DAFTAR ISI

Kamis, Juli 02, 2015

bleach chapter 609

"Tiap kali aku melepas Ichimonji, apakah itu shinigami atau Quincy, makhluk hidup atau sudah mati, semua yang "hitam" di dunia ini adalah milikku."

Yhwach sempat tak bergeming saat telinganya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut sang Biksu. Namun, sedetik kemudian dirinya kembali sadar bila dia sedang berdiri di medang pertarungan. Pun begitu, semua terlambat. Ichibe telah mengayunkan kuasnya. Tinta hitam kembali bercecer ke segala, seakan dia pikir yang ada di sekelilingnya itu hanyalah kertas gambar.

Kekuatan hitam menyelimuti Yhwach. Seluruh tubuhnya bermandikan oleh tinta Ichimonji.

"Apa pun yang dilumuri tinta Ichimonji akan kehilangan nama."

Ucapan Ichibe kembali terngiang di telingan Yhwach. Bukan, bahkan dirinya sudah mulai tak mengenali dirinya sendiri. Dia telah kehilangan nama, kehilangan sosok dirinya sebagai pemimpin Quincy, melupakan semua kekuatan yang pernah dia miliki selama seribu tahun ini.

Ichibe hanya menyeringai di atas kediaman Yhwach. Kemenangan sudah berada dalam genggamannya, setidaknya itulah yang berada dalam pikiran sang biksu. Namun, dia masih belum mau menyudahi pertarungan ini. Hukuman atas kelancangan yang dilakukan oleh Yhwach masih belum dia berikan.

"Yhwach..." Ucap Ichibe dengan seringai lebar. "Oh bukan, bukan, lebih tepatnya, orang yang dulu bernama "Yhwach". Pasti sakit ya rasanya kehilangan nama."

"Jadi, biar kuberikan padamu Nama baru." Teriak Ichibe.

Sang Biksu meningkatkan Reiatsunya, memusatkan segala reiatsu yang dia kumpulkan pada Ichimonji miliknya. Ichimonji bergetar penuh akan reiatsu sang pemilik.

"Shinuchi, Shirafude Ichimonji." Gumam Ichibe.

Mata sang Quincy hanya terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh sang lawan. Tubuhnya tak berdaya karena kehilangan kekuatan. Bahkan untuk bicarapun dia tak punya kuasa. Ichimonji kembali berubah. Tak ada lagi bilah pedang, zanpakutou itu kembali menjadi kuas. Namun, sedikit berbeda, tinta hitam yang selalu berceceran kini berganti menjadi tinta putih. Yah, bagaimanapun namanya adalah Shirafude, yang berarti kuas putih.

"Hmm, kalau istilah anak zaman sekarang bisebutnya "bankai", ya?" Gumam Ichibe sembari mengayun-anyunkan kuasnya, menulis kanji di hadapannya. "Jauh sebelum ada istilah "bankai" kami biasanya sebut ini "evolusi zanpakutou"."

"Pedang ini punya kemampuan memberikan nama baru pada segala hal yang dihitamkan Ichimonji."

Ichibe hanya tersenyum, sebuah Kanji yang terbaca Kuroari tercipta di hadapannya. Dengan sekali ayun, Kanji yang berartikan Semut Hitam itu melesat ke arah Yhwach.

"Jadi gimana rasanya?" Tanya Ichibe sembari mengejek ketidak berdayaan lawannya. "Orang yang dulu dipanggil "Yhwach"?. Semut Hitam."

"Kemampuanmu sekarang setara dengan semut di tanah itu, yang hidup dalam kerapuhan dan kefanaan" Ucap Ichibe.

"I.. ini?. Sampai sejauh ini...." Yhwach akhirnya punya kekuatan untuk bicara.

"Ya, sejauh inilah." Ucap Ichibe. "Sejauh inilah beda kemampuanmu."

Ichibe kembali mengumpulkan reiatsunya, pusaran angin kembali terasa saat reiatsu di sekelilingnya menguap bersama dengan amarah di kepalanya.

"Dan juga cuma sejauh inilah kehidupanmu." Teriak Ichibe. "Tanggung lah beban semua shinigami yang sudah kau bunuh."

Ichibe mengangkat kakinya. Seperti teknik yang dia lakukan sebelumnya. Sang Biksu menciptakan kaki raksasa dari pecahan reishi yang ada di sekitarnya. Dengan sekali injak, Tubuh Yhwach terpental sangat jauh.

Senri Tsuutenshou. Ya, teknik yang sempat dia gunakan untuk melempar Yhwach sebelum ini. Namun, kali ini jauh lebih kuat, pijakan kaki raksasa itu bahkan menghancurkan bagian kecil dari Istana Raja Roh.

"Dan seperti semut hitam yang kecil?" Ichibe kembali berteriak. "Matilah terinjak-injak."

Ledakan Reiatsu itu mengguncang seluruh Istana Raja. Ichibe benar-benar berada dalam puncak amarahnya. Dia benar-benar ingin menyudahi semua kekacauan yang ada ini. Tak ada waktu lagi untuk pada penyusup yang telah lancang. Tidak pernah ada.

Reioukyuu masih bergetar karena goncangan serangan Ichibe. Bahkan Jugram yang selama ini terlihat tenang terlihat begitu panik. Matanya membelalak begitu melihat Tuannya terinjak-injak oleh Kaki Ichibe. Dia mencoba tenang, mencoba percaya pada kemuliaan sang tuannya.

Namun, iris beningnya tak dapat menutupi semua kegundahan dan kekhawatiran yang mengisi kepalanya.

"Oh kaisar para serangga?"

Ichibe masih belum selesai, dia masih belum puas bila hanya menginjaknya. Dia kembali menciptakan dua telapak tangan raksasa untuk mengapit Yhwach. Dalam satu hitungan, Ichibe langsung menebuk Yhwach, menghantam tubuh tak berdaya itu bagai seekor nyamuk.

"?Selamat tinggal!"

?

"Aku tak menduga..." Yhwach bergumam lemah saat tubuhnya melayang jatuh.

Namun, reiatsu dalam tubuhnya semakin meningkat. Kelopak matanya membuka perlahan.

"Aku bisa melihat sejauh ini walau mataku masih terpejam." Gumamnya masih lemah.

Matanya menyipit, iris matanya bergerak cepat ke kanan-kiri hingga pada akhirnya pupil matanya berubah menjadi dua. Ya, entah bagaimana harus dijelaskan, mata sang Raja Quincy itu terlihat mempunyai dua Iris, mempunyai dua buah pupil untuk memfokuskan penglihatannya.

Dan, sebuah ledakan kembali terdengar.

Bukan Ichibe dengan jurusnya, melainkan Yhwach yang meledakkan pijakan di samping Ichibe. Ichibe terlalu meremehkan. Dia tak sempat untuk mengelak, sebuah pedang reishi berhasil menembus dada sang biksu.

"Kau belum mati juga...?!" Gumam Ichibe tak percaya.

Semua kesombongan sang biksu langsung sirna, matanya membelalak begitu melihat hurus kanji yang bertuliskan Semut Hitam itu terkelupan begitu saja. Bahkan, tinta hitam yang menyelimuti tubuh Yhwach pun mencair, sirna tanpa bekas.

"Mustahil... Huruf-hurufnya?" Ketidakpercayaan itu masih tak pergi dari tubuh Ichibe.

Jugram yang menyaksikan pertarungan itu sedikit tersenyum, ketidakraguannya benar.

"Kekuatan Yang Mulia adalah kekuatan yang memungkinkan dia memahami segala sesuatu dari segala sudut pandang." Gumam Jugram pelan. "Jadi, pemahaman itu membuatnya mustahil dikalahkan. Huruf "A" yang menandakan kekuatannya?"

"?The Almighty"

Dunia hitam telah runtuh, kini hanya menyisakan sosok sang pembasmi suci. Pertarungan belum mendekati akhir. Melainkan menjadi awal dari petarungan yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar