.

Sanji duduk di kursi seberang tempat Reiju berbaring, dan perempuan itu langsung membuka matanya, lalu bangun duduk. "Sanji?"

Prajurit kue yang berjaga di luar telah diikat, mata ditutup dan mulut dibekap.

Reiju tampak kebingungan, ia membuka selimutnya dan melihat pahanya telah diperban. "Kakiku... Aku sedang berjalan-jalan di kastil, lalu ada prajurit yang mengejar-ngejar
penyusup, dan aku tidak sengaja kena tembak?"

"Kau tak bisa mengingatnya dengan benar, ingatanmu telah diubah.." ucap Sanji.
"Eh?"

"Aku akan memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi..."

Di Perpustakaan Tahanan, Jinbe menggunakan api untuk membakar buku yang menahan Luffy. Tak hanya Luffy, tahanan-tahanan lain pun dapat keluar dari sana, tapi mereka kepanasan.

"Panaas!! Panaass!!"
Jinbe membantu Luffy danNami dengan menyirami air jalan mereka, "Luffy!! Nami!!"

Pada akhirnya, Luffy dan Nami berhasil menerobos api itu. Sementara tawanan-tawanan lain tergeletak hangus.

"Haaaaahh!! Kita berhasil!!" Luffy menjerit.
"Haah... Haah... Kurasa kita pernah mengalami sesuatu seperti ini sebelumnya.." ucap Nami.

"Maafkan aku, tapi satu-satunya cara untuk mengeluarkan kalian memang hanya dengan membakar buku Mont d'Or.." ucap Jinbe.

"Shishishi!! Aku jadi tak harus memutus tanganku, terima kasih Jinbe!!"

"Ngomong-ngomong, kita bertemu pertama kali juga di penjara, kan? Lihat, ada banyak sekali tahanan di buku itu selain kalian berdua. Kemampuan dunia bukunya sama tak terbatasnya dengan imajinasinya. Big Mom memiliki banyak sekali anak buah berkemampuan hebat..."

"Terima kasih, Jinbe..." ucap Nami, sambil memperbaiki pakaianya yang hampir lepas. "Tapi kenapa kau ada di pulau ini?"

"Ah, yah, Bajak Laut Matahari tempatku bernaung juga salah satu kru di bawah Big Mom..." ucap Jinbe.

"Eeeeeh!?" Nami dan Luffy baru tahu.

"Berarti... Berarti ini..." Nami menunjuk Opera yang sudah tergeletak pingsan.
"Yah, pemberontakan, mau bagaimana lagi!! Wahhahhahha!!"

"Jadi yang kau maksud dengan urusan yang belum selesai waktu di Pulau Manusia Ikan itu..."
"Ya, aku baru aja menyelesaikannya!!" ucap Jinbe.

Prajurit dari luar kemudian berdatangan. "Kami mendengar teriakan dari Perpustakaan Tahanan, apa yag sebenarnya terjadi!?"

"Ya ampun, mereka cepat sekali..." ucap Jinbe. "Pertama-tama kita harus bersembunyi di tempat yang tak akan mereka ketahui!!"

"Whoaaaa..." mendadak Luffy ambruk, "Aku... Lapar sekali..."

Saking laparnya Luffy sampai tak bisa bergerak.

"Kau tetap menghawatirkan perutmu bahkan di saat seperti ini!?"
"Yah... Luffy diam saja membutuhkan asupan energi tiga kali lebih banyak dari manusia normal..."

"Aku lapar... Tapi aku tidak mau makan!!!"

Luffy tetap ingat pada janjinya untuk tidak makan selain masakan Sanji. Luffy berusaha ekuat tenaga untuk berdiri. "Terima kasih, Jinbe, saat ini kondisinya sangat buruk!! Aku dan Sanji sama-sama ditipu!! Aku harus memberitahunya!!"

"Jaga Nami baik-baik ya, Jinbe!!"

Luffy lalu berlari melesat, menerobos para penjaga yang berdatangan.
"Eeeh!?"

"Luffy!! Tunggu!! Kastil ini dipenuhi orang-orang kuat!!"
"Luffy!! Apa kau sudah lupa apa yang terjadi pagi ini, hah!?"

Luffy tak peduli, dan ia sudah pergi.

Kembali ke ruang kesehatan, Sanji telah menceritakan semuanya...

"Kau percaya padaku?" Sanji bertanya.
"Tentu saja, selama ini kau tak pernah membohongiku.." ucap Reiju.

"Aku memang sudah curiga, tapi siapa sangka dia berbuat sampai sejauh itu..." ucap Reiju lagi. "Dia terlihat terlalu baik, makanya aku pergi mengawasinya..."

"Sejak awal," ucap Sanji, "Dia memang berencana untuk membunuh kita semua. Berkata kalau dia akan mengampuni Luffy dan yang lainnya kalau aku menikahinya, itu semua juga bohong, kan!? Aku benar-benar berpikir kalau aku bisa menyelamatkan semuanya dengan mengorbankan diriku sendiri, lucu sekali!!"

Sanji menunduk, menutupi wajahnya dan terlihat begitu frustrasi.

"Bahkan ayah kita... Dia juga terlalu menganggap remeh hal ini," ucap Reiju. "Tapi kurasa ini lebih baik, kupikir Germa memang seharusnya mati saja di sini, saat ini.."

"Eh?"

"Aku akan berpura-pura tidak tahu soal ini, dan membiarkan rencana Big Mom berjalan.." ucap Reiju.

"Bicara apa kau, hah!? Kau juga akan mati, Reiju!!"

"Oh? Jadi kau menghawatirkanku? Kurasa kenangan terakhir kita agak merepotkan ya, kau tak perlu merasa berutang budi atau semacamnya karena dulu aku menyelamatkanmu... Kau pergi saja, bersama Topi Jerami, Sanji..."

"Hah!? Walau begitu, lalu apa yang akan terjadi pada Baratie!?"

"Khawatirkan itu nanti, kalau kau di sini tetap saja kau dan semuanya akan mati." ucap Reiju. "Ada satu kenangan yang sama sekali tak bisa kulupakan dari ingatanku. Perdebatan besar ibu dan ayah. Aku baru menyadari dampaknya jauh setelahnya..."

"Ibu sangat menentang keinginan ayah untuk membuat kalia berempat," ucap Reiju. "Membuat keempat putranya yang akan lahir menjadi mesin tanpa perasaan..."

"Hentikan!!" teriak ibu Sanji waktu itu, ia membentak Judge. "Mereka adalah putra-putraku!! Kalau kau merampas hati mereka, mereka bahkan tak akan bisa disebut manusia lagi!!"

"Biarkan saja mereka menjadi monster!!" Judge membentak, "Selama mereka bisa memenangkan perang!! Aku akan memberi anak-anakku kekuatan terhebat!!"

"Ibu dipaksa untuk melakukan operasi, tapi untuk menghentikan ambisi liar ayah, Ibu meminum obat. Obat yang sangat kuat dan mampu mempengaruhi garis darah yang sudah dimanipulasi dalam dirinya... Tapi, satu per satu ketiga saudaramu mulai memperlihatkan kemampuan super mereka..."

Dan begitulah, ketiga saudara Sanji mulai memperlihatkan tanda-tanda kekuatan mereka sebagai manusia super. Awalnya Judge masih sabar menunggu, tapi lama kelamaan...

"Sanji memberi makan binatang!? Itu adalah tanda-tanda perasaan, harusnya ia tidak memilikinya!!"

"Lalu setelah itu, kondisi Ibu mulai melemah, semakin lemah sebagai bagian dari efek samping obat yang diminumnya. Dan makin hari, kau semakin tumbuh menjadi manusia yang baik..."

"Berarti... Akulah alasan ibu..."

"Jangan berpikir seperti itu!!" Reiju membentak. "Ibu sangat senang, dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak menyesal sama sekali!!"

Dengan wajah berseri-seri, ibu mereka bahkan sering bercerita pada Reiju soal Sanji. Tentang Sanji yang membawakannya kotak makanan, perempuan itu terlihat sangat bahagia.

"Reiju," waktu itu ibunya sempat bercerita, "Tahu tidak, Sanji sempat berkata padaku, cepat sembuh ya! Huwaaaaaaa!!! Dia putra terbaik di dunia!!"

Ibunya sampai menjerit terharu.

"Tapi ayah tidak menganggap hal itu," ucap Reiju. "Dia malah semakin menyalahkanmu atas semuanya dan menjadi semakin keras padamu!!"

"Dia berkata kalau kau adalah kegagalan, tapi itu tidak benar. Kau adalah anak yang Ibu lindungi dengan hidupnya sendiri, satu-satunya yang terlahir dengan perasaan. Kaulah orangnya, Sanji, dan karena itulah kau lebih baik dari siapa pun.."

Prajurit terus mengejar Luffy..

"Ke mana dia pergi!?"

"Kelihatannya kita sudah melewati lantai pertama Perpustakaan Tahanan!!"
"Menuju Lantai dua!!"

Luffy melesat dan mencekik seorang pria bertubuh besar, "Cepat katakan, sialan!! Di mana Sanji berada!?"

Di depan ruang harta...

"Ada masalah lagi!?" Smoothie kaget mendengar laporan penjaga.
"Lalu... Ada Boss Jinbe juga di dalam kastil.."

"Pemberontakan!?"

"Laporkan hal ini pada semua prajurit!!"
"Baik!!"

"Kalau kita melaporkan hal buruk lagi pada Mama, rencana besok bisa-bisa terpengaruh.." Smoothie berbisik pada penjaga tadi.
"Benar..."

"Mama sudah menunggu-nunggu sekali acara besok..."
"Benar..."

"Menurutmu apa yang akan terjadi kalau acara besok sampai gagal??"
"Y-Yang tak terpikirkan!!!"

"Ini lantai 4!! Tutup semua koridor yang menuju ke sini, dan urus penyusup yang berada di lantai bawah!!"

"Mengerti!!"

"Kalau mau cepat, kurasa membunuh mereka lebih baik daripada menangkap..."
"Baik, terserah apa maumu aku izinkan!!"

"Siap!!"

Kembali ke Reiju...

"Lupakan Germa dan pergilah dari sini, Sanji... Germa hanyalah penghancur, dunia tak membutuhkan orang-orang seperti mereka. Yang Big Mom butuhkan adalah teknologi, dia tak akan peduli pada yang lain... Dan kurasa Germa memang pantas mati, kami adalah kawanan pembunuh..."

"Aku juga benci dengan mereka!! Tapi aku tak mau kau ikut mati juga!!" ucap Sanji.

"Aku memiliki perasaan, tapi aku sudah dimodifikasi supaya tak bisa menolak perintah Ayah. Aku hanyalah alat. Tanganku penuh noda, aku juga pantas mati.."

"Oh, dan satu hal lagi," ucap Reiju, "Gelang yang kau pakai itu, itu tak akan meledak atau semacamnya, aku menukarnya dengan yang palsu.. Jadi apa ada alasan lain bagimu untuk tidak meninggalkan pulau ini?"

"Kau harus memikirkannya, Sanji!! Pikirkan apa yang paling penting bagimu!! Kau tak akan bisa bertemu orang-orang hebat lagi seperti saat ini, kau harus terus hidup!!"

Sementara Luffy terus menerobos pasukan musuh, "Minggir!!!!!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar